Business is booming.

Mantan Calon Walikota dan Oknum Anggota TNI Terlibat Kasus Pembunuhan Wartawan Online

Mara Salem Harahap Dibunuh karena Berniat Memberitakan Kasus Narkoba

Kasus pembunuhan wartawan Mara Salem Harahap alias Marsal terungkap.

Tak tanggung-tanggung, para pelaku pembunuhan melihatkan mantan calon Wali Kota Siantar hingga oknum anggota TNI.

Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Hassanudin ikut dalam jumpa pers yang melibatkan anggotanya.

Ia hadir bersama Kapolda Sumatera Utara Irjen RZ Panca Simanjuntak.

Irjen Panca membeberkan bahwa pembunuhan Mara Salem Harahap, wartawan media online dilakukan dengan cara ditembak hingga mati.

Dalam kasus ini, Panca menyebut dalang pembunuhan adalah Sujito, mantan calon Wali Kota Siantar yang juga pemilik diskotek Ferari Siantar.

Selain Sujito, polisi juga menangkap Yudi, Humas diskotek Ferari.

Kemudian, adapun eksekutor yang menembak Marsal tak lain oknum anggota TNI berinisial AS.

Belakangan diketahui, AS merupakan anggota Yon Infantri 122/Tombak Sakti. AS berpangkat Prajurit Kepala (Praka).

Praka AS baru ditangkap pada Jumat (25/6/2021) dinihari kemarin.

Menurut Kepala Penerangan Kodam I/BB Letnan Kolonel Infanteri Donald Erickson Silitonga, saat ini Praka AS sudah diamankan di Pomdam I/BB.

“Saat ini yang bersangkutan sudah berada di Pomdam I/BB. Kami bekerja sama dengan Polda Sumut (melakukan pengungkapan kasus), dan ini lagi proses penyelidikan dan penyidikan,” kata Donald.

Dia mengatakan, Kodam I/BB tidak akan menutup-nutupi kasus ini.

Kodam I/BB akan terbuka memberikan informasi kepada masyarakat.

“Kita terbuka saja, tidak ada yang ditutupi. Apabila memang terbukti, sesuai dengan keterangan saksi dan barang bukti. Ini akan kita tindak tegas,” pungkas Donald.

Penangkapan Praka AS dipimpin langsung Wakil Asisten Intelijen Kodam I/BB Letkol Inf Robinson Tallupadang bersama Kasi Intel Korem 022/Pantai Timur Mayor Inf Ali Ramadhan Siregar.

Baca Juga:  Ucapan Bela Sungkawa dan Jejak Karier Neta S Pane, Meninggal karena Covid-19

Untuk menangkap Praka AS, Kodam I/BB, khususnya penyidik Intelijen Korem 022/Pantai Timur melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap sejumlah anggota yang diketahui sempat berkomunikasi dengan Praka AS.

Di hadapan Kapolda Sumut, Sujito mengaku dia lah yang memerintahkan anggota TNI untuk menembak Marsal hanya sebagai shock terapy saja.

Sujito mengaku kesal kepada Marsal yang terus-terusan meminta uang kepadanya.

“Saya sebenarnya mau beri shock teraphy. Cuma saya mengatakan, ini (korban) mau buat rusuh. Kalau enggak dibedil (ditembak), enggak bisa. Baru ada ketakutan dibuatnya,” kata Sujito, Kamis (24/6/2021).

Senada dengan Sujito, Yudi, anggotanya yang menjabat Humas di diskotek Ferari Kafe Bar and Resto menyampaikan sudah berupaya menjalin komunikasi dengan Marsal.

Namun tidak ada kata sepakat. Malah Yudi merasa resah, lantaran terus diancam akan diberitakan.

Atas keresahan itu, Yudi pun turut menyusun rencana penembakan Marsal.

Dalam paparan ini, polisi awalnya memeriksa 57 saksi beserta CCTV di sejumlah lokasi yang sempat disambangi korban.

“Modus operandi yang dilakukan oleh pelaku dan motif adalah tumbuhnya rasa sakit hati oleh S (Sujito) selaku pemilik kafe dan resto terhadap korban yang selalu memberitakan peredaran narkotika di tempatnya,” kata Irjen Panca Simanjuntak.

