Business is booming.

Profil Lengkap Prof Azyumardi Azra, Ketua Dewan Pers dan Cendekiawan Muslim Ternama

Buku berjudul  Karsa untuk Bangsa: 66 Tahun Azyumardi Azra, CBE jadi karya terakhirnya

Innalillahi trending. Kabar meninggalnya cendekiawan muslim yang terakhir menjabat Ketua Dewan Pers Prof Dr Azyumardi Azra menjadi kabar teratas.

Ya mantan rektor UIN Jakarta itu meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Malaysia, Minggu (18/9/2022).

Azyumardi melawat ke Malaysia dalam rangka memenuhi undangan dari Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) untuk menghadiri Konferensi Internasional Kosmopolitan Islam pada 17 September 2022.

Namun dalam perjalanan Azyumardi mendadak terserang batuk keras, panjang, disertai sesak nafas di atas pesawat.

“Salah satu pembicara pada konferensi #ABIM di Bangi besok, Prof Azyumardi Azra dari Indonesia, dilarikan ke RS Serdang setibanya di KLIA dari Jakarta setelah dikabarkan mengalami sesak napas selama penerbangan. Azyumardi adalah presiden Dewan Pers Indonesia.” Demikian kicauan akun @KL_Reporter

“Dari bandara Azyumardi langsung dilarikan ke RS Serdang, Selangor, Malaysia, yang berjarak 35 km dari Kuala Lumpur,” kata Ilham Bintang, wartawan senior.

Professor Azyumardi Azra dikenal luas sebagai cendekiawan yang produktif terutama dalam menulis buku/artikel di media. Ia aktif mewacanakan keislaman, keindonesiaan, demokrasi.

Tahun 2022 ia memperoleh penghargaan sebagai Penulis Paling Produktif, dari Penerbit Mizan, Bandung.

Dalam rangka merayakan ulang tahunnya Maret 2022 lalu, ia sempat menerbitkan buku berjudul  Karsa untuk Bangsa: 66 Tahun Azyumardi Azra, CBE.

Rupanya itu menjadi buku terakhir yang dibuatnya.

Profil Lengkap Azyumardi Azra

Dirangkum dari wikipedia, Prof. Dr. H. Azyumardi Azra, M.Phil., M.A., CBE kelahiran ahir 4 Maret 1955.

Ia menjabat Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta antara 1998 hingga 2006.

Pada 2010, ia memperoleh gelar kehormatan Commander of the Order of British Empire, dari Kerajaan Inggris dan menjadi ‘Sir’ pertama dari Indonesia.

Baca Juga:  Selain Timsus, 25 Anggota Propam Terkait Kematian Brigadir J Ditangani Irsus

Pada 2022, ia terpilih menjadi Ketua Dewan Pers periode 2022-2025.

Azyumardi memulai karier pendidikan tingginya sebagai mahasiswa sarjana di Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 1982.

Kemudian atas bantuan beasiswa Fulbright, ia mendapakan gelar Master of Art (MA) pada Departemen Bahasa dan Budaya Timur Tengah, Universitas Columbia tahun 1988.

Ia memenangkan beasiswa Columbia President Fellowship dari kampus yang sama, tetapi kali ini Azyumardi pindah ke Departemen Sejarah, dan memperoleh gelar MA pada 1989.

Pada 1992, ia memperoleh gelar Master of Philosophy (MPhil) dari Departemen Sejarah, Universitas Columbia tahun 1990.

Lalu Doctor of Philosophy dengan disertasi berjudul The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Network of Middle Eastern and Malay-Indonesian ‘Ulama ini the Seventeenth and Eighteenth Centuries.

Tahun 2004 disertasi yang sudah direvisi diterbitkan secara simultan di Canberra (Allen Unwin dan AAAS), Honolulu (Hawaii University Press), dan Leiden, Negeri Belanda (KITLV Press).

Kembali ke Jakarta, pada tahun 1993 Azyumardi mendirikan sekaligus menjadi pemimpin redaksi Studia Islamika, sebuah jurnal Indonesia untuk studi Islam.

Pada tahun 1994-1995 dia mengunjungi Southeast Asian Studies pada Oxford Centre for Islamic Studies, Universitas Oxford, Inggris, sambil mengajar sebagai dosen pada St. Anthony College.

Azyumardi pernah pula menjadi profesor tamu pada Universitas Filipina dan Universitas Malaya, Malaysia keduanya pada tahun 1997.

Selain itu, dia adalah anggota dari Selection Committee of Southeast Asian Regional Exchange Program (SEASREP) yang diorganisir oleh Toyota Foundation dan Japan Center, Tokyo, Jepang antara tahun 1997-1999.

