Business is booming.

Sugeng Rahayu Trending, Tabrakan Maut Lawan Bus Eka di Ngawi, Publik Jadi Inget Bus Sumber Kencono

Kapolres Ngawi AKBP Argo Wiyono menjelaskan bahwa kecelakaan bus  di jalur Magetan-Ngawi, Jawa Timur, menewaska tiga orang.

Sugeng Rahayu trending. Sugeng Rahayu adalah nama bus yang baru saja mengalami kecelakaan maut dengan bus Eka.

Keduanya sangat dikenal sebagai bus-bus yang menguasai jalanan di Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah.

Belum dipastikan siapa yang bersalah dengan kecelakaan yang menewaskan tiga orang itu.’

Ini karena kedua bus melaju kencang dan berlawanan arah.

Kapolres Ngawi AKBP Argo Wiyono menjelaskan bahwa kecelakaan bus  di jalur Magetan-Ngawi, Desa Tambakromo, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menewaska tiga orang.

Korban meninggal adalah kedua sopir bus, yakni sopir Bus Eka bernama Catur.

Sedang sopir Bus Sugeng Rahayu bernama Agus Susanto. Satu korban tewas lainnya adalahseorang pejalan kaki.

Kecelakaan terjadi pukul 05.40 WIB.

Kecelakaan berawal saat Bus Eka yang melaju cepat dari arah Ngawi menuju Magetan.

Sampai di lokasi kejadian, bus jurusan Yogyakarta-Surabaya itu hendak menghindari pejalan kaki.

Bus sempat banting setir, tepat dari arah berlawanan melaju Bus Sugeng dengan kecepatan tinggi pula hingga tabrakan tak terhindarkan.

Tabrakan keras itu membuat kedua bus terpelanting hingga bodinya rusak.

Pengemudi Sugeng Rahayu bahkan sampai terlempar keluar dari bus dan meninggal.

Sementara pengemudi Bus Eka meninggal usai terjepit bodi depan bus yang ringsek.

Sedangkan, seorang pejalan kaki yang menyeberang juga dilaporkan meninggal dunia akibat kejadian itu.

Kondisi bus Sugeng Rahayu juga menyeramkan karena kondisi atap busnya habis.

Baca Juga:  Kolonel Priyanto, Penabrak dan Pembuang Mayat Kasus Tabrakan Nagrek

Sementara bus Eka mengalami kerusakan bagian depannya.

Asal Muasal Nama Sugeng Rahayu

Yang menjadi pertanyaan, mengapa Sugeng Rahayu.

Tentu saja karena bus Sugeng Rahayu bermula dari nama Sumber Kencono yang dikenal ugal-ugalan dan pernah mengalami kecelakaan mau hingga brand alias nama busnya buruk dengan plesetan Sumber Bencono.

Dinukil dari Wikipedia, Sugeng Rahayu dibawah pengelolaan PT Selamat Sugeng Rahayu (menjalankan bisnis sebagai Sumber Group) adalah perusahaan otobus Indonesia yang berasal dari Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Perusahaan ini lahir dari sebuah perusahaan otobus tunggal yang diberi nama Sumber Kencono, dibentuk tahun 1981.

Sejak 2011, perusahaan ini meluncurkan dua merek baru sebagai regenerasi kasus-kasus kecelakaan dan insiden yang menimpa perusahaan otobus ini.

Sejak saat itu, usahanya kemudian dikembangkan sebagai Sumber Group dengan menggunakan nama bus seperti Sumber Selamat, Sugeng Rahayu, Golden Star dan SR Express.

Dua yang pertama ini berjalan sebagai bus antarkota, sedangkan Golden Star berjalan sebagai bus pariwisata dan SR Express sebagai jasa ekspedisi pengiriman barang.

Kantor pusat sekaligus garasi utama Sumber Group terletak di Jalan Bypass Krian, Sidoarjo.

Bus Sumber Kencono pertama kali dibentuk pada 1981 oleh seorang pengusaha transportasi bernama Setyaki Sasongko.

Sasongko menjalankan perusahaan ini dengan bermodalkan 6 unit bus dengan trayek Surabaya–Yogyakarta serta beroperasi pada kelas ekonomi.

Tercatat Sumber Kencono memiliki kompetitor yang cukup sengit, seperti PO Flores, terutama dari jumlah armadanya.

Namun peristiwa tabrakan PO Flores dengan kereta api pada 6 Mei 1981 menjadi titik balik bagi Sumber Kencono.

PO Flores terkena sanksi dilarang menjalankan angkutan antarkota antarprovinsi (AKAP) di wilayah Solo, sehingga Sumber Kencono mengambil alih okupansi trayek tersebut.

