Business is booming.

Perempuan Kebaya Merah Masih Trending, Pakaian Kebaya dari Jawa atau Bali?

Apakah trending Wanita Kebaya Merah dalam adegan dewasa menurunkan peminat terhadap pakaian Kebaya Merah?. Ternyata tidak

Kebaya Merah masih trending. Pakaian tradisional di Indonesia itu dikenakan wanita cantik yang diduga untuk melayani seorang pria hidung belang.

Lokasi adegan perempuan kebaya merah tersebut diduga di Pulau Bali.

Polda Bali kini tengah menyelidiki video tersebut dan hingga pagi ini netizen masih penasaran hingga membuatnya bertahan sebagai trending topic.

Apakah trending Wanita Kebaya Merah dalam adegan dewasa menurunkan peminat terhadap pakaian Kebaya Merah?

Ternyata tidak, trending Kebaya Merah memunculkan nama-nama penjual ternama atau market place Kebaya Merah seperti Lazada, Shopee, Blibli dsb di halaman 01 google.

Trending Kebaya Merah berkonotasi mesum tak menyurutkan minat menggunakan pakaian tradisional itu, Market Place Kebaya Merah bermunculan dalam pencarian google. (Google)

Berikut sejumlah cuitan netizen terhadap Trending Kebaya Merah pagi ini.

@vzxv****: Baru join Twitter, tolong bimbingannya kebaya merah, katanya dunia Twitter sangat mengerikan, menyenangkan dan banyak harta kartun

@6ant****: Oalah kebaya merah itu bokep toh kirain video jumpscare gitu gitu

@Lukmanharij****: Masih pagi baca kebaya merah lg rame… kirain beneran gak tau nya link nya gak ada

@Wow_M****: Kemarin pesulap merah, sekarang kebaya merah,

@kacungm****: Bokep kebaya tuh yang mana sik?!

@rzd****:Yg kebaya merah gue udh liat, asli siih cwonya kyak timbangan cabe

@Berni****:kebaya merah viral versi full nih

@arbikad****: Kebaya merah gtu doank?

@Dima****:: btw ngomong² kebaya merah, dari semalem kok ya belum lewat tl akun sebelah. bagi dong

Kebaya Jawa atau Bali

Dirangkum dari Wikipedia, Kebaya adalah sejenis pakaian bagian atas yang secara tradisional dikenakan oleh wanita di Asia Tenggara, terutama di Indonesia,  Malaysia,  Brunei, dan Singapura.

Selain itu, kebaya juga dikenakan di daerah di luar Asia Tenggara, yakni pemakaian oleh orang Orang Jawa, Melayu dan orang Eurasia Portugis di Kepulauan Cocos, Pulau Natal, pesisir India dan Sri Lanka, Makau serta Afrika Selatan.

Kebaya adalah pakaian bagian atas yang memiliki karakteristik terbuka di bagian depan dan dibuat secara tradisional dari kain ringan seperti brokat, katun, kasa, renda, atau voile, dan terkadang dihiasi dengan sulaman.

Bagian depan diamankan dengan kancing, pin, atau bros.

Sedangkan pakaian bagian bawah untuk pakaian ini biasanya dikenal sebagai sarung, kemben atau sepotong kain panjang yang dililitkan di pinggang dan dapat berupa batik, ikat, songket atau tenun

Baca Juga:  Lirik Lengkap Puisi Butet Kertaredjasa di Panggung PDIP, Dikecam Netizen, Dianggap Bukan Budayawan

Kebaya secara resmi diakui sebagai pakaian nasional dan juga ikon busana Indonesia, meskipun penggunaan kebaya hanya dipakai oleh Jawa, Sunda dan orang Bali secara berkala.

Di Malaysia, Singapura dan Brunei, kenaya diakui sebagai salah satu pakaian etnis terutama di kalangan komunitas etnis Melayu dan Peranakan, dan kebaya biasanya dikenal di wilayah ini sebagai “sarung kebaya” yang berasal dari penamaan komponen lengkapnya.

Sementara, gaya sarung kebaya bervariasi antara satu tempat dengan tempat lainnya didalam cangkupan wilayah tersebut.

