Business is booming.

58 Kali Gempa di Tapanuli Utara, Seorang Meninggal Dunia, Bangunan Rusak

Hingga pukul 08.30 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 58 kali aktivitas gempa bumi susulan

Gempa di Tapanuli Utara, Sabtu (1/10/2022) dini hari ternyata memang cukup parah.

Selain terjadi hingga 58 kali gempa susulan sejak gempa pertama, juga dilaporkan banyak kerusakan.

Bahkan dikabarkan membuat seorang warga meninggal dunia.

Hingga pukul 08.30 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 58 kali aktivitas gempa bumi susulan dengan magnitudo terbesar M 5,1 dan magnitudo terkecil M 2,5.

Disebutkan, sesuai hasil permodelan, gempa bumi ini tidak berpotensi tsunam

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tapanuli Utara, Bonggas Pasaribu mengatakan bahwa gempa tersebut mengakibatkan satu orang meninggal dan beberapa orang terluka.

Gempa dengan magnitudo 5,8 yang terjadi pada Sabtu dini hari juga menyebabkan kerusakan rumah dan fasilitas umum.

Bonggas mengatakan bahwa gempa bumi memicu terjadinya kebakaran kios, menyebabkan tanah longsor dan badan jalan rusak.

Serta mengakibatkan kerusakan rumah warga dan tempat ibadah.

Tempat ibadah yang rusak akibat gempa antara lain Gedung HKBP Tarutung Kota di Kota Tarutung. Selain itu, tidak sedikit rumah warga yang mengalami kerusakan akibat gempa.

“Sepanjang 50 hingga 60 meter badan jalan menuju kawasan wisata Salib Kasih juga tertutup material tanah longsor setinggi tiga meter,” kata Bonggas.

Ia menambahkan, pemerintah kabupaten mengerahkan alat berat untuk membersihkan longsoran tanah di kawasan wisata Salib Kasih.

Menurut dia, gempa juga menyebabkan kerusakan seratusan meter bagian jalan di Desa Simorangkir, Kecamatan Siatasbarita, serta seratusan meter bagian jalan di Desa Hutapea Banuarea, Kecamatan Tarutung.

“Saat ini kita masih terus mendata kerusakan yang timbul akibat gempa bumi,” katanya.

Baca Juga:  Profil Kolonel Inf Andiek Prasetyo Awibowo, Akmil 1996, Pecah Bintang Satu

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa gempa yang terjadi di Tapanuli Utara pusatnya berada di darat pada kedalaman 10 km di koordinat 2,11 derajat Lintang Utara dan 98,83 derajat Bujur Timur.

Menurut Pelaksana Tugas Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, gempa bumi tersebut termasuk jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar besar Sumatra segmen Renun.

 

Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak, terbang ke Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) usai diguncang gempa yang berkekuatan 6 SR, Sabtu dini hari.

“Pak Kapolda Sumut naik heli, dan terbang ke Kabupaten Taput,” kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Hadi Wahyudi, di Medan, Sabtu.

Hadi menyebutkan, bahwa Kapolda Sumut ingin memastikan kondisi warga Tapanuli Utara, dan sekaligus memberikan bantuan kesehatan jika ada masyarakat yang terluka akibat guncangan gempa tersebut.

“Untuk data warga baik yang terluka maupun rumah rusak akibat gempa masih dalam pencatatan,” ucap Hadi.

Pusat gempa berada di darat, yakni 15 kilometer Barat Laut, Kabupaten Tapanuli Utara, dan tidak berpotensi terjadi tsunami.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Tapanuli Utara, Indra Sahat Hottua Simaremare menjelaskan, data sementara gempa bumi di Taput, yakni satu orang meninggal dunia, sembilan orang luka, kebakaran 18 kios di Pasar Sarulla, sejumlah rumah warga dan fasilitas umum mengalami kerusakan.

Baca Juga:  Peringatan Peristiwa Kerusuhan 27 Juli, PDIP Gelar Talk Shaw dan Nobar

“Tujuh korban luka sedang menjalani perawatan intensif di RSUD Tarutung, sementara dua orang lainnya dirawat di puskesmas,” ujar Indra.

Sebelumnya, Pelaksana tugas Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika Daryono mengungkapkan, wilayah Tapanuli Utara diguncang gempa tektonik yang memiliki parameter terkini hasil analisis 5,8 magnitudo yang memiliki dampak getaran dan dirasakan oleh semua penduduk Taput, Sabtu.

Dalam siaran pers BMKG, gempa bumi terjadi pada pukul 02.28.41 WIB, Sabtu, 1 Oktober 2022, dengan episenter gempa bumi terletak pada koordinat 2,11° LU ; 98,83° BT, atau tepatnya berlokasi di darat wilayah Tapanuli Utara, Sumatera Utara pada kedalaman 10 km.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar besar Sumatra segmen Renun. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser atau ‘strike slip’,” katanya.

Gempa bumi tersebut berdampak dan dirasakan di daerah Tarutung dengan skala intensitas VI MMI (Getaran dirasakan oleh semua penduduk dan semua terkejut dan lari), dan daerah Sipahutar dengan skala intensitas V MMI (Getaran dirasakan hampir semua penduduk, orang banyak terbangun).

Kemudian, daerah Singkil dengan skala intensitas IV MMI (Bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak di dalam rumah), daerah Tapaktuan dan Gunung Sitoli dengan skala intensitas III MMI (Getaran dirasakan nyata di dalam rumah. Terasa getaran seakan- akan truk berlalu).

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...