Business is booming.

Profil Eks Kasau Agus Supriatna, Dipanggil KPK Jadi Saksi Kasus Helikopter

Agus Supriatna (63) kembali dipanggil KPK sebagai saksi kasus Helikopter

Mantan kepala Staf Angkatan TNI Udara (Kasau) Marsekal TNI (Purn) Agus Supriatna (63) kembali dipanggil KPK sebagai saksi dalam persidangan perkara pengadaan Helikopter AgustaWestland (AW)-101.

Lelaki kelahiran Bandung, Jawa Barat pada 28 Januari 1959 ini pada Senin (5/12/2022) dijadwalkan diperiksa sebagai saksi di hadapan majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

“Informasi yang kami terima, betul hari ini dijadwalkan pemeriksaan yang bersangkutan sebagai saksi di hadapan majelis hakim,” kata Kepala Bagian Pemberitaan KPK Ali Fikri dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Senin (5/12/2022), dikutip Antaranews.com.

Karier Agus Supriyatna

Marsekal TNI (Purn) Agus Supriatna merupakan mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara ke-20.

Agus pernah menjabat sebagai Pangkoopsau II, Wairjen Mabes TNI, dan Kepala Staf Umum TNI berdasarkan Surat Perintah Panglima TNI Nomor Sprin 3398/XII/2014 tanggal 30 Desember 2014.

Sebelum menjadi KSAU, Agus adalah perwira tinggi bintang dua TNI AU atau Marsekal Muda yang menjabat Wakil Inspektorat Jenderal TNI.

Ia naik pangkat menjadi Marsekal Madya pada 31 Desember 2014 dengan jabatan Kepala Staf Umum TNI untuk memenuhi syarat calon KSAU, yaitu perwira tinggi bintang tiga.

Setelah menjabat Kepala Staf Umum TNI selama 2 hari, pada tanggal 2 Januari 2015 ia dilantik menjadi KASAU ke-20 oleh Presiden RI, Joko Widodo di Istana Negara.

Baca Juga:  Tersingkir dari 16 Besar, Media Anggap Timnas Italia Masuki Masa Suram

Pengangkatan KSAU baru ini berdasarkan Keputusan Presiden No. 01/TNI/2015, yang ditetapkan tanggal 2 Januari 2015, dan dibacakan oleh Sekretaris Militer Kepresidenan.

Sejak tahun 1983

Agus “Dingo” Supriatna mengawali kariernya di militer sejak tahun 1983, saat lulus dari Akademi Angkatan Udara.

Selepas mengikuti Sekolah Penerbang TNI AU jurusan tempur ia mulai meniti karier sebagai penerbang pesawat tempur A-4 Skyhawk Skadron 11 yang berpangkalan di Lanud Iswahjudi, Madiun.

Ia mulai karier sebagai Kasi Opslat Skadud 11 Lanud Iswahjudi (1987), setelah menjalani pendidikan Instruktur Penerbang ia konversi ke pesawat F-5 Skadron Udara 14 Lanud Iswahyudi dan selanjutnya bergabung menjadi penerbang pesawat F-16 Skadron Udara 3 Lanud Iswahyudi.

Papok Instruktur Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi (1992), Danflightops D Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi (1994), Kadisops Skadud 3 Wing 3 Lanud Iswahjudi (1996) selanjutnya Danskadik 102 Wingdikterbang Lanud Adisumarmo (1998).

Sebagai penerbang tempur ia berpengalaman mengikuti berbagai macam operasi tempur dan latihan di seluruh Indonesia dan negara-negara tetangga.

Kariernya terus menanjak sebagai Pabandya Opsudstrat Paban II/ Ops Sopsau (2000), Kabadan Uji Koopsau I (2001), Athan RI KBRI Singapura (2003), Paban Utama B-3 Dit “B” Bais TNI (2006), Danlanud Hasanudin (2010), Kaskoopsau I Jakarta (2011), Panglima Koopsau II Jakarta (2012), Wairjen TNI (2014), Kasum TNI (2014) hingga menjadi KASAU (2 Januari 2015-18 Januari 2017).

Pendidikan umum

Agus menempuh tingkat kanak-kanak di Ambon dan Sekolah Dasar (SD) di SD Kuda Mati, Ambon hingga kelas 3. Dan pindah ke SD Negeri Cibabat 1 Cimahi, Jawa Barat hingga lulus pada tahun 1971.

Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Cimindi, Cimahi, Jawa Barat yang diselesaikannya pada tahun 1974.

Pendidikannya kemudian dilanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 Cimahi, di Cimahi, Jawa Barat, lalu pindah ke SMA PGRI 1 John Mayali, Kota Cirebon, tetapi tak berapa lama pindah lagi ke SMA Negeri 1 Bandung.