Kebaya telah menjadi ikon mode Asia Tenggara, dengan banyak maskapai penerbangan berbendera Asia Tenggara termasuk Singapore Airlines, Malaysia Airlines, Royal Brunei Airlines dan Garuda Indonesia telah mengadopsi pakaian tradisional ini sebagai seragam untuk pramugari perempuan maskapai tersebut.

Istilah “kebaya” diyakini berasal dari kata serapan Arab kaba atau qaba yang berarti “pakaian”.

Istilah ini mungkin berhubungan dengan kata Arab abaya  yang berarti jubah atau garmen longgar.

Istilah tersebut kemudian diperkenalkan ke Nusantara melalui kata serapan dari bahasa Portugis, cabaya.

Ada kemungkinan besar bahwa asal-usul kebaya berasal dari Timur Tengah dikarenakan komposisi akar budayanya.

Hal ini dibuktikan dengan adanya keterkaitan kebaya dengan qaba dari Arab yang merupakan sejenis jubah panjang kendur yang dikemukakan oleh orientalis Henry Yule dan Arthur Burnell pada tahun 1886.

Pakaian-pakaian dari tanah Arab memang sudah dikenal sejak abad ke-7 masehi, beberapa jejak sejarah bahkan menunjukkan bahwa Nabi Islam Muhammad mendapatkan hadiah berupa aqbiya (yang merupakan bentuk jamak dari qaba) dalam beberapa kejadian.

Banyak ahli berpendapat bahwa orang Persia merupakan asal-usul utama dari qaba. Selain itu dengan adanya penyebaran agama Islam melalui proses perdagangan dan sebagainya, tata busana seperti ini tidak lagi hanya ditemukan di tanah Arab, tetapi juga di tanah Persia, Turki, dan Urdu.

Dikarenakan bentuk fisiknya, banyak sumber yang meyatakan bahwa kebaya berasal dari busana Muslim yang dinamai sebagai qaba, habaya, al akibiya al turkiyya dan djubba.

Klaim bahwa kebaya kemungkinan berasal dari Dunia Arab sangatlah mungkin, sebagaimana Islam merambah ke Dunia Melayu pada abad ke-15 masehi dan para wanita Melayu mulai mengikuti norma busana Islamik.

Sebelum adanya Islam, para penduduk wanita memang memakai pakaian dengan helai yang lebih sedikit karena kelembapan dan iklim yang panas dan agama pra-Islamik di tanah Melayu tidak melarang hal seperti itu.

Baca Juga:  Pak SBY Trending, Klub Voli yang Dibikin Atas Kecintaan Pada Bu Ani, Bogor LaVani Juara Proliga

Beberapa sumber lain menyatakan bahwa bentuk paling awal kebaya berasal dari istana Kerajaan Majapahit yang dikenakan para permaisuri atau selir raja, sebagai sarana untuk memadukan pakaian kemben perempuan yang sudah ada–yaitu kain pembebat dan penutup dada perempuan bangsawan–menjadi lebih sopan dan dapat diterima.

Sebelum adanya pengaruh Islam, masyarakat Jawa pada abad ke-9 telah mengenal beberapa istilah untuk mendeskripsikan jenis pakaian, seperti kulambi (bahasa Jawa: klambi, baju), sarwul (bahasa Jawa: sruwal, celana), dan ken (kain atau kain panjang yang dililit di pinggang).

Selama periode terakhir Kerajaan Majapahit, pengaruh Islam mulai berkembang di kota-kota pesisir utara Jawa sehingga perlu penyesuaian busana Jawa dengan agama Islam yang baru dipeluknya.

Blus yang dirancang khusus, sering dibuat dari kain tipis yang halus, dikenakan setelah kemben untuk menutupi bagian belakang, bahu dan lengan, agar wanita istana terlihat lebih sopan. Adopsi busana yang lebih sopan dikaitkan dengan pengaruh Islam di Nusantara.

Aceh, Riau, Johor, dan Sumatra Utara mengadopsi gaya kebaya Jawa sebagai sarana ekspresi status sosial dengan penguasa Jawa yang lebih alus atau halus.

Nama kebaya sebagai pakaian tertentu telah dicatat oleh Portugis saat mendarat di Indonesia.

Kebaya dikaitkan dengan jenis blus yang dikenakan oleh wanita Indonesia pada abad ke-15 atau 16. Sebelum tahun 1600, kebaya di pulau Jawa dianggap sebagai pakaian khusus yang hanya untuk dikenakan oleh keluarga kerajaan, bangsawan, dan priyayi.

