Profil Try Sutrisno, Meninggal Dunia Usia 90 Tahun Tiga Bulan
Try Soetrisno beristrikan Tuti Sutiawati ​yang juga belum lama meninggal dunia. Ia dikarunai tujuh anak, dua diantaranya mengikuti jejaknya
Wakil Presiden Ke-6 Republik Indonesia Try Sutrisno wafat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, pada Senin (2/3/2026) pagi sekitar pukul 07.00 WIB.
Informasi mengenai wafatnya Try Sutrisno disampaikan melalui pesan berantai, antara lain melalui Grup WA.
Mohon Ijin, Kami ijin melaporkan Berita Duka Cita sebagai berikut :
Nama       : Bpk. Jendral TNI Purn Try Sutrisno
Umur.       : 90 tahun, 3 bulan.
Hari          : Senin
Tanggal.  : 2 Maret 2026
Pukul       : 06.50 Wib
Tempat    : Ruang CICU Kamar 207 Lantai 2 RSPAD Gatot Subroto.
Innalilahi wainnailaihi rojiun telah meninggal dunia ibu Bpk. Jenderal TNI Purn Try Sutrisno di RS Gatot Subroto Ruang CICU Kamar 207, Jakarta Pusat.
Sebelumnya tahun 2019 pernah muncul kabar meningggalnya Wapres Ke-6 Try Soetrisno.
Faktanya pemberitaan tentang meninggalnya Try Sutrisno merupakan kabar bohong alias Hoaks.
Hal ini telah diklarifikasi oleh Kepala UKP PIP Yudi Latief dan salah satu Ajudan Try Sutrisno yang mengatakan bahwa Try Sutrisno dalam keadaan sehat.
Profil Try Sutrisno
Try Sutrisno 15 November 1935 – 2 Maret 2026 (90 tahun) adalah seorang purnawirawan jenderal TNI Angkatan Darat yang menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia keenam dari tahun 1993 hingga 1998.
Lahir di Surabaya, Hindia Belanda (sekarang Indonesia), Try merupakan lulusan Akademi Teknik Angkatan Darat pada tahun 1959.
Selama kariernya, Try pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (1986-1988) dan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (1988-1993).
Try Sutrisno lahir di Gang Genteng Bandar Lor, Surabaya, Jawa Timur.
Ayahnya, Subandi berasal dari Garut, Jawa Barat yang bekerja di Dinas Kesehatan Kota Surabaya sebagai sopir ambulans, dan ibunya bernama Mardiyah yang berasal dari Surabaya adalah seorang ibu rumah tangga
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Belanda kembali untuk mengklaim kembali Indonesia sebagai koloni mereka.
Try Sutrisno dan keluarganya pindah dari Surabaya ke Mojokerto.
Ayahnya bekerja sebagai petugas medis untuk Batalyon Angkatan Darat Poncowati, memaksa Try Sutrisno untuk berhenti sekolah dan mencari nafkah sebagai penjual rokok dan penjual koran.
Pada usia 13, Try Sutrisno ingin bergabung dengan Batalyon Poncowati dan melawan tetapi tidak ada yang menganggapnya serius dan ia akhirnya dipekerjakan sebagai kurir.
Tugas Try Sutrisno adalah untuk mencari informasi ke daerah-daerah yang diduduki oleh tentara Belanda serta mengambil obat untuk Angkatan Darat Indonesia.
Akhirnya pada tahun 1949, Belanda mundur dan mengakui kemerdekaan Indonesia.
Try Sutrisno dan keluarganya kemudian kembali ke Surabaya di mana ia menyelesaikan pendidikannya di SMA Bagian B pada tahun 1956.
Setelah lulus dari SMA, Try Sutrisno ingin mendaftar di ATEKAD (Akademi Teknik Angkatan Darat).
Dia berpartisipasi dan lulus dalam ujian masuk, sebelum gagal dalam pemeriksaan fisik. Meskipun demikian, Mayor Jenderal GPH Djatikusumo tertarik dengan Try dan memanggilnya kembali.
Try Sutrisno berpartisipasi dalam pemeriksaan psikologis di Bandung, Jawa Barat, dan ia diterima di ATEKAD. Di ATEKAD pula ia berteman akrab dengan Benny Moerdani.
Try Soetrisno beristrikan Tuti Sutiawati ​yang juga belum lama meninggal dunia.
Ia dikarunai tujuh anak, dua diantaranya mengikuti jejaknya
Yakni Irjen (Purn) Firman Santyabudi yang terakhir menjabat sebagai Kakorlantas.
Satu lagi Letjen Kunto Arief Wibowo yang saat ini menjabat Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I.
Riwayat Jabatan
Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) 1959
Seskoad 1972
ajudan Presiden Soeharto 1974
Kepala Staf di KODAM XVI/Udayana 1978
Panglima KODAM V/Jaya 1982
Wakil KSAD 1985
Kepala Staf TNI Angkatan Darat 1986
Panglima ABRI untuk menggantikan L.B. Moerdani 1988.
Wakil Presiden RI tanggal 11 Maret 1993