Business is booming.

Ramos dan Messi, Seperti Jokowi dan Prabowo, Tak Ada yang Abadi

Sepakbola itu emang kayak politik, dulu musuh kini teman

Sergio Ramos (Real Madrid) vs Lionel Messi (Barcelona) dulu seolah musuh abadi.

Mereka sering bentrok, bahkan nyaris berkelahi dalam sebuah pertemuan.

Kini mereka berada satu klub di Paris Saint Germain (PSG), Perancis.

Mereka bias ngobrol, tertawa bareng, berpelukan.

Netizen Indonesia pun mengibaratkan pertemuan Ramos dan Messi seperti pertemuan Prabowo dan Jokowi.

Keduanya dulu rival politik, kini berada di jalur yang sama yakni jalur pemerintahan.

Simak cuitan netizen Indonesia tentang Ramos dan Messi.

@Miduk17: Ramos dan Messi itu seperti Jokowi dan Prabowo. Dulu mereka adalah rival abadi, sekarang menjadi sohib sejati. Dulu Jokowi adalah rival Prabowo, sekarang Prabowo menjadi pembantu Jokowi. Begitulah politik dan sepakbola, kadang musuh bebuyutan akan menjadi keluarga anda suatu saat

@MafiaWasit: Sepakbola itu emang kayak Politik, kemarin lawan sekarang kawan! Noh lihat Messi dan Ramos

@rezaaasy: Ramos : maaf ya dulu gw sering ngajak ribut lu mulu, hehe. Messi : iya gaoaoa, hehe

@YHMulyono: Pelukan Ramos-Messi untuk pertama kalinya sebagai kawan

@aseeppppueuehe: Ramos : gaji lu jadi dikit amat mess. Messi : dikit” gini paling gede di PSG ni boss

@Habibiehh7: yaelah, gini amat gara” ada messi sama ramos haha

@RIFKYSATYADHARM: Bola lama-lama kayak politik.. Gak ada musuh yang abadi

Seperti diketahui, kepindahan Lionel Messi dari Barcelona ke Paris Sant Germain (PSG) membuktikan bahwa nilai komersial Messi ternyata jauh lebih besar dari nilai Messi itu sendiri.

Liga Spanyol kini menyesali, Liga Prancis kena dampak positif kehadiran sang Messi.

Seperti diketahui, La Liga tak mau menoleransi Barcelona agar melonggarkan aturan demi bertahannya Messi di Liga Spanyol.

Baca Juga:  Messi Setuju Perpanjang Kontrak 5 Tahun di Barcelona

Padahal kepergian Messi tak saja merugikan Barcelona, tetapi juga La Liga.

Namun nilai komersial Messi dua kali lebih besar dari pendapatannya itu. 10 kostum yang terjual, delapan di antaranya adalah kostum Messi.

“Ini pukulan yang besar sekali,” kata Placido Rodriguez Guerrero, profesor ekonomi pada Universitas Oviedo dan direktur Sports Economics Observatory (FOED) di Spanyol, kepada AFP.

“Ada kostum yang tak bisa lagi dijual, ada gol yang tak bisa lagi dicetak, dan ada dampak terhadap sponsor.”

Pariwisata Spanyol pun terpengaruh, kata Jimmy Burns, pengarang buku “Barca, A People’s Passion”.

“Orang Inggris datang ke Barcelona untuk melihat (basilika) Sagrada Familia dan Messi,” kata Burns.

Setelah ditinggalkan Cristiano Ronaldo dan kemudian Sergio Ramos dan pensiunnya sejumlah ikon seperti Andres Iniesta, daya tarik Liga Spanyol menjadi tak sebesar dulu. Apalagi kini tanpa Messi.

“Messi adalah pemain simbolis terakhir yang tersisa di La Liga dan jika dia juga pergi maka Liga Spanyol menjadi kurang atraktif,” kata Marc Ciria, salah satu pemodal terkemuka di Barcelona.

Hari-hari ketika ratusan juta orang memantengi layar televisi guna menonton el Clasico antara Barca dan Madrid, bakal menjadi sejarah yang sejak Ronaldo pindah ke Juventus pun sudah berkurang daya tariknya.

Klub-klub kecil Spanyol seperti Getafe bahkan menilai La Liga tak akan mampu menanggung akibat dari kehilangan Messi.

Sergio Ramos ternyata tidak menggertak ketika mengatakan kepada presiden Real Madrid, Florentino Perez, Desember 2020 lalu, bahwa Paris Saint-Germain (PSG) akan mengontrak Lionel Messi.

Beberapa bulan yang lalu sangat tidak terpikirkan untuk membayangkan dua legenda klub tersukses Spanyol ini bersama-sama di ibu kota Prancis. Tapi inilah yang terjadi musim ini, kenyataan yang Ramos tampaknya sadari jauh lebih awal.

Baca Juga:  Nilai Komersial Messi Terbukti Lebih Besar dari Harga Messi itu Sendiri

“Saya telah diberitahu bahwa PSG ingin membuat tim yang hebat dengan Messi dan saya di dalamnya,” kata Ramos kepada Perez, seperti yang diungkapkan Josep Pedrerol pada program El Chiringuito, dilansir Marca, Jumat 13 Agustus 2021.

Dengan percakapan antara Ramos dan mantan presidennya yang terjadi delapan bulan lalu, itu menunjukkan berapa lama PSG telah merencanakan upaya mereka untuk membangun tim yang belum pernah dilihat dunia.

Tapi apa yang menarik semua pemain ini bergabung ke Paris?Diyakini faktor pertama tentu saja uang yang melimpah. Angka yang selalu lebih dari yang bisa ditawarkan klub lain, dan sulit bagi profesional mana pun untuk menolak.

Namun tentu saja ada aspek olahraga juga. Hirarki di Qatar ingin PSG memenangkan Liga Champions dengan segala cara, dan dalam lima tahun terakhir mereka telah melakukan apapun untuk mencapai tujuan, salah satunya perekrutan megabintang.

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...