Business is booming.

Banjir Terparah Malaysia dalam 100 Tahun Masih Trending

Perubahan Iklim Memperparah Tingkat Banjir

FOTO udara memperlihatkan desa yang terendam banjir di Puchong, luar Kuala Lumpur, Malaysia, pada Minggu (19/12/2021).

Foto karya fotografer Chan Yoke Poh dari Kantor Berita AP ini memperlihatkan kondisi terparah di desa yang terendam banjir di Puchong.

Malaysia saat ini memang mengalami bencana banjir yang besar. Banjir yang meliputi hampir delapan negara bagian ini memaksa pemerintah Negeri Jiran itu untuk melakukan evakuasi terhadap puluhan ribu orang.

Laman CnbcIndonesia.Com menyebutkan bahwa bahwa banjir ini sendiri tak lepas dari efek perubahan iklim global.

Dr Siew yang merupakan penasihat perubahan iklim untuk Pusat Studi Pemerintahan dan Politi, mengatakan bahwa ini terlihat dari cakupan wilayah yang terendam banjir, di mana biasanya beberapa wilayah di wilayah tengah dan barat Malaysia tidak terendam.

“Ketika Anda memiliki efek akumulasi, dampak jangka panjangnya adalah Anda mengalami hujan tiba-tiba di daerah tertentu, dan itulah yang Anda lihat dalam banjir di Malaysia dalam beberapa hari terakhir,” ujarnya kepada Channel News Asia seperti dikutip CnbcIndonesia.Com, Selasa (21/12/2021).

“Menjadi lebih sulit bagi ahli iklim untuk memprediksi cuaca dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi karena fenomena perubahan iklim.”

Hal ini juga ditimpali oleh dosen lingkungan hidup Universiti Putra Malaysia Haliza Abdul Rahman. Haliza mengatakan bahwa hal ini sendiri tidak hanya terjadi Malaysia, namun juga di belahan bumi lainnya seperti Eropa, China dan Amerika Serikat (AS). Ia menyebut bahwa telah terjadi pola perubahan pada cuaca global.

Baca Juga:  Banjir Bandang di Jerman, Ratusan Orang Belum Ditemukan

“Menurut saya, perubahan iklim adalah faktor utama yang menyebabkan tingginya curah hujan selama Jumat dan Sabtu, yang mengakibatkan situasi banjir. Banjir telah disebut sebagai peristiwa sekali dalam seratus tahun. Tapi mungkin, lebih banyak insiden seperti itu akan berulang di tahun-tahun mendatang,” pungkasnya.

Dalam konferensi pers akhir pekan kemarin, Sekjen Kementerian Lingkungan Hidup dan Air Malaysia (KASA) Dr Zaini Ujang mengatakan bahwa hujan deras yang dimulai pada Jumat dan berlangsung lebih dari 24 jam. Ini setara dengan curah hujan rata-rata selama sebulan dan merupakan peristiwa cuaca sekali dalam seratus tahun.

“Curah hujan tahunan di Kuala Lumpur adalah 2.400mm dan ini berarti curah hujan kemarin telah melebihi rata-rata curah hujan selama sebulan, itu di luar perkiraan kami dan hanya terjadi sekali dalam seratus tahun,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa penyebab langsung dari peristiwa itu adalah faktor aliran monsun dan sistem cuaca tekanan rendah yang mencapai tingkat depresi tropis yang terbentuk di Laut China Selatan.

Fenomena itu awalnya terdeteksi oleh Departemen Meteorologi Malaysia pada 12 Desember. Pada hari Sabtu, sistem cuaca memasuki Pahang dan menghantam seluruh semenanjung.

Ahli meteorologi Dr Azizan Abu Samah dari Universiti Malaya meminta agar pemerintah Malaysia meningkatkan sistem peringatan dini sehingga kejadian banjir besar di masa depan dapat ditangani dengan lebih baik.

“Kita perlu meningkatkan sistem peringatan kita. Anda tidak dapat menghentikan cuaca tetapi kami memiliki informasi yang cukup untuk membuat prediksi yang baik, dan dengan sistem peringatan yang baik, kami dapat memiliki respons yang baik terhadap insiden semacam itu, “kata Dr Azizan.

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...