Potret Taman Nasional Tesso Nilo, Tampat Tari Meninggal Dunia
Tari, adalah anak gajah berusia dua tahun yang ditemukan meninggal dunia pada Rabu (10/09) pagi.
Tari, anak gajah berusia dua tahun, ditemukan meninggal dunia pada Rabu (10/09) pagi. Namun hingga pagi ini masih trending.
Tari adalah penghnni Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau.
Pihak Taman Nasional Tesso Nilo atau BTN Tessonilla kerap mambagikan perilaku Tari semasa hidup.
Sehari sebelumnya, Tari disebut masih aktif tanpa ada gejala sakit.
Jadi kini pblik mempertanyakan apa penyebab kematian Tari. Benarkah dibunuh karena diambl gadingnya,
Hari ini, keluarga besar Taman Nasional Tesso Nilo kehilangan salah satu anggota kecil yang paling berharga. Anak gajah binaan kami, Kalistha Lestari (Tari).
Tari lahir dan tumbuh di bawah kasih sayang induknya dan pendampingan para penjaga yang setiap hari merawatnya.
Sejak awal, Tari adalah sosok yang penuh keceriaan, polos, lincah, dan selalu menghadirkan senyum bagi siapa pun yang melihatnya …
Profil Singkat Taman Nasional Tesso Nilo?
Diambil dari berbagai sumber, Tesso Nilo adalah nama sebuah Taman Nasional di Provinsi Riau yang dikenal sebagai “Paru-Paru Indonesia” dan rumah bagi banyak satwa, termasuk gajah sumatra.
Awalnya ditetapkan sebagai kawasan konservasi, kini Tesso Nilo menghadapi ancaman serius seperti perambahan hutan untuk perkebunan kelapa sawit, yang telah mengurangi luas kawasan hutan secara signifikan hingga menyisakan sebagian kecil dari luas awalnya.
Tesso Nilo merupakan rumah bagi berbagai jenis hewan, termasuk gajah sumatra, harimau sumatra, dan rusa.
Taman Nasional ini ditetapkan sebagai salah satu kawasan lindung yang penting untuk melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem hutan hujan dataran rendah yang tersisa di Sumatera.
Tesso Nilo memegang peranan penting dalam menjaga kualitas udara dan keseimbangan ekosistem sebagai paru-paru dunia.
Kawasan Tesso Nilo sangat terancam oleh perambahan dan konversi lahan, terutama untuk perkebunan kelapa sawit.
Luas awal taman nasional sekitar 81.739 hektar, kini banyak berkurang menjadi hanya sekitar 12.561 hektar akibat perambahan.
Berbagai pihak seperti pemerintah, aktivis lingkungan, dan masyarakat berupaya melakukan pemulihan melalui program rehabilitasi ekosistem, penertiban lahan ilegal, dan pemberdayaan masyarakat.