Business is booming.

Mbah Nun Berusia 69 Tahun, Masih Protif Berkarya, Disebut Manusia Multi Dimensi

“Sugeng ambal warsa Mbah Nun, Sehat selalu untuk temani kami anak-cucumu menyibak gulita ini,”

Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun atau kini biasa dipanggil Mbah Nun berulang tahun ke-69.

Hastag 69 Tahun Mbah Nun atau #69TahunMbahNun pun trending topic.

“Sugeng ambal warsa Mbah Nun, Sehat selalu untuk temani kami anak-cucumu menyibak gulita ini,” tulis akun @tetestuang.

“Sugeng ambal warso Mbah tetaplah jd Mbah kami semua sampai kapanpun #69TahunMbahNun,”kata @mbumi19

“Wilujeng #69TahunMbahNun… Berkah, Haturnuhun Mbah…” tulis @Nastain

“Simbah nun …. i love u full …. #69TahunMbahNun,” sebut @EkoDARTO

Ya Emha Ainun Nadjib terkenal sebagai penulis dan cendekiawan muslim sejak muda.

Sejak jaman orde baru dengan panggilan Cak Nun saat itu, tulisanya sudah banyak dikenal.

Cak Nun bukan saja seorang cendekiawan muda namun juga seorang cendekiawan kritis.

Hebatnya meski kritis, terutama terhadap penguasa, ia selalu pandai menempatkan posisinya.

Jika saat muda terkenal dengan tulisan-tulisannya essainya, nama Cak Nun tetap menggaung dengan ceramah-ceramahnya di media sosial.

Ia dikenal sangat produktif berkarya seolah tak lekang di makan usia.

Ragam dan cakupan tema pemikiran, ilmu, dan kegiatan Cak Nun sangat luas.

Seperti dalam bidang sastra, teater, tafsir, tasawwuf, musik, filsafat, pendidikan, kesehatan, Islam, dan lain-lain.

Selain sebagai penulis, ia pun dikenal sebagai seniman, budayawan, penyair, cendekiawan, ilmuwan, sastrawan, aktivis-pekerja sosial, pemikir, dan kyai.

Banyak orang mengatakan Cak Nun adalah manusia multi-dimensi.

Bedanya nama panggilan Cak Nun kini berevolusi menjadi Mbah Nun sesuai usianya.

Cak Nun memiliki akun twitter @caknundotcom dengan nama yang sama juga di instagram dan faccebook.

“Kalau sudah dapat ilmu, gayamu kebarat-bararatan. Kalau sudah merasa alim, gayamu kearab-araban. Jowomu endi?” Demikian Mbak Nun dalam satu ceramahnya.

Baca Juga:  De Gea Trending, Pilih Tergeletak Saat Gawangnya Dibobol Smith Rowe

Profil Mbah Nun

Secara panjang lebar, profil Mbah Nun ditulis oleh Wikipedia.

Muhammad Ainun Nadjib atau Mbah Nun lahir di Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953.

Ia menggunakan beragam media komunikasi dari cetak hingga digital dan sangat produktif dalam berkarya.

Menjelang kejatuhan pemerintahan Soeharto, Cak Nun merupakan salah satu tokoh yang diundang ke Istana Merdeka untuk dimintakan nasihatnya.

Celetukannya diadopsi oleh Soeharto berbunyi “Ora dadi presiden ora pathèken”.

Setelah Reformasi 1998, Cak Nun bersama KiaiKanjeng memfokuskan berkegiatan bersama masyarakat di pelosok Indonesia.

Aktivitasnya berjalan terus dengan menginisiasi Masyarakat Maiyah, yang berkembang di seluruh negeri hingga mancanegara.

Cak Nun bersama KiaiKanjeng dan Masyarakat Maiyah mengajak untuk membuka yang sebelumnya belum pernah dibuka.

Memandang, merumuskan dan mengelola dengan prinsip dan formula yang sebelumnya belum pernah ditemukan dan dipergunakan.

Cak Nun merupakan anak keempat dari 15 bersaudara.

Lahir dari pasangan Muhammad Abdul Latief dan Chalimah.

Ayahnya adalah petani dan tokoh agama (kyai) yang sangat dihormati masyarakat Desa Menturo, Sumobito, Jombang.

Juga seorang pemimpin masyarakat yang menjadi tempat bertanya dan mengadu tentang masalah yang masyarakat hadapi.

Begitu juga ibunya menjadi panutan warga yang memberikan rasa aman dan banyak membantu masyarakat.

Dalam ingatan Cak Nun, ketika ia kecil sering diajak ibunya mengunjungi para tetangga, menanyakan keadaan mereka.

Apakah mereka bisa makan dan menyekolahkan anak.

Pengalaman ini membentuk kesadaran dan sikap sosialnya yang didasarkan nilai-nilai Islam.

Bahwa menolong sesama manusia dari kemiskinan dan membuat mereka mampu berfungsi sebagai manusia seutuhnya, merupakan kunci dalam Islam.

Kakak tertuanya, yaitu Ahmad Fuad Effendy, adalah anggota Dewan Pembina King Abdullah bin Abdul Aziz International Center For Arabic Language (KAICAL) Saudi Arabia.

Paman Cak Nun, adik ayahnya, yaitu almarhum K.H. Hasyim Latief, seorang pendiri Pertanu (Persatuan Tani dan Nelayan NU), ketua PWNU Jawa Timur, wakil Ketua PBNU, wakil Rais Syuriah PBNU, dan Mustasyar PBNU.

