Business is booming.

Pramoedya Ananta Toer 97 Tahun, Ada Netizen yang Tak Kenal Wajahnya?

Sore kak Okky, maaf saya tidak familiar dengan Bung yang sedang ulang tahun,

Pramoedya Ananta Toer adalah sastrawan terkemuka Indonesia.

Karya-karyanya bukan hanya diakui di Indonesia, namun di berbagai Negara.

Karya sastra Pramoedya Ananta Toer bahkan telah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa dari seluruh dunia.

Dan sang pujangga Indonesia itu hari ini tepat berusia 97 tahun.

Yakni tanggal 6 Februari 1925 hingga 30 April 2006.

Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya.

Karya-karyanya sangat membumi dengan bahasa yang mudah dipahami.

Diantara karya-karyanya banyak kutipan meninspirasi dari Pramoedya Ananta Toer

Rasanya yang sudah membaca karyanya akan terkenang sosoknya.

Bagaimana yang belum pernah membaca, termasuk generasi sekarang.

Ternyata ada juga yang tak mengenalnya.

Hal itu tampak saat penulis novel Okky Madasari membagikan foto Pramoedya Ananta Toer tanpa menyebut namanya.

@okkymadasari: Happy birthday, Bung! Foto 1 di Goethe Institute, Jakarta, 2015. Foto 2 di Taman Baca Kesiman, Bali, 2016

Seorang netizen bernama @CaryantoAwuy lalu bertanya, sore kak Okky, maaf saya tidak familiar dengan Bung yang sedang ulang tahun, siapa tokoh yang kakak maksud ?

@okkymadasari lalu menjawab, Bung yang saya maksud, yg gambarnya terlihat itu, adalah Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan besar Indonesia. Buku-bukunya wajib dibaca. Apa saja buku-bukunya, silakan langsung Google ya. Tak perlu berkecil hati jika belum pernah baca atau bahkan belum kenal siapa Pram.

Berikut Cuitan Sejumlah Netizen tentang Pramoedya Ananta Toer

@TofikPr: Selamat ulang tahun, inspirasiku, guruku. Kau rekonstruksi cara berpikirku secara radikal dengan “Arus Balik”-mu. Darimu aku belajar bahwa seorang yang menulis akan hidup abadi. Pramoedya Ananta Toer (6 Februari 1925 – 30 April 2006)

@KadallSalto: Menulislah, karena tanpa menulis engkau akan hilang dari pusaran sejarah” ― Pramoedya Ananta Toer

Baca Juga:  Profil Iwan Syahril, Dirjen PAUDikdasmen dan Pejabat yang Dilantik Bersamanya

@mrizal_w: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. – Pramoedya Ananta Toer

@thantawir: “Kau terpelajar, cobalah bersetia pada kata hati.” 97 Tahun Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

@SoeTjenMarching: Hari ini, 97 tahun yg lalu, penulis Indonesia yg luar biasa, lahir. Penulis ini dipenjara oleh Soeharto selama 13 tahun & disiksa dengan keji: Pramoedya Ananta Toer. Begitu besar jasa Soeharto dalam menghancurkan hidup seniman2 cerdas & berbakat.

@Widyastt__: Nasehat yang paling membekas buat ku dari karya nya pak Pramoedya Ananta Toer

@sahabatbuku_: Selamat Hari Lahir Pak Pramoedya Ananta Toer

@a__stoic: Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri. – Pramoedya Ananta Toer

@Indo_Nations: Saya lebih percaya kepada kekuatan kata daripada kekuatan peluru yang gaungnya hanya akan berlangsung sekian bagian dari menit, bahkan detik – Pramoedya Ananta Toer.

@terakotaid: Fisik dapat dipenjara, namun pikiran tak akan dapat dikekang. Pak Pram menunjukkan itu. Pramoedya Ananta Toer adalah potret, cerminan situasi sosial pada zamannya.

@sejutaluka: “Dan kemiskinan adalah kutukan bagi hati yang tidak sederhana. Ya, aku lihat hatinya tidak sederhana — riuh seperti pasar malam.” ~ Pramoedya Ananta Toer, Korupsi (1961).

@literarybase: Happy birthday to this legendary Indonesian writer, Pramoedya Ananta Toer! Karya-karyamu kan kami kenang slalu

Sosok Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer (6 Februari 1925 – 30 April 2006), secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia.

Dari Wikipedia ditulis, Pramoedya dilahirkan di Blora pada tahun 1925 di jantung Pulau Jawa, sebagai anak sulung dalam keluarganya.

Baca Juga:  Profil Kombes Pol Faizal Ramadhani, Alumni Akpol 1996, Dirreskrimum Polda Papua

Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya seorang penjual nasi. Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora.

Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa “Mas” dari nama tersebut dan menggunakan “Toer” sebagai nama keluarganya.

Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.

Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan.

Ia menulis cerpen serta buku di sepanjang karier militernya dan ketika dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya

Dan ketika kembali ke Indonesia ia menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia.

Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi.

Hal ini menciptakan friksi antara Pramoedya dan pemerintahan Soekarno.

Pramoedya bersama rekan-rekan saat sedang melakukan kerja paksa di pulau Buru

Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan.

Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun masih dapat menyusun serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia.

Empat seri novel semi-fiksi sejarah Indonesia yang menceritakan perkembangan nasionalisme Indonesia dan sebagian berasal dari pengalamannya sendiri saat tumbuh dewasa.

Baca Juga:  Jejak Karier Alexandra Askandar, Gabung Tahun 2000 Kini Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri

Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsaysay Award (1995) diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat ‘protes’ ke yayasan Ramon Magsaysay.

Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai “jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang” pada masa Demokrasi Terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.

Akan tetapi, beberapa hari kemudian, Taufiq Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu.

Katanya, bukan menuntut ‘pencabutan’, tetapi mengingatkan ‘siapa Pramoedya itu’.

Katanya, banyak orang tidak mengetahui ‘reputasi gelap’ Pram dulu.

Dan pemberian penghargaan Magsaysay dikatakan sebagai suatu kecerobohan.

Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya pada masa pra-1965 itu tidak lebih dari ‘golongan polemik biasa’ yang boleh diikuti siapa saja.

Dia menyangkal terlibat dalam berbagai aksi yang ‘kelewat jauh’.

Semenjak Orde Baru berkuasa, Pramoedya tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka di koran.

Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan dirawat di rumah sakit.

Pada 27 April 2006, Pram sempat tak sadar diri.

Pram hanya bertahan tiga hari di rumah sakit. Setelah sadar, dia kembali meminta pulang.

Meski permintaan itu tidak direstui dokter, Pram bersikeras ingin pulang.

Sabtu 29 April, sekitar pukul 19.00, begitu sampai di rumahnya, kondisinya jauh lebih baik.

Meski masih kritis, Pram sudah bisa memiringkan badannya dan menggerak-gerakkan tangannya.

Kondisi Pram bertahan tanggal 30 April 2006 hingga pukul 22.00.

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...