Selama dekade 1980-an, bus ini makin diminati karena bus tersebut tersedia 20 menit sekali, di samping ketersediaan armadanya yang sangat cukup.

Secara harfiah, Sumber Kencono berarti “sumber emas”, maksudnya Sasongko menjadikan perusahaan otobusnya sebagai mesin uang.

Dengan pangsa pasarnya yang cukup besar serta selalu melaju kencang menjadikan bus ini dijuluki sebagai “raja jalanan” di Tanah Jawa.

Bus-bus Sumber Kencono beroperasi sebagai kelas ekonomi non-AC serta AC tarif murah, yang biasa dikenal dengan sebutan “AC tarif biasa”.

Hingga tahun 2011, Sumber Kencono memiliki 255 armada, dengan perincian 230 reguler dan 22 cadangan.

Namun sayangnya, kelajuan bus yang cukup tinggi tersebut tidak diimbangi dengan kepatuhan berkendara para pengemudi, seperti ugal-ugalan atau melanggar batas kecepatan, sehingga sering mengalami kecelakaan.

Bahkan sempat ada yang menyindir dengan memplesetkan nama bus ini menjadi “Sumber Bencono’ atau bahkan mengecapnya sebagai ‘bus pencabut nyawa’.

Antara tahun 2009 hingga 2011, terjadi 51 kecelakaan dengan total 129 korban dan 36 meninggal dunia.

Terakhir, bus Sumber Kencono mengalami kecelakaan pada 12 September 2011.

Sebagai tanggapan atas peristiwa tersebut, Soekarwo selaku Gubernur Jawa Timur melayangkan rekomendasi kepada Dinas Perhubungan untuk mencabut izin trayek sekaligus izin perusahaan Sumber Kencono; serta memeriksa SIM dari masing-masing pengemudi

Sanksi administratif akhirnya dijatuhkan oleh Kementerian Perhubungan kepada perusahaan otobus tersebut: Sumber Kencono dipangkas jumlah armadanya yang beroperasi hingga 40 persen.

Dengan pengakuan Sasongko atas kesalahan manajemen, seperti waktu istirahat pengemudi serta kecakapan pengemudi, ia memutuskan merombak seluruh manajemen perusahaan dan meregenerasi perusahaan tersebut.

Pada 14 Juli 2011, dua bulan sebelum kecelakaan bus Sumber Kencono yang terakhir, 80 armada bus Sumber Kencono diganti namanya menjadi Sumber Selamat, yang diharapkan dapat memberi nasib baik, sekaligus mengajarkan pentingnya keselamatan dalam perjalanan bus.

Pada 9 Februari 2012, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat memutuskan tidak akan mencabut izin trayek Sumber Kencono, karena Hubdat menilai Sumber Kencono telah dikelola secara profesional.

Setelah regenerasi, Sasongko mulai tegas dalam masalah keselamatan dan mengancam akan menjatuhkan teguran tertulis tingkat tiga kepada setiap pengemudi yang masih berlaku ugal-ugalan.

Untuk memantau perilaku mereka, bus-bus Sumber Selamat dipasangi GPS yang diintegrasikan dengan pemantau kecepatan bus.

Sebagai pendamping Sumber Selamat, pada 2013, diluncurkan bus dengan nama Sugeng Rahayu.

Sugeng Rahayu, yang bermakna “sejahtera”, atau “jauh dari musibah”, tampil dengan skema warna yang berbeda yakni merah dan kuning.

Merek dagang tersebut akhirnya dipegang oleh perusahaan tunggal dengan nama legal PT Selamat Sugeng Rahayu.

Di awal operasinya, Sugeng Rahayu juga tak luput dari insiden.

Pada 27 Desember 2013, bus Sugeng Rahayu menabrak sepeda motor di Jalan Raya Perak, Jombang, yang berimbas pembakaran bus tersebut.

Catatan Kepala Dinas Perhubungan dan LLAJ Jawa Timur, menunjukkan bahwa bus tersebut hanya melaju pada kecepatan 32 km/jam.

Pada tahun 2014, Sugeng Rahayu memulai perjalanan patas pertamanya di rute Surabaya-Yogyakarta.

Hadirnya kelas cepat ini bertujuan untuk memberikan kenyamanan ekstra bagi para penumpang, terlihat dari fasilitas yang ditawarkan lebih unggul daripada kelas AC tarif biasa.

Kelas cepat Sugeng Rahayu ini juga melayani trayek-trayek yang lebih jauh, seperti Surabaya-Yogyakarta-Bandung, Jember-Cilacap, Surabaya-Purwokerto-Bobotsari, dan Surabaya-Solo-Semarang-Indramayu.

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...