Kemudian, kebaya juga diadopsi oleh masyarakat umum, khususnya para petani wanita di Jawa.

Hingga hari ini di desa-desa pertanian di Jawa, para petani wanita masih menggunakan kebaya sederhana, khususnya di kalangan wanita tua. Kebaya sehari-hari yang dikenakan oleh petani terbuat dari bahan sederhana dan dikancingkan dengan jarum sederhana atau peniti.

Kebaya perlahan-lahan menyebar ke daerah-daerah tetangga melalui perdagangan, diplomasi, dan interaksi sosial ke Malaka, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Kesultanan Sulu, dan Mindanao.

Kebaya Jawa seperti yang ada sekarang telah dicatat oleh Thomas Stamford Bingley Raffles pada tahun 1817.

Kalau itu disebut sebagai sutra, brokat dan beludru, dengan pembukaan pusat dari blus diikat oleh bros, bukan tombol dan tombol-lubang di atas batang tubuh bungkus kemben, kainnya — pembungkus tanpa jahitan yang panjangnya beberapa meter, keliru diberi istilah sarong di Inggris (sarung, aksen Malaysia: sarong) yang dijahit untuk membentuk tabung, seperti pakaian Barat.

Baca Juga:  Gempa Mag 5,0 di Halmahera Selatan, Minggu (9/10/2022) Dini Hari

Bukti fotografi paling awal tentang kebaya yang dikenal saat ini berasal dari tahun 1857 yang bergaya Jawa, Peranakan, dan Oriental.

Pada kuartal terakhir abad ke-19, kebaya telah diadopsi sebagai busana yang disukai wanita di Hindia Belanda yang beriklim tropis, baik dikenakan oleh pribumi Jawa, kolonial Europa dan orang Indo, serta Tionghoa Peranakan.[30]

Sekitar tahun 1500-1600, di Pulau Jawa, kebaya adalah pakaian yang dikenakan keluarga kerajaan Jawa saja. Kebaya juga menjadi pakaian yang dikenakan keluarga Kesultanan Cirebon, Kesultanan Mataram dan penerusnya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Selama masa kendali Belanda di pulau itu, wanita-wanita Eropa mulai mengenakan kebaya sebagai pakaian resmi. Selama masa ini, kebaya diubah dari hanya menggunakan barang tenunan mori menggunakan sutera dengan sulaman warna-warni.

Ada sebuah pakaian mirip kebaya, ini disebut “nyonya kebaya” dan awalnya pakaian ini diciptakan oleh orang-orang Peranakan dari Melaka. Mereka mengenakannya dengan sarung dan sepatu cantik bermanik-manik yang disebut “kasut manek”.

Kini, nyonya kebaya sedang mengalami pembaharuan, dan juga terkenal di antara wanita non-Asia. Variasi kebaya yang lain juga digunakan keturunan Tionghoa Indonesia di Cirebon, Pekalongan, Semarang, Lasem, Tuban dan Surabaya.

Penggunaan kebaya juga memainkan peran politik yang cukup penting.

Kebaya telah dinyatakan sebagai busana nasional Indonesia meskipun ada kritik bahwa kebaya hanya digunakan secara luas di Jawa dan Bali.

Kebaya sebenarnya juga ditemukan di Sumatra, Sulawesi dan NTT dengan corak daerah. Tokoh politik seperti Kartini memakai kebaya.

Dan peringatan hari Kartini dilakukan dengan menggunakan kebaya. Para istri Presiden RI mulai dari Soekarno dan Soeharto menggunakan kebaya di berbagai kesempatan.

Kebaya pada masa sekarang telah mengalami berbagai perubahan desain, mulai dari rancangan yang lebih modern hingga dipadukan dengan jilbab bagi wanita Muslim.

Pada umumnya Kebaya sering digunakan pada pesta perayaan tertentu.

Dari mulai pesta formal dengan rekan bisnis,pernikahan, perayaan acara tradisional, hingga perayaan kelulusan sekolah seperti wisuda.

Kebaya digunakan sebagai seragam resmi pramugari Singapore Airlines, Malaysia Airlines dan Garuda Indonesia.

Sejumlah perancang yang turut menciptakan desain baru kebaya diantaranya adalah Anne Avantie dan Adjie Notonegoro

 

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...