Sejak Desember 2006 menjabat Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Sebelumnya sejak tahun 1998 hingga akhir 2006 Azyumardi Azra adalah Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Baca Juga:  Grup E Trending, Jerman vs Spanyol Langsung Bentrok di Babak Penyisihan Grup Piala Dunia 2022

Ia pernah menjadi Wartawan Panji Masyarakat (1979-1985), Dosen Fakultas Adab dan Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (1992-sekarang).

Guru Besar Sejarah Fakultas Adab IAIN Jakarta, dan Pembantu Rektor I IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (1998).

Ia juga merupakan orang Asia Tenggara pertama yang di angkat sebagai Professor Fellow di Universitas Melbourne, Australia (2004-2009), dan anggota Dewan Penyantun (Board of Trustees) Universitas Islam Internasional Islamabad Pakistan (2004-2009).

Ia juga masih menjadi salah satu anggota Teman Serikat Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan.

Azyumardi menikah dengan Ipah Farihah dan dikaruniai 4 anak, yakni Raushanfikri Usada, Firman El-Amny Azra, Muhammad Subhan Azra, dan Emily Sakina Azra.

Azyumardi Azra dikenal sebagai Profesor yang ahli sejarah, sosial, dan intelektual Islam.

Ketika menjadi Rektor pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, ia melakukan terobosan besar terhadap institusi pendidikan tersebut.

Pada Mei 2002, IAIN tersebut berubah nama menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Hal ini merupakan kelanjutan ide Rektor terdahulu Prof.Dr. Harun Nasution, yang menginginkan lulusan IAIN haruslah orang yang berpikiran rasional, modern, demokratis, dan toleran.

Pada awalnya, sesungguhnya Azyumardi tidak berobsesi atau bercita-cita menggeluti studi keislaman.

Sebab, ia lebih berniat memasuki bidang pendidikan umum di IKIP.

Akan tetapi, karena desakan ayahnya, Azyumardi masuk ke IAIN sehingga ia kini dikenal sebagai tokoh intelektual Islam Indonesia.[butuh rujukan] Dia lahir dari ayah Azikar dan Ibu Ramlah.

Pada 2006, posisinya sebagai Rektor resmi digantikan oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat.

Dalam rapat senat yang ia pimpin sendiri, Komarudin Hidayat terpilih menggantikannya dengan mengalahkan dua kandidat lainnya.

Buku-buku yang ia terbitkan:

Jaringan Ulama, terbit tahun 1994

Baca Juga:  Karin dan Gangga Trending Bersamaan, Benarkah Mereka Putus, Karin Kena Prank Lamaran?

Pergolakan Poitik Islam, terbit tahun 1996

Islam Reformis, terbit tahun 1999

Konteks Berteologi di Indonesia, terbit tahun 1999

Menuju Masyarakat Madani, terbit tahun 1999

Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, terbit tahun 1999

Esei-esei Pendidikan Islam dan Cendekiawan Muslim,1999

Renaisans Islam di Asia Tenggara – buku ini berhasil memenangkan penghargaan nasional sebagai buku terbaik untuk kategori ilmu-ilmu sosial dan humaniora pada tahun 1999, terbit tahun 1999

Islam Substantif, terbit tahun 2000

Historiografi Islam Kontemporer: Wacana, Aktualitas dan Aktor Sejarah (2002)

Paradigma Baru Pendidikan Nasional: Rekonstruksi dan Demokratisasi (2002)

Reposisi Hubungan Agama dan Negara (2002)

Menggapai Solidaritas: Tensi antara Demokrasi, Fundamentalisme, dan Humanisme (2002)

Konflik Baru Antar-Peradaban: Globalisasi, Radikalisme, dan Pluralitas

Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal (2002)

Surau: Pendidikan Islam Tradisional dalam Transisi dan Modernisasi (2003)

Disertasi doktor berjudul “The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Network of Middle Eastern and Malay-Indonesian ‘Ulama in the Seventeenth and Eighteenth Centuries’”, pada tahun 2004 sesudah direvisi diterbitkan secara simultan di Canberra (Allen Unwin dan AAAS), di Honolulu (Hawaii University Press), dan di Leiden Negeri Belanda (KITLV Press).

Indonesia Bertahan (DARI MENDIRIKAN NEGARA HINGGA MERAYAKAN DEMOKRASI) 2020

Karsa untuk Bangsa: 66 Tahun Azyumardi Azra, CBE 2022

Penghargaan

Penulis Paling Produktif, dari Penerbit Mizan, Bandung, tahun 2002

Commander of the Most Excellent Order of the British Empire(CBE), dari Kerajaan Britania Raya, tahun 2010.

Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture (SML) dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), tahun 2017.

Order of Rising Sun: Gold and Silver Star, dari Kaisar Jepang, tahun 2017.

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...