Business is booming.

Profil Prof Dr Yuddy Chrisnandi, Sudah Mantan Dubes Masih Dapat Tanda Kehormatan

'Cinta Keduaku Berlabuh di Ukraina' Judul Buku Ketiga karya Yuddy Chrisnandi.  

Duta Besar Indonesia untuk Ukraina, Georgia dan Armenia periode 2017-2021 Yuddy Chrisnandi memperoleh anugrah Order of Merit atau tanda kehormatan khusus dari Presiden Ukraina, Volodymyr Zlenskyy.

Duta Besar Ukraina untuk Indonesia, Vasyl Hamianin mengatakan, Yuddy  telah berjasa dalam memperkuat kerja sama, mendukung kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina, hingga mempopulerkan Ukraina di mata dunia.

“Yuddy sangat layak diberikan penghargaan. Dengan kerja keras Yuddy selama di Ukraina telah banyak berjasa bagi Ukraina. Bahkan setelah kembali ke Indonesia pun, Yuddy tetap memperjuangkan kemerdekaan Ukraina atas dasar kemanusiaan dan keadilan,” katanya seperti dikutip Antara.

Hal itu ia sampaikan saat kegiatan diskusi dan bedah buku ‘Cinta Keduaku Berlabuh di Ukraina’ karya Yuddy Chrisnandi.  Acara bedah buku yang dihadiri lebih dari 200 mahasiswa tersebut digelar di Auditorium Universitas Tangerang Raya.

“Pak Yuddy merupakan sosok manusia yang sangat berani dan luar biasa. Dia sebagai pemuda yang saya pikir orang Indonesia pertama dalam sejarah yang pernah mendapatkan kehormatan negara dari Presiden Ukraina. Saya ucapkan selamat untuk Pak Yuddy,” ujar Vasyl.

Buku terbaru yang berjudul ‘Cinta Keduaku Berlabuh di Ukraina’ merupakan buku ketiga karya Yuddy mengenai Ukraina. Buku ini menyusul buku sebelumnya yakni ‘Dari KYIV Menulis Indonesia’ yang diluncurkan pada 9 Oktober 2019. Sedangkan buku ‘Perjalanan Tahun Ketiga Dubes RI di Kyiv’ adalah karya Yuddy lainnya.

Baca Juga:  Profil Ratih Kumala, Penulis Novel Gadis Kretek yang Akan Dijadikan Serial TV di Netflix

Profil Yuddy Chrisnandi

Dirangkum dari Wikpedia, Prof. Dr. H. Yuddy Chrisnandi, S.E., M.E. lahir 29 Mei 1968. Ia adalah seorang politisi asal Indonesia yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi di Kabinet Kerja dari 2014 sampai 2016.

Setelahnya, Presiden Joko Widodo memberi mandat kepadanya untuk menjadi Duta Besar Indonesia untuk Ukraina.

Ia merupakan politisi Partai Golongan Karya yang mengawali karier sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat periode 1997–1999.

Yuddy Chrisnandi pada mulanya merupakan kader Golongan Karya yang turut aktif menjadi bagian dari Kelompok Kerja Organisasi Kaderisasi dan Keanggotaan pada 1991.

Kemudian, ia diangkat menjadi anggota Badan Pemenangan Pemilihan Umum Bidang Seni dan Budaya dari 1995 sampai 1997. Pada tahun 1998 hingga 2004, ia duduk di Departemen Pemuda, serta Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Dewan Pimpinan Pusat Partai Golongan Karya.

Berangkat dari posisinya sebagai politisi, Yuddy menduduki kursi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Utusan Golongan selama dua tahun setelah pemilihan umum 1999 dilaksanakan.

Pada 2004, Yuddy maju sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat untuk daerah pemilihan Jawa Barat II.

Pada 2009, Yuddy mengajukan dirinya dalam konvensi calon presiden pada Pemilu Presiden 2004 melalui partainya. Selain itu, ia juga menjadi calon Ketua Umum Partai Golongan Karya.

Awal tahun 2016, Yuddy merilis kinerja akuntabilitas kementerian dan lembaga-lembaga negara. Sejumlah kementerian diberi nilai dan diberi peringkat.

Ada yang mendapat nilai tertinggi seperti Kementerian Keuangan. Akan tetapi, ada juga yang mendapat nilai paling rendah, yakni Kejaksaan Agung.

Yuddy mengatakan, dapat diketahui sejauh mana tingkat akuntabilitas atau pertanggungjawaban atas hasil penggunaan anggaran.

Namun sejumlah politisi mengatakan bahwa Yuddy telah melakukan kegaduhan politik di dalam Kabinet Kerja karena merilis penilaian rendah kinerja menteri.

Baca Juga:  Profil Marsdya TNI Andyawan Martono, AAU 1989, Kini Pangkogabwilhan II

Yuddy mengemukakan larangan bermain Pokemon Go melalui cuitan Twitter dan surat edaran resmi MenPANRB.

Aplikasi permainan yang populer di seluruh dunia ini dianggap Yuddy berbahaya bagi keamanan dan kerahasiaan instalasi pemerintah.

Sikap Yuddy direspon negatif di jejaring sosial Indonesia. Banyak pihak merasa sikap ini berlebihan karena setiap aplikasi berbasis posisi global yang telah digunakan masyarakat luas memiliki potensi bahaya yang sama.

Menjelang turun jabatan, Yuddy memberikan pernyataan kepada media bahwa dirinya berkeinginan untuk menjadi duta besar di negara kecil.

Hal tersebut disebabkan karena keinginannya untuk menulis dan mengajar sehingga Yuddy berharap mendapatkan jabatan yang tidak terlalu sibuk.

Pernyataan Yuddy kembali menuai kontroversi dan kritikan pedas dari warganet.

Dan Akhirnya pada tanggal 13 Maret 2017 ia dilantik menjadi Duta Besar Indonesia untuk Ukraina di Kyiv.

Selain memperoleh Order of Merit, tahun 2021 Yuddy juga memperoleh penghargaan Diplomat of the Year.

Bukan hanya karier politik yang sukses, Yuddy juga lancar di bidang akademis. Ia memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (S.E.) dari Universitas Padjadjaran tahun 1991.

Selanjutnya Gelar Magister Ekonomi (M.E.) dari Universitas Indonesia tahun 1997 dan gelar doktoral dari Universitas Indonesia (2004).

Saat menjabat Menteri PAN/RB Yuddy memperoleh gelar profesor.

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...