Business is booming.

Klitih Merajalela, Hastag Yogya Tidak Aman Menggema, Benarkah?

Hati-hati ya gais terutama yang lagi berwisata di Yogyakarta,jangan keluar malam-malam

Tagar Yogya Tidak Aman atau #YogyaTidakAman trending.

Hal itu terkait merajalelanya klitih, kelompok remaja, yang kerap berkeliaran di malam hari.

Awalnya fenomena Klitih hanya persaingan antar geng remaja, belakangan dianggap mengincar siapa saja di malam hari.

Karena itu membuat Yogya tidak aman.

Menjelang libur Natal dan Tahun baru (Nataru), Yogya dikenal sebagai salah satu destinasi wisata favorit.

Merajalelanya Klitih dan #YogyaTidakAman menjadi salah satu hal yang diperdebatkan.

Sesuai faktakah atau ada kelompok tertentu yang ingin membuat Yogya bercitra buruk.

Berikut cuitan sejumlah netizen tentang Klitih dan #YogyaTidakAman.

@Puthutea: Naikkan tagar #SriSultanYogyaDaruratKlithih. Biar gubernur Yogya turun tangan. Berpuluh tahun masalah yg meresahkan masyarakat terjadi, byk korban jiwa, tp pemda tak melakukan tindakan yg jelas. #YogyaTidakAman

@bagaswatama_Jogja hanya (tampak) aman di Jl. Mangkubumi, dan Malioboro saja. Coba agak geser ke daerah sekitarnya dalam radius 1km saja dari titik itu, sudah tidak ada rasa aman. Semoga hal ini menjadi perhatian pihak berwenang.

@uservesmet: Hati-hati ya gais terutama yang lagi berwisata di Yogyakarta,jangan keluar malam-malam. #YogyaTidakAman

@ArjunsBoya: Klitih, dgn alasan apapun tak boleh dibiarkan. Jangan sampai tagar #YogyaTidakAman terus2an muncul, hnya krn “budaya” #Klitih ini.

@infotwitwor__: #YogyaTidakAman. Mending jangan ke Jogja dulu deh kalau klitih belum dibasmi. Dari dulu kayak gini ga dinormalisasi terus. Mungkin kalau pariwisata atau bisnis kerajaan disenggol, baru yg di dalem pagar besi mau keluar.

@kvnrzprtm: Padahal aku belum pernah kesana, ingin rasanya aku ke joga ke mallioboro . rencana taun depan bisa ke yogya lah malah jogja gak aman . #YogyaTidakAman

Baca Juga:  Chanique Rabe dari Namibia, Pemenang Miss Supranational 2021

@inipando: Ayo kumpulkan penduduk buat razia klitih. Bocil keluar malam langsung sikat aja tanpa babibu. Telikung dan arak ke balai desa. Selama pandemi aja bisa nutup jalan² kok. #SriSultanYogyaDaruratKlitih

@sera_tuyo: Saya heran, knp Kapolda DIY tidak memprioritaskan pemberantasan klithih sebagai programnya? Melihat skala fenomenanya, klithih bukan hal yang terlalu rumit untuk diatasi oleh polisi

@brigittasiw: Nendi kabeh kae akun romantisisasi pas ono kasus klitih ngene iki hah #YogyaTidakAman

@haannn2002: #YogyaTidakAman Cocote lek,aku moco² daerah sing rawan ro klitih. Tiba’e nggonku yo rawan o cuk. Wis ngono yo cerak ro kampus. Wiss jyaannn,nek ngene ki wis males tenan. Aparat,pemda ra enek sing gerak. Kudu rakyaté sik sing ngantemi ben podo gerak. Njuk sing disalahke? Rakyate

@telooo08: Kenapa Yogyakarta yang notabene daerah istimewa dengan budaya yang kental masih banyak yang jadi psikopat (klitih) ?

@Mr_Goobell: Jika sya melihat #YogyaTidakAman & isu klitih ini jelas klompok teroganisir u/ Menghancurkan keistimewaan yogyakarta, menurunkan pamor Sri Sultan, ada mafia disini agar bagaimana Jogja Tdk Istimewa&akhirnya Sistem Keistimewaan dgnti Menjadi sistem pemerintah biasa.