Baca Juga:  Daftar Pejabat Korlantas Polri, Kini Paling Sibuk dengan Mudik

Namun karena anak-anak sekolah itu kerap tawuran dengan anak-anak STM, akhirnya ia pindah lagi ke SMA Negeri 1 Pandeglang yang akhirnya diselesaikannya pada tahun 1977.

Jabatan militer

Perwira Penerbang Skadron Udara 11 Lanud Iswahjudi Madiun (1983)
Kasi Opslat Skadud 11 Lanud Iswahjudi (1987)
Papok Instruktur Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi (1992)
Danflightops D Skadron Udara 3 Lanud Iwj (1994)
Kadisops Skadud 3 Wing 3 Lanud Iwj (1996)
Danskadik 102 Wingdikterbang Lanud Adi Sucipto (1999)
Pabandya Opsudstrat Paban II/ Ops Sopsau (2001)
Kabadan Uji Koopsau I (2001)
Dostun Gol IV Seskoau (2002)
Sahli Kabais TNI Bidang II Pengtek Bais TNI (2002)
Athan RI KBRI Singapura (2003)
Paban Utama B-3 Dit “B” Bais TNI (2006)
Danlanud Hasanudin (2010-2011)
Kaskoopsau I Jakarta (2011-2012)
Pangkoopsau I Jakarta (2012-2014)
Wairjen TNI (2014)
Kasum TNI (2014-2015)
Kasau (2015)

Jadi Saksi Sidang Perkara Helikopter AW-101

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali memanggil mantan kepala Staf Angkatan TNI Udara (Kasau) Marsekal TNI (Purn) Agus Supriatna sebagai saksi dalam persidangan perkara pengadaan Helikopter AgustaWestland (AW)-101.

“Informasi yang kami terima, betul hari ini dijadwalkan pemeriksaan yang bersangkutan sebagai saksi di hadapan majelis hakim,” kata Kepala Bagian Pemberitaan KPK Ali Fikri dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Senin (5/12/2022), dikutip Antaranews.com.

Terdakwa dalam perkara tersebut ialah Irfan Kurnia Saleh (IKS) yang merupakan Direktur PT Diratama Jaya Mandiri (DJM) dan pengendali PT Karsa Cipta Gemilang (KCG).

KPK menegaskan pemanggilan Agus merupakan perintah Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat.

“Perlu kami tegaskan, karena saat ini perkara terdakwa IKS pada tahap persidangan, maka pemanggilan saksi tersebut tentu atas perintah pengadilan,” tambah Ali.

Sebelumnya, KPK telah mengirimkan surat panggilan kepada Agus melalui dua alamat rumahnya. KPK juga meminta bantuan pihak TNI terkait pemanggilan Agus tersebut.

Baca Juga:  Layanan SIM Keliling Ada di Lima Lokasi

“Namun, saksi ini tetap tidak taat hukum dan mangkir dari panggilan pengadilan,” kata Ali.

Selain itu, dalam pemanggilan saksi Agus untuk hadir di persidangan, Senin, Ali menambahkan KPK juga telah melayangkan surat melalui kantor pengacaranya.

“Pemanggilan saksi untuk hari ini tersebut kami serahkan ke kantor pengacaranya. Namun, pihak pengacara juga menolak menerima surat tersebut,” ungkapnya.

KPK menyayangkan hal tersebut karena sebagai penegak hukum, pengacara Agus seharusnya ikut memperlancar proses pemeriksaan persidangan.

Sebelumnya, Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Karyoto mengatakan pihaknya berkoordinasi dengan Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa terkait pemanggilan Agus tersebut. Karyoto beranggapan bahwa Agus masih ingin tetap menggunakan prosedur militer dalam pemanggilannya sebagai saksi dalam kasus tersebut.

“Apabila memang sudah dalam ambang batas tertentu, tentunya akan kami laporkan lagi kepada Panglima (TNI), karena beliau (Agus Supriatna) kelihatannya mintanya diperlakukan sebagai militer untuk pemanggilan, dan lain lain,” kata Karyoto di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin (28/11).

Irfan Kurnia Saleh didakwa melakukan korupsi pengadaan helikopter angkut AW-101 di TNI Angkatan Udara tahun 2016 yang merugikan keuangan negara senilai Rp738,9 miliar.

Dalam dakwaannya, Irfan disebutkan memberikan dana komando (DK/dako) untuk Agus Supriatna saat menjabat sebagai Kasau periode 2015-2017 senilai Rp17,733 miliar. Jumlah tersebut adalah 4 persen dari pembayaran tahap I untuk PT. Diratama Jaya Mandiri senilai Rp436,689 miliar dari total seluruh pembayaran Rp738,9 miliar.

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...