Hj Suharti, Pendiri Ayam Goreng Suharti, Meninggal dalam Usia 86 Tahun
Hj. Suharti mengembuskan napas terakhirnya pada Jumat, 30 Oktober 2026 pukul 23.21 karena sakit.
Hj. Suharti tokoh kuliner legendaris Indonesia sekaligus pendiri jaringan restoran waralaba Ayam Goreng Suharti, meninggal dalam usia 86 tahun.
Hj. Suharti mengembuskan napas terakhirnya pada Jumat, 30 Oktober 2026 pukul 23.21 karena sakit.
Ia dikabarkan sempat drop atau menurun kesehatannya pada Kamis, 29 Oktober 2026.
Beliau sempat dibawa dan mendapatkan perawatan di Rumah Sakit (RS) Panti Rapih, Kecamatan Gondokusuman, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Beliau merupakan pionir yang sukses mempopulerkan menu ayam goreng kremes bergaya Kalasan ke berbagai wilayah di Indonesia.
Ayam Goreng Suharti memiliki Tagline atau Kampanye merek. Cita Rasa Nusantara Sejak 1972.
Beliau merupakan cucu dari Mbok Berek, sosok legendaris yang dikenal luas sebagai pelopor ayam goreng gaya Kalasan di Indonesia.
Dari sang nenek pulalah Suharti belajar resep dan keahlian mengolah ayam goreng.
Riwayat Karier
Perjalanan karier Hj. Suharti dirintis dari bawah dengan kegigihan yang luar biasa sebelum akhirnya menjadi gurita bisnis kuliner skala nasional.
Suharti mulai menjajakan ayam goreng buatannya pada tahun 1956 saat masih berusia sekitar 26 tahun.
Dibantu oleh sang ayah, ia memikul bakul besar berisi ayam goreng dan mengayuh sepeda tua untuk menjajakan dagangannya berkeliling dari Yogyakarta hingga Surakarta.
Setelah beberapa tahun berjualan keliling, ia memutuskan membuka restoran pertamanya tahun 1962.
Pada fase awal ini, ia belum memakai namanya sendiri, melainkan menggunakan nama sang nenek, yaitu warung ayam goreng “Mbok Berek”.
Pada tahun 1972, bersama sang suami saat itu (Bambang Sachlan Pratohardjo), Suharti memutuskan mandiri secara penuh dengan membangun merek dagangnya sendiri.
Mereka mendirikan restoran kuliner berlogo foto dirinya dengan nama Ayam Goreng Ny. Suharti di Yogyakarta, yang kemudian berkembang sangat pesat dan membuka cabang di berbagai kota besar seperti Jakarta dan Bandung.
Di tengah kesuksesannya, karier bisnis Suharti sempat diuji oleh masalah personal.
Perceraian dengan sang suami membuatnya kehilangan hak atas merek dagang awal karena nama “Ayam Goreng Ny. Suharti” beserta gerai-gerainya jatuh ke tangan mantan suaminya.
Mengalami keterpurukan tidak membuat beliau menyerah. Hj. Suharti bangkit kembali dan mendirikan gerai baru dengan nama Ayam Goreng Suharti (tanpa kata “Ny.”) serta menggunakan logo dua ekor ayam jago berhadapan yang masih eksis dan melegenda hingga akhir hayatnya.
Jaringan resmi Ayam Goreng Suharti saat ini memiliki sekitar 12 hingga 15 cabang yang tersebar di wilayah Jawa, Sumatra, dan Bali.
Perlu dicatat bahwa jumlah ini merupakan cabang resmi yang dikelola langsung di bawah manajemen milik keluarga almarhumah Hj. Suharti (restoran dengan logo foto wajah beliau asli).
Di Yogyakarta, termasuk pusat operasional utama sekaligus rumah duka di Jl. Laksda Adisucipto, Sleman.
Jabodetabek & Jawa Barat: Berada di Jakarta, Tangerang, Bandung (salah satunya cabang Cipaganti), dan Sumedang.
Jawa Tengah & Jawa Timur: Menyasar kota besar seperti Semarang dan Solo.
Luar Jawa: Termasuk ekspansi gerai ke Medan, Pekanbaru (Riau), serta Denpasar (Bali)