Profil Jerome Polin, Ayahnya Marojahan Sintong Sijabat, Meninggal Dunia Usia 58 Tahun
Marojahan Sintong Sijabat adalah seorang pendeta dan menikah dengan Chrissie Rahmeinsa, ibu rumah tangga, dan memiliki tiga putra Jehian Panangian Sijabat (29 tahun), Jerome Polin (27 tahun) dan Jesferrel Porman Sijabat (18 tahun).
Marojahan Sintong Sijabat, ayah youtuber Jerome Polin meninggal dunia dalam usia 58 tahun.
Marojahan Sintong Sijabat meninggal dunia di Rumah Sakit Nasional Hospital Surabaya pada Kamis (30/10/2025).
Marojahan Sintong Sijabat adalah seorang pendeta dan menikah dengan Chrissie Rahmeinsa, ibu rumah tangga.
Ia memiliki tiga orang anak yakni Jehian Panangian Sijabat (29 tahun), Jerome Polin Sijabat (27 tahun) dan Jesferrel Porman Sijabat (18 tahun).
Ketiganya dikenal sebagai anak-anak pintar dan berprestasi. Jarome Polin terkenal lebih luas duluan karena dia tergolong selebrities internet.
Jerome Polin yang sempat mengunggah melalui akun Instagram pribadinya kondisi sang ayah saat kritis terbaring di rumah sakit.
Profil Jerome Polin
Jerome Polin Sijabat (lahir 2 Mei 1998) adalah seorang YouTuber, selebritas internet, dan guru matematika berkebangsaan Indonesia.
Jerome dikenal setelah memulai kanal YouTube bernama Nihongo Mantappu yang membagikan kehidupan pribadinya sebagai mahasiswa Indonesia di Jepang.
Jerome membuat konten vlog cara belajar bahasa Jepang, matematika, dan kesehariannya selama berada di Jepang.
Jerome menyelesaikan kuliah tingkat Strata 1 (S1) di Universitas Waseda, Shinjuku, Tokyo, Jepang, program studi matematika terapan.
Saat ini, dia menjabat sebagai CEO Mantappu Corp. dan bersama kakaknya, Jehian Panangian Sijabat, mempunyai bisnis minuman teh bernama Menantea, serta mengembangkan pusat bimbingan belajar matematika bernama Mantappu Academy dan lapangan padel bernama Beyond Padel.
Pada bulan April 2021, Jerome bersama Jehian masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia.
Jerome lahir berdekatan dengan kerusuhan yang terjadi di Jakarta tahun 1998.
Pada tahun 2001, keluarga Jerome pindah ke Kota Malang, Jawa Timur, di mana saat itu Jerome mengeyam pendidikan kelompok bermain dan taman kanak-kanak di Sekolah Taman Harapan, Malang.
Hingga pada tahun 2004, keluarga Jerome pindah ke Kota Surabaya.
Setelah pindah ke Surabaya, Jerome bersama saudaranya Jehian Panangian Sijabat ini mengeyam pendidikan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Sekolah Intan Permata Hati, Surabaya, dengan mendapat beasiswa.
Pada tahun 2013 ini, Jerome mengeyam jenjang sekolah menengah atas di SMA Negeri 5 Surabaya.
Ketika berada di kelas 2 SD, Jerome berkeinginan untuk berkuliah di luar negeri.
Setelah lulus SMA, keinginan untuk kuliah di luar negeri tersebut mengalami kendala karena orang tuanya memiliki keterbatasan ekonomi, sehingga Jerome mencoba mengambil program beasiswa.
Mulanya, Jerome mengikuti ujian seleksi program beasiswa ke Universitas Teknologi Nanyang Singapura di Jakarta.
Dua bulan setelah tes, Jerome dinyatakan lulus seleksi namun hanya memperoleh setengah beasiswa.
Karena jumlah beasiswa yang akan diterima tidak penuh, Jerome membatalkan mengambil beasiswa ke Singapura.
Jehian menyarankan agar ia mengikuti program beasiswa dari sebuah perusahaan asal Jepang, yakni Mitsui–Bussan, yang bisa memberikan beasiswa penuh.
Jerome kemudian mengikuti ujian seleksi tersebut dan dinyatakan lulus untuk mendapat beasiswa dari program Mitsui–Bussan Scholarship dan berkuliah di Universitas Waseda, Shinjuku, Tokyo, Jepang.
Ia mendapat dukungan beasiswa sebanyak ¥ 150.000 atau sekitar Rp 18.900.000 per bulan.
Pada tanggal 26 Maret 2022, Jerome lulus dari kuliah di Universitas Waseda setelah melaksanakan wisuda dan mendapatkan gelar Bachelor of Engineering atau Sarjana Teknik.