Business is booming.

Jejak Karier Pangkostrad Letjen TNI Dudung Abdurachman, Terlama Saat Pangkat Letkol

Dudung Abdurachman Populer Namanya Saat Menjadi Pangdam Jaya

Letnan Jendral TNI Dudung Abdurahman baru saja naik pangkat dengan bintang tiga.

Letjen TNI Dudung menggantikan Letjen TNI Eko Margiyono sebagai Pangkostrad.

Eko Margiyono yang juga mantan Pangdam Jaya sebelum Dudung bergeser menjadi Kasum TNI.

Letnan Jenderal TNI Dudung Abdurachman lahir di Bandung, Jawa Barat, 16 November 1965 ( umur 55 tahun).

Sejak 25 Mei 2021 mengemban amanat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat.

Dudung, merupakan lulusan Akmil 1988 dari kecabangan Infanteri.

Selama 32 tahun mengabdi, nama Dudung mulai popular sejak menjabat Pangdam Jaya 27 Juli 2020 – 25 Mei 2021.

Saat itu sedang ramai baliho Habib Rizieq Shihab beredar dimana-mana.

Satpol PP tak berdaya sementara keresahan di masyarakat muncul.

Dudung pun turun tangan menurunkan pasukan TNI menyertai Satpol PP menurunkan Baliho Rizieq di wilayahnya.

Sejak itu taka da yang berani lagi memasang Baliho hingga akhirnya FPI dibubarkan pemerintah.

Dudung Abdurachman ternyata masih keturunan Sunan Gunung Jati dari P.

Sumbu Mangkurat Sari memiliki putra (P. Syeikh Pasiraga) Depok, Cirebon dari jalur cicitnya yang bernama Muharom Wira Subrata.

Dudung Abdurachman dilahirkan di Bandung, 19 November 1965 merupakan putra dari pasangan Bapak Nasuha dan Ibu Nasyati PNS di lingkungan Bekangdam III/Siliwangi.

Mengawali dengan menceritakan pengalamannya dari SMP sampai dengan saat ini.

Ia Menyelesaikan sekolah dari SD sampai SMA di Kota Bandung (1972—1985).

Ia lulus SMA pada tahun 1985 dan kemudian ia mendaftarkan diri di Akabri Darat.

Baca Juga:  Daftar Promosi dan Mutasi 80 Pati TNI Per Tanggal 22 Mei 2021

Tak semulus yang orang bayangkan, perjalanan Mayjen TNI Dudung hingga akhirnya menjadi seorang perwira dimulai dari nol.

Dikutip dari YouTube KompasTV yang tayang 27 Juni 2020, dirinya mengisahkan soal perjuangan orang tuanya yang membesarkan kedelapan saudara-saudaranya, termasuk dirinya.

Ayahnya adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), tapi meninggal dunia saat Mayjen TNI Dudung menginjak SMP.

“Setelah bapak nggak ada ya ibu berjualan kue, kerupuk, terasi,” katanya.

Dirinya pun juga berkewajiban untuk membantu sang ibu, hingga mencari kebutuhan yang dibutuhkan rumah.

“Saya harus cari kayu bakar dekat rumah dan keliling di asrama jualan,” tuturnya.

Dudung juga berkisah pernah menjadi loper koran saat duduk di bangku SMA.

“Jadi pagi saya ambil koran, saya baca-baca dulu koran itu terutama Kompas, saya paling seneng tajuk rencana Kompas,” katanya.

Dudung bercerita sehabis rutinitasnya mengantar koran selesai, ia menjajakan berbagai dagangan buatan ibundanya.

Lantas kejadian unik pun terjadi saat dagangan ibunya yang dijajakan ditendang seorang anggota TNI.

Hingga akhirnya oknum tamtama itu mendapat teguran karena telah berlaku buruk terhadap dirinya.

Kejadian tersebut justru menjadi motivasi serta semangat bagi Dudung, hingga ia mulai bangkit dan semangat.

“Awas nanti saya bilang, saya jadi perwira nanti saya.”

Rupanya motivasi tersebut terealisasi bahkan hingga saat ini dirinya suskes menjadi seorang Perwira TNI AD.

Dan jika dilihat dari jejak kariernya pangkat terlama disandang Dudung saat menjadi letkol.

Ia menjabat Lektol selama 8 tahun dari Komandan Yonif 143/Tri Wira Eka Jaya (2002—2004) hingga Pabandya 3/Diaga Mabesad (2009—2010)

Setelah menjabat bintang satu alias Brigjen, pangkatnya lancar, selama 5 tahun menjadi bintang 3 dimana masa pensiunnya masih relative lama yakni 3 tahun lagi.

Baca Juga:  Jejak Karier Mayjen TNI Maruli Simanjuntak, Akmil 1992, dari Danpaspamres Kini Pangdam Udayana

Jejak Karier Dudung Abdurachman

Letnan Dua s/d Letnan Satu
Komandan Peleton III Kompi B Yonif 744/Satya Yudha Bakti (1989—1992)
Komandan Peleton II Kompi B Yonif 744/Satya Yudha Bakti (1992—1993)
Komandan Peleton I Kompi B Yonif 744/Satya Yudha Bakti (1993—1994)
Kepala Seksi 2 Yonif 741/Satya Bhakti Wirottama (1994—1995)

Kapten
Komandan Kompi Senapan A Yonif 741/Satya Bhakti Wirottama (1995)
Komandan Kelas Satdik Sarcab PK Pusdikif Pussenif (1995—1998)

Mayor
Wakil Komandan Yonif 410/Alugoro (1998—1999)
Wakil Komandan Yonif 401/Banteng Raider (1999—2000)
Kepala Staf Kodim 0733/Berdiri Sendiri Semarang (2000—2002)
Perwira Pembantu Madya Operasi Kodam II/Sriwijaya (2002)

Letnan Kolonel
Komandan Yonif 143/Tri Wira Eka Jaya (2002—2004)
Komandan Kodim 0406/Musi Rawas (2004—2006)
Komandan Kodim 0418/Palembang (2006—2008)
Pabandya 2/Lurjahril Mabesad (2008—2009)
Pabandya 3/Diaga Mabesad (2009—2010)

Kolonel
Aspers Kasdam VII/Wirabuana (2010—2011)
Komandan Resimen Induk (Danrindam) Kodam II/Sriwijaya (2011—2012)
Paban 1/Ren Spersad (2012—2013)
Paban 1/Ren Spers TNI (2013—2014)
Pamen Denma Mabes TNI (2014—2015)
Dandenma Mabes TNI (2015)

Brigadir Jenderal
Wakil Gubernur Akademi Militer (2015—2016)
Staf Khusus Kasad (2016—2017)
Waaster Kasad[4] (2017—2018)

Mayor Jenderal
Gubernur Akademi Militer (2018—2020)
Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Jaya (2020—2021)

Letnan Jenderal

Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) (2021 sampai sekarang)

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...