Pendidikan formal Cak Nun dimulai dari Sekolah Dasar di desanya.

Baca Juga:  Usai di Tangerang, Konser Iwan Fals Gaung Merah Segalanya Siap Digelar di Yonif PR 305/Karawang

Karena semenjak kecil ia sangat peka atas segala bentuk ketidakadilan, ia sempat dianggap bermasalah oleh para guru karena memprotes dan menendang guru yang dianggapnya tak berlaku adil.

Suatu ketika ada guru terlambat mengajar, dan Cak Nun memprotesnya.

Karena sebelumnya Cak Nun pernah terlambat masuk sekolah dan dihukum berdiri di depan kelas sampai pelajaran usai.

Hukuman itu ia jalani sebagai konsekuensi kesalahannya dan itu merupakan aturan sekolah.

Maka tatkala ada guru terlambat, menurut Cak Nun aturan yang sama harus diberlakukan.

Dan ujungnya, ia keluar dari SD yang dianggapnya menerapkan aturan yang tidak adil itu.

Kemudian oleh ayahnya, ia dikirim ke Pondok Modern Darussalam Gontor.

Pada masa tahun ketiganya di Gontor, Cak Nun sempat menggugat kebijakan pihak keamanan Pondok yang dianggapnya tidak berlaku adil.

Ia pun memimpin “demonstrasi” bersama santri-santri lain sebagai bentuk protes. Namun protes itu berujung pada dikeluarkannya Cak Nun dari Pondok.

Meskipun hanya 2,5 tahun di sana, Gontor memberikan kesan mendalam baginya.

Budaya santri mengakar kuat dalam dirinya sehingga ia memiliki disiplin pesantren.

Kemudian ia pindah ke Yogyakarta melanjutkan sekolah di SMP Muhammadiyah 4 dan selanjutnya tamat SMA Muhammadiyah 1 bersama dengan teman karibnya, Busyro Muqoddas.

Usai SMA, Cak Nun diterima di Fakultas Ekonomi UGM.

Di “kampus biru” ini, ia bertahan hanya satu semester, atau tepatnya empat bulan saja.

Sebenarnya ia juga diterima di Fakultas Filsafat UGM namun tidak mendaftar ulang.

Istrinya, Novia Kolopaking, dikenal sebagai seniman film, panggung, serta penyanyi.

Bersama Novia, ia dikaruniai empat anak, yaitu Ainayya Al-Fatihah (meninggal di dalam kandungan), Aqiela Fadia Haya, Jembar Tahta Aunillah, dan Anayallah Rampak Mayesha.

Sabrang Mowo Damar Panuluh adalah salah satu putranya yang kini tergabung dalam grup band Letto.

Baca Juga:  Leandro Tosaard Mirip Wasit Clement Turpin Jadi Perbincangan

Cak Nun tidak menamatkan kuliah, tetapi ia dipandang sebagai salah satu intelektual terkemuka di Indonesia.

Dekan Fakultas Psikologi UI tahun 1991, Dr. Yaumil Agus Akhir, mengatakan bahwa Cak Nun layak diberi gelar Doktor Honouris Causa, atau bahkan profesor karena pikiran dan wawasannya yang luas dan didukung analisis yang tajam.

Pada usianya yang belum genap 40 tahun, Cak Nun dimasukkan ke dalam jajaran kepengurusan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang dibentuk pada Desember 1990, dipimpin oleh B.J. Habibie.

Terkait hal ini, Cak Nun sejak awal mempertanyakan keterlibatannya di ICMI dengan bersurat langsung ke B.J.

Habibie karena namanya dimasukkan dalam jajaran pengurus ICMI tanpa konfirmasi dan persetujuan resmi darinya.

Cak Nun kemudian menerima dijadikan Ketua Bidang Dialog Kebudayaan, lantaran B.J. Habibie menjanjikan ICMI mampu menyelesaikan persoalan Waduk Kedungombo.

Namun, ICMI tidak berhasil membantu masyarakat Kabupaten Sragen, Boyolali, dan Grobogan, yang tertindas karena tidak mendapatkan ganti rugi tanah yang digunakan Orde Baru untuk pembangunan waduk.

Karena itu, Cak Nun memutuskan keluar dari ICMI.

Pak Kanjeng merupakan naskah Cak Nun, yang dipentaskan untuk mengkritik dan merespons kesemena-menaan penguasa rezim Orde Baru ketika membangun Waduk Kedungombo.

Setelah sebelumnya sangat sulit sekali mendapat izin pentas, tanggal 16 dan 17 November 1993 di Purna Budaya Yogyakarta (sekarang menjadi Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri UGM]), lakon Pak Kanjeng dipentaskan.

Lakon ini memotret perlawanan seorang warga, yaitu Pak Jenggot, dalam menolak pembangunan Waduk Kedungombo di Boyolali, Jawa Tengah.

Pementasan ini ditampilkan dengan bahasa yang sangat deras, keras, tajam, pintar, dan sarkastis.

Pada pertengahan 1990-an ia memanfaatkan media audio-visual.

Bersama KiaiKanjeng, pada 29 April 1996 Cak Nun mementaskan musik puisi Talbiyah Cinta di RCTI untuk menyambut Idul Adha.

Beberapa seniman terlibat seperti Ita Purnamasari, Novia Kolopaking, Gito Rollies, Dewi Gita, Amak Baldjun, Amoroso Katamsi, dan Wiwiek Sipala.

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...