Profil Baskara Putra, Trending karena Prihatin dengan Pidato Prabowo
Baskara sering kali memang sering menggunakan sudut pandang kelas pekerja (generasi muda/Gen Z dan Milenial) yang merasa terhimpit oleh kebijakan pemerintah.
Musisi Baskara Putra trending. Penyanyi dan penulis lagu yang lebih dikenal dengan mononim Hindia ikut mengomentari pidato presiden Prabowo Subianto.
Melalui akun X nya @wordfangs ia mengomentari pidato Presiden Prabowo Subianto dalam acara Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XVII di Gorontalo.
Pidato tersebut dibagikan akun@boxxtoc dengan caption dari sekian banyak pidato, pidato kali ini bener bener nyesekRakyat yang bayar gaji kalian, dikritik malah dibales. “EMANG GUE PIKIRIN” dan disambut tepuk tangan yang meriah
Baskara Putra mengomentari potongan video pidato tersebut dengan cuitan. “Turun lagi nih penerimaan pajak tahun depan”
Dalam pidato itu Prabowo keceplosan bilan “Ndasmu” Saat menyindir mengenai distribusi kemakmuran ekonomi.
Ia menyebutkan bahwa kekayaan yang dinikmati segelintir orang kaya nantinya akan pelan-pelan menetes ke bawah (trickle-down effect).
Secara spontan, ia menyeletuk, “Kekayaan yang ada dinikmati segelintir orang akan pelan-pelan netes ke bawah. “Ndasmu! Eh, sorry sorry.”
Prabowo juga menyatakan “Emang Gue Pikirin” Setelah menyadari ucapan kasarnya terekam oleh awak media, Prabowo langsung berseloroh meminta para wartawan yang hadir untuk kompak menghapus bagian tersebut agar dirinya tidak diserang publik.
Baskara Putra kemudian menulis komentar tambahan, Efek domino yang akan ditimbulkan video ini bakal gila.
Mengapa Baskara Putra dan banyak netizen di platform X merasa miris melihat respons santai “Emang gue pikirin” yang dilontarkan oleh seorang kepala negara.
Apalagi pernyataan tersebut justru disambut dengan gelak tawa dan tepuk tangan meriah dari para pejabat serta audiens yang hadir di lokasi.
Pemandangan tersebut membuat masyarakat sipil (kelas pekerja) akan semakin malas dan kehilangan respek untuk membayar pajak, karena melihat perilaku dan gaya komunikasi pemimpin negara yang dinilai tidak mencerminkan wibawa serta kurang berempati pada etika publik.
Baskara sering kali memang sering menggunakan sudut pandang kelas pekerja (generasi muda/Gen Z dan Milenial) yang merasa terhimpit oleh kebijakan pemerintah.
Beberapa isu utama yang sering ia soroti antara lain Ketimpangan Ekonomi & Pajak.
Ia sering menyindir bagaimana pajak dari masyarakat kelas pekerja digunakan untuk membiayai fasilitas dan tunjangan mewah para pejabat atau anggota DPR.
Sementara fasilitas publik bagi warga biasa masih minim.
Baskara vokal menyuarakan keresahan anak muda tentang mahalnya harga rumah, inflasi, sulitnya mencari kerja, dan fenomena kelas menengah yang semakin rentan secara finansial.
Profil Baskara Putra
Dilansir dari Wikipedia, Daniel Baskara Putra, atau lebih dikenal dengan mononim Hindia lahir 22 Februari 1994 (32 tahun) adalah penyanyi-penulis lagu, produser rekaman, dan komposer Indonesia.
Ia merupakan vokalis grup musik .Feast, juga merupakan anggota grup band yang dibentuk tahun 2019 bernama Lomba Sihir.
Ia memulai perjalanan karier musiknya pada tahun 2011 ketika bersama teman-temannya ia mendirikan grup musik Feast.
Pada tahun 2018, ia memutuskan untuk beralih menjadi penyanyi solo dengan menggunakan nama Hindia, merilis lagu “No One Will Find Me” dari album kompilasi Bertamu.
Pada 2025, Baskara mendapatkan Penghargaan Fortune Indonesia 40 Under 40.
Penghargaan ini diberikan pada acara Fortune Indonesia Summit 2025, 6 Februari 2025 di The Westin Jakarta.
Daftar yang dikeluarkan oleh Fortune Indonesia ini berisi 40 orang muda Indonesia paling berpengaruh pada berbagai sektor yang belum berusia 40 tahun per 31 Desember 2024.
Selain sebagai penyanyi dan musikus, Baskara juga sempat menjadi dosen tamu di Universitas Indonesia
Baskara Putra mengawali semuanya dari rumah keluarganya di Bintaro dan juga ia mengawali semua kariernya dari game online,”Gate gue tuh sebenernya semuanya dari, game online”. Ujarnya pada interview di VOLIX / Viniar pada tahun 2025.
Dia mulai merancang banyak desain untuk klan gamenya itu, akhirnya mulai meng-utak-atik aplikasi Photoshop.
Dari SD hingga SMP, dia bercita-cita menjadi Arsitektur.
“Gue kalo ditanya kaya, ‘mau jadi apa nanti?’ Ya gue selalu jawab Arsitektur, karena yang hasilin duit (pada saat itu), cuma itu doang. Sampai.. di masuk-masuk kelas 9 gue baru tau, adanya namanya tuh ‘Visual Desainer’ dan akhirnya gue berubah haluanya disitu.”
Memulai masa SMA, ia mulai bermain band, meskipun tidak serius dan dirinya masih di bidang Visual, tetapi di titik itu dia menemukan nama yang sekarang menjadi Mononimnya, Hindia.
“Waktu itu gue lagi study tour, akhirnya ke museum gitu kan di Jogja, waktu itu gue nemu lukisanya Raden Saleh tentang Hindia Belanda. Waktu itu namanya udah ada, cuma musiknya belum ada di pikiran.”
Menjelang kuliah, dia ditawari untuk kuliah dari Singapura (hasil Beasiswa), namun dia ber-alih dan masuk di jurusan Komunikasi di Universitas Indonesia.
Di sana dia mulai membentuk kembali projeknya, dia bertemu dengan Adnan Satyanugraha Putra “Adnan” (gitaris dari .Feast).
.Feast awalnya hanya projek Duo, antara Baskara Putra & Adnan.
Ia melanjutkan proyek Hindia, beberapa tahun setelah .Feast sudah aman untuk tidak terlalu di-urusi secara serius pada bisnis.