Profil dr Nadia Nur Asifa, Raih IPK 4,00 dan Pilih Pulang Kampung
Berbeda dengan kebanyakan dokter spesialis baru yang memilih berkarier di kota-kota besar, dr. Nadia memutuskan untuk langsung pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Nama dr. Nadia Nur Asifa, M.Med.Sc., Sp.D.V.E. kini dalam sorotan karena prestasi akademiknya.
Ia adalah seorang dokter spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika (spesialis kulit dan kelamin) lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Sosoknya menjadi viral dan menuai banyak pujian karena berhasil lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00 pada wisuda program Pascasarjana UGM periode Oktober 2026.
Capaian dr. Nadia tergolong sangat langka dan luar biasa mengingat ketatnya beban kerja pelayanan pasien di rumah sakit serta tuntutan akademik selama menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).
Raihan ini sangat membanggakan, mengingat IPK rata-rata untuk 89 lulusan Program Spesialis periode tersebut adalah 3,82 pada penghelatan wisuda program Pascasarjana UGM pada 28-29 oktober lalu.
Nadia mengaku bersyukur bisa mengukir prestasi akademik tertinggi.
Menurutnya, hasil pencapaian luar biasa ini menjadi pengingat atas proses panjang dan perjuangan yang telah dilaluinya selama masa residensi.
“Saya tentu merasa senang dan sangat bersyukur. Capaian ini menjadi pengingat atas proses dan perjalanan yang sudah saya lalui selama masa residensi. Semoga apa yang saya dapatkan bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat ke depannya, ” ungkap Nadia seperti dikutip dari Web UGM, ugm.ac.id
Secara khusus, ia juga mengapresiasi bimbingan dari Dosen Pembimbing Akademik (DPA), Prof. Dr. med. dr. Retno Danarti, Sp. DVE, Subsp. D.A. , yang tidak hanya membimbingnya dalam penulisan ilmiah dan bidang genodermatologi, tetapi juga selalu memberikan perhatian serta penguatan moril selama studi.
“Tak lupa,dukungan dan kebersamaan dari rekan sesama residensi turut menguatkan perjalanannya melewati masa-masa sulit,” kenangnya.
Berbeda dengan kebanyakan dokter spesialis baru yang memilih berkarier di kota-kota besar, dr. Nadia memutuskan untuk langsung pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Nama rumah sakit daerah atau klinik swasta tempatnya bertugas secara permanen di Wonosobo belum dipublikasikan secara mendetail dalam rilis resmi kelulusannya.
Yang pasti ia memiliki ketertarikan klinis khusus pada bidang dermatologi anak, khususnya dalam penanganan penyakit dermatitis atopik (eksem susu/eksem kulit pada anak).
Selain praktik medis, dr. Nadia juga menaruh perhatian besar pada misinformasi seputar perawatan kulit di media sosial.
Ke depannya, ia berkomitmen untuk aktif membagikan edukasi kesehatan kulit yang valid agar masyarakat tidak mudah termakan hoaks atau mitos kecantikan yang keliru.