@BuruhYogyakarta: Pihak berwenang tidak menindak tegas = membiarkan = ikut berperan? #YogyaTidakAman

@Sumbogo8: Yang bilang #YogyaTidakAman itu hanya orang2 yang pengen nama Jogja rusak dan mungkin punya kepentingan terselubung. Saya warga Jogja, hampir tiap hari saya pulang malam, bahkan kadang sampe dini hari, Alhamdulillah aman.
@belummandipagi: Pendapat kayak gini tuh bias banget tau nggak. Hanya karena njenengan gak pernah ngalamin, bukan berarti kasus klitih itu gak ada. Dunia gak hanya berputar di diri Anda tok Korbannya dah banyak. Perlu kebijakan khusus untuk menangani klitih. #YogyaTidakAman

Fenomena Klitih

Baca Juga:  Selamat Datang November 2021, Ini 30 Kutipan yang Bisa Dibagikan

Menurut Wikipedia, Klitih merupakan salah satu fenomena sosial yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan daerah sekitarnya (terutama Klaten dan Magelang).

Fenomena ini terjadi pada umumnya terhadap anak muda usia 14-19 tahun yang merupakan pelajar Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas.

Pada umumnya, pelaku klitih akan mengincar target, merupakan siswa SMA pesaing atau anggota geng pesaing di daerah yang dianggap sepi kemudian pelaku melakukan perundungan (bullying) secara fisik terhadap pelaku.

Terkadang pelaku juga mengambil barang milik korban bahkan termasuk harta benda sehingga terkadang kejahatan ini termasuk perampokan.

Tidak jarang juga korban klitih juga meninggal dunia akibat menderita siksaan fisik yang cukup parah.

Klitih berasal dari bahasa Jawa yang berarti suatu aktivitas mencari angin di luar rumah atau keluyuran.

Ada juga yang menyebut klitih merupakan penyebutan terhadap Pasar Klitikan Yogyakarta di mana artinya adalah melakukan aktivitas yang tidak jelas dan bersifat santai sambil mencari barang bekas dan Klitikan.

Menurut sosiolog kriminal Universitas Gadjah Mada (UGM) Suprapto, klitih sebenarnya mempunyai makna yang positif.

Klitih merupakan kegiatan untuk mengisi waktu luang.

Namun, makna itu kemudian menjadi negatif ketika kegiatan mengisi waktu luang itu diisi dengan melakukan tindak kejahatan di jalan, menyerang orang lain secara acak tanpa motif yang jelas.

Sementara istilah nglitih digunakan untuk menggambarkan kegiatan jalan-jalan santai.

Akan tetapi, makna klitih kemudian mengalami pergeseran (peyorasi) menjadi aksi kekerasan dengan senjata tajam atau kegiatan kriminalitas anak di bawah umur di luar kelaziman.

Dimulai dari keributan satu remaja berbeda sekolah dengan remaja yang lain kemudian berlanjut dengan melibatkan komunitas masing-masing.

Aksi saling membalas terus terjadi dan menjadi bagian dari budaya urban. Motif klitih bisa sangat beragam dan korban mereka adalah orang yang ditemui secara acak dijalan.

Baca Juga:  Covid-19 Belum Aman, Meski Kasus Positif Turun, Kematian Naik

Klitih terkadang juga dipicu oleh permusuhan antar geng.

Semakin lama, klitih berkembang menjadi kegiatan perampokan yang dilakukan oleh sekelompok geng (premanisme) yang targetnya berkembang dari geng musuh menjadi masyarakat awam.

Yang paling umum, klitih dilakukan di tempat sepi dan terjadi pada malam hari.

Faktor Politik

Selain itu, Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya merupakan daerah yang merupakan basis persaingan politik yang penting di Indonesia, terutama oleh aliran politik nasionalis dan agamais.

Budaya kekerasan yang dilakukan oleh pelajar di Yogyakarta sudah ada sejak era 1980-an dan 1990-an.

Kekerasan yang dilakukan pelajar pada masa itu dilakukan oleh dua geng besar yang legendaris yaitu QZRUH dan JOXZIN.

QZRUH sendiri merupakan kepanjangan dari “Q-ta Zuka Ribut Untuk Tawuran (atau Hiburan) “.
QZRUH sendiri memiliki daerah kekuasaan di Kota Yogyakarta bagian utara terutama di kawasan Terban dan sekitar Jalan Magelang.

Sementara JOXZIN merupakan singkatan dari Joxo Zinthing atau Pojox Benzin (pojokan SPBU Kantor Pos Besar) atau Jogja Zindikat.

Geng ini “menguasai” kawasan Jalan Malioboro hingga Yogyakarta bagian selatan.

Qzruh sendiri dalam sejarahnya selalu didukung oleh kelompok politik yang cenderung nasionalis (dahulu diasosiasikan sebagai pendukung PDI atau Golkar) sedangkan Joxzin sendiri didukung oleh kelompok politik yang cenderung bernuansa agamis (dahulu diasosiasikan sebagai pendukung PPP atau PDI).

Tidak jarang pula, kedua kelompok ini memiliki afiliasi dengan beberapa geng sekolah yang ada di kawasan kekuasaan mereka.

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...