Namun demikian, korban Marsal Harahap juga justru meminta sejumlah uang sebagai syarat tak akan memberitakan hal yang buruk di lokasi usaha milik Sujito.

“Korban meminta uang sejumlah Rp 12 juta per bulan dan per harinya meminta 2 butir ekstasi, bisa dibayangkan teman teman?,” kata Kapolda.

Atas sikap korban, Sujito kemudian kesal dan merasa perlu memberi pelajaran kepada korban.

Sujito kemudian memanggil Yudi yang merupakan Humas di karaoke Ferari untuk menyusun rencana memberi pelajaran terhadap korban.

Baca Juga:  Aksi Demo Tolak PPKM Bermunculan, Netizen Minta Usut Dalangnya

Atas dasar tersebut Yudi selaku humas menindaklanjutinya.

Dia kemudian membicarakan masalah ini dengan AS di wilayah Siantar.

Adapun korban sebelum kejadian sempat minum-minum tuak di kedai milik Ibu Ginting di daerah Siantar.

Dari Praka AS disita uang tunai Rp 3.470.000, satu unit HP merk Vivo dan satu unit carger.

Usai diperiksa di Korem 022/Pantai Timur, Praka AS yang menjabat sebagai Tabak 2 SLT Kompi Bantuan Yonif 122/Tombak Sakti kemudian dibawa ke Pomdam I/BB sekira pukul 05.20 WIB.

Marasalem Harahap alias Marsal ditemukan meninggal dunia di dalam mobilnya saat berada tak jauh dari kediamannya di Nagori Karang Anyer, Kabupaten Simalungun, Sabtu (19/6/2021) dinihari.

Marsal adalah seorang wartawan media online. Dia juga pernah terlibat kasus pemerasan.

Kakak kandung korban, Hassanudin Harahap mengatakan dirinya tahu sang adik ditembak mati setelah pihak rumah sakit memberi kabar.

“Sebetulnya saya tahu dari rumah sakit. Ini harus diusut sejelas-jelasnya, baik Polda sampai ke Polsek (Polisi) semuanya,” kata Hassanudin kepada Tribun Medan.

Dari luka sementara yang terlihat di tubuh korban, Marsal mendapat luka tembak di bagian paha dalam sebelah kanan (dekat area selangkangan).

Jenazahnya terbaring di UGD RS Vita Insani Siantar dengan kondisi berlumuran darah.

Setelah menjalani pemeriksaan singkat di RS Vita Insani, jenazah Marsal dibawa ke RS Bhayangkara Medan.

Menurut informasi di lapangan, suara alarm mobil ungkap kasus pembunuhan wartawan media online ini.

Saat kejadian, Marsal ditemukan tewas bersimbah darah di dalam mobil Datsun Go putih BK 1921 WR yang dikendarainya.

“Dia ditemukan tewas di dalam mobilnya. Kemudian mobilnya mengeluarkan suara alarm. Dari situlah warga berdatangan. Kabarnya ada terdengar satu kali tembakan juga,” kata Rencana Siregar, rekan korban yang datang ke RS Bhayangkara Tingkat II Medan, Sabtu (19/6/2021).

Baca Juga:  Mengenal Tes Pantukhir dalam Seleksi Anggota TNI

Dia mengatakan, sebelum Marsal ditembak mati, korban sempat bertemu dengan seorang pengusaha.

Kuat dugaan, kasus ini ada hubungannya dengan pemberitaan yang dibuat oleh Marsal.

“Kau ditelusuri lebih lanjut, indikasinya ke arah mengenai pemberitaan. Itu dapat dilihat dari media sosialnya terkait berita yang terakhir kali disharenya,” kata Rencana.

Malam sebelum kejadian, Marsal juga sempat nongkrong bersama rekannya di lapo tuak.

Barulah pada Jumat (18/6/2021) tengah malam jelang Sabtu (19/6/2021) dinihari, Marsal ditemukan tewas di dalam mobil tak jauh dari rumahnya, di Pasar 3 Huta Tuju, Nagori Karang Anyer, Kecamatan Gunung Maligas.

Informasi berkembang, saat ini Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumut Kombes Tatan Dirsan Atmaja ikut turun ke lokasi.

Tatan membawa serta sejumlah anak buahnya.

Kabar terakhir, Marsal disebut-sebut memberitakan lokasi hiburan malam yang beroperasi di masa pandemi Covid-19.

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...