Business is booming.

Kolonel Priyanto Divonis Seumur Hidup, Terbukti Lakukan Pembunuhan dan Coreng TNI

Ia (Priyanto) telah menyalahgunakan ilmunya untuk menghilangkan nyawa orang lain,

Meski pun berpangkat perwira TNI, Kolonel Inf  Priyanto divonis hukuman berat berupa penjara seumur hidup karena perbuatannya.

Oleh Majelis Hakim Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta, colonel Priyanto divonis penjara seumur hidup dan dipecat keanggotaanya dari dinas militer.

Ia dianggap bersalah dalam kasus kecelakaan lalu lintas yang menewaskan dua orang remaja bernama Handi Saptra dan Salsabila di Nagreg, Jawa Barat.

Kolonel Priyanto, alumni Akmil 1994 itu, dianggap melakukan pembunuhan berencana atas kematian Handi dan Salsabila.

Yakni dengan cara membuag kedua korban kecelakaan ke sungai demi menghilangkan jejak kejahatan.

Padahal mestinya jika mau bertanggungjawab, kolonel Pritanto membawanya ke rumah sakit terdekat.

Perbuatan itulah yang dianggap sebagai salah satu yang memberatkan mantan Kasi Intel Kasrem 133/NW (Gorontalo) Kodam XIII/Mdk tersebut.

Menurut Ketua Majelis Hakim Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta Brigjen TNI Faridah Faisal, perbuatan Priyanto dalam kasus itu telah merusak citra TNI AD.

Bahkan, majelis hakim menilai perbuatan Priyanto bertentangan pula dengan kepentingan militer yang sepatutnya senantiasa menjaga solidaritas kepentingan rakyat dan bertentangan dengan norma hukum, norma agama, dan tidak mencerminkan nilai Pancasila.

Majelis Hakim Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta juga mengatakan salah satu hal yang memperberat vonis terdakwa Kolonel TNI Priyanto adalah telah menyalahgunakan kapasitas sebagai prajurit.

Baca Juga:  Pidato Lengkap Presiden Jokowi tentang Krisis dan Pandemi 2021

“Terdakwa dalam kapasitasnya sebagai prajurit berpangkat kolonel dididik dan disiapkan negara untuk berperang, mempertahankan negara, namun telah menyalahgunakan ilmunya untuk menghilangkan nyawa orang lain,” ujar Brigjen TNI Faridah Faisal seperti dikutip dari Antara.

Adapun hal yang meringankan vonisnya, menurut majelis hakim, Priyanto telah menyesal atas seluruh perbuatan yang dilakukannya kepada kedua korban.

Atas pertimbangan terhadap hal yang memberatkan dan meringankan itu, majelis hakim menjatuhkan pidana pokok penjara seumur hidup dan pidana tambahan dipecat dari dinas militer.

Faridah menjelaskan vonis tersebut diberikan karena Kolonel Priyanto terbukti secara sah melakukan tindakan pembunuhan berencana, perampasan kemerdekaan, dan menghilangkan mayat dengan maksud menyembunyikan kematian.

Majelis hakim menilai Priyanto terbukti memiliki motif pembunuhan berencana atas kematian Handi dan Salsabila yang dibuang di sungai demi menghilangkan jejak kejahatan.

Pembuangan jasad Handi dan Salsabila itu, kata Faridah, dibantu dua anak buah Priyanto, yakni Kopda Andreas Dwi Atmoko dan Koptu Ahmad Sholeh ke Sungai Serayu, Banyumas, Jawa Tengah.

“Dengan demikian, majelis hakim sepakat terhadap unsur kedua berencana telah terpenuhi,” kata hakim.

Majelis hakim menyatakan Priyanto bersalah melanggar Pasal 340 KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang pembunuhan berencana, Pasal 333 KUHP tentang merampas kemerdekaan seseorang, dan Pasal 181 KUHP yang mengatur pidana menyembunyikan mayat atau kematian korban.

Sebelumnya, pada Kamis (21/4), dalam persidangan, Oditur Militer Tinggi II Jakarta Kolonel Sus Wirdel Boy menyampaikan Priyanto dituntut pidana pokok penjara seumur hidup dan pidana tambahan dipecat dari instansi TNI AD atas kasus dugaan pembunuhan Handi dan Salsabila.

Wirdel mengatakan, berdasarkan fakta di persidangan, perbuatan Priyanto terbukti telah memenuhi unsur dakwaan primer, yaitu Pasal 340 KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang pembunuhan berencana, kemudian dakwaan sekunder, yaitu Pasal 328 KUHP tentang penculikan, dan Pasal 181 KUHP yang mengatur pidana menyembunyikan mayat atau kematian korban.

Kronologi Kasus Kolonel Priyanto

Baca Juga:  Polri Akan Bentuk Direktorat Siber Khusus Nangani Kejahatan Pinjol dan Lain-lain

Kolonel Priyanto menjabat Kasi Intel Kasrem 133/NW (Gorontalo) Kodam XIII/Merdeka saat melakukan aksi pembunuhan berencana Handi dan Salsabila.

Kasrem Gorontalo bermarkas di Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

Saat itu ia berpergian ke Jakarta bersama Kopda Andreas Dwi Atmoko dan Koptu Ahmad Soleh, Mereka diminta mengantar Kolonel Priyanto dari Yogyakarta menuju Jakarta.

Saat itu, Kolonel Priyanto harus menghadiri rapat intel di Jakarta.

Mereka memutuskan berangkat dari Yogyakarta menuju Jakarta menggunakan jalur via Bandung.

Di Cimahi, Jawa Barat, Kolonel Priyanto menjemput teman wanitanya bernama Lala.

Nah, dalam perjalanan mereka menginap dua malam.

Selama menginap, Kolonel Priyanto selalu satu kamar dengan Lala yang diduga selingkuhannya karena sang kolonel sudah punya keluarga.

Namun dalam perjalanan pulang, mobil yang dikemudian menabrak pasangan Handi dan Salsabila di Nagreg.

Ironinya, atas perintah Priyanto, Handi dan Salsabila tidak dibawa ke rumah sakit terdekat, namun mayatnya dibuang ke sungai di Cilacap.

Belakangan mayat keduanya ditemukan warga mengabang di pinggir sungai.

Terungkaplah bahwa mereka korban kecelakaan mobil yang dikendarai Kolonel Priyanto dan sopirnya.

Kolonel Priyanto adalah alumni Akmil 1994.

Kolonel Inf Priyanto juga pernah menjabat sebagai Irutum Inspektorat Kodam IV/Diponegoro yang diemban mulai April 2019.

Pada tahun 2015 Inf Priyanto juga pernah bertugas sebagai Dandim 0730 Gunung Kidul.

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...