Profil Ronny Pasla: Ini Fakta-Fakta Sebelum Meninggal Dunia
Kiper legendaris Indonesia Ronny Pasla meninggal dunia dalam usia 78 tahun Senin (24/11/2025),
Kiper legendaris Indonesia Ronny Pasla meninggal dunia dalam usia 78 tahun Senin (24/11/2025),
Jenazah Ronny sempat disemayamkan di Gereja Evangelis Jakarta Pusat. Menurut kabar Ronny Pasla baru akan dimakamkan di Pemakaman Pondok Kelapa hari ini.
Wikipedia menulis fakta-fakta Ronny Pasla sebelum tutup usia.
Bersama dua rekannya, Andjas Asmara dan Ipong Silalahi, Ronny Pasla sedang menggarap pembentukan tim sepak bola impian yang terdiri atas para pemain amatir. Proyek prestisius itu berbentuk reality show pencarian bakat sepak bola bertajuk My Team (Juni 2007)
Di kancah sepak bola, Ronny menjadi salah satu kiper legendaris Indonesia. Namun, setelah pensiun dia lebih banyak bergelut di olahraga lain, yakni sebagai pelatih tenis lapangan. Pria kelahiran Medan itu bahkan memiliki sekolah tenis lapangan bernama Velodrome Tennis Club di Jakarta.
Dengan tinggi badan 183 cm, Ronny ketika masih aktif bermain sangat unggul dalam antisipasi bola-bola atas. Tidak heran, posisi pemain inti di Timnas tak tergantikan sejak 1966 hingga pensiun dari Timnas.
Pensiun dari dunia sepak bola di usia 40 tahun. Klub terakhir yang diperkuatnya adalah Indonesia Muda (IM), Jakarta pada 1985. Di Timnas, Ronny Pensiun di usia 38 tahun.
Saat Timnas Brazil melakoni tur ke Asia pada 1972, Brazil yang saat itu diperkuat pemain sepak bola legendaris dunia asal Brasil, Pele singgah ke Indonesia. Dalam laga tersebut Indonesia kalah 1-2, tetapi tetap menjadi momen terindah bagi Ronny, karena berhasil menahan eksekusi penalti Pele.
Enam orang anaknya, tidak ada satu pun yang berkiprah sebagai pemain sepak bola. Tapi, semuanya sempat menjadi atlet di cabang olahraga (cabor) tenis lapangan.
Profil Ronny Pasla
Ronny Pasla adalah mantan penjaga gawang Timnas Indonesia yang berkiprah sekitar tahun 1960-an hingga awal 1980-an.
Ejaan namanya sering juga ditulis sebagai Ronny Paslah.
Ronny Pasla dianggap sebagai salah satu kiper terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia.
Dirinya merupakan kiper utama Timnas Indonesia di era 1970-an menggantikan pendahulunya yaitu Yudo Hadianto.
Bersama timnas, ia berhasil mengantarkan tim Garuda menjadi juara pada Turnamen Merdeka 1969, Pesta Sukan Cup Singapura tahun 1972 serta Aga Khan Gold Cup tahun 1967. Pasla memperkuat PSMS Medan sebelum hijrah menuju Persija Jakarta di pertengahan kariernya.
Ronny Pasla lahir di Medan, Sumatera Utara, dari pasangan Frans Felix Pasla dan Magdalena Sorongan.
Kedua orang tua Ronny tersebut berasal dari Manado (Minahasa), Sulawesi Utara. Ronny menikah dengan Enny K. Pasla, dan dikaruniai 6 orang anak.
Pada awalnya, Ronny Pasla adalah seorang pemain tenis yang berbakat.
Ia bahkan terdaftar sebagai atlet tenis untuk mewakili Sumatera Utara dalam PON ke-6 di Jakarta tahun 1965.
Namun PON tersebut akhirnya dibatalkan setelah meletusnya peristiwa Gerakan 30 September.
Pasla kemudian sempat menjadi juara pada Kejuaraan Nasional Tenis tingkat Yunior di Kota Malang pada tahun 1967.
Prestasi
Bersama PSMS Medan
Piala Soeratin (1): 1967 (Bersama PSMS Yunior)
Perserikatan (2): 1967, 1971
Aga Khan Gold Cup (1): 1967
Soeharto Cup (1): 1972
Marah Halim Cup (2): 1972, 1973
Bersama Persija Jakarta
Perserikatan (1): 1975
Prestasi Internasional
King’s Cup (1): 1968; runner-up: 1969
Turnamen Merdeka (1): 1969; runner-up: 1971
Pesta Sukan Cup (1): 1972[2]
Jakarta Anniversary Tournament (1): 1972; runner-up: 1971, 1973, 1974, 1975, 1978
Prestasi Individual
Warga Utama Kota Medan, 1967
Atlet Terbaik Nasional, 1972
Penjaga Gawang Terbaik Nasional, 1974