Business is booming.

Sebut Kemenag Hadiah untuk NU, Menag Yaqut Cholil Trending

Netizen: Ternyata hadiah toh, jadi bukan karena Yaqut dianggap mampu ya.

Yaqut nama pendek Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas trending.

Ia membuat pernyataan kontroversial yang menyebut bahwa Kementrian Agama bukanlah hadiah untuk umat Islam melainkan spesifik untuk Nahdlatul Ulama (NU).

Yaqut sendiri menyampaikan pernyataan kontroversial tersebut Peringatan Hari Santri 2021 di RMI-PBNU, Rabu (20/10/2021).

Pernyataan tersebut langsung mengundang berbagai ragam komentar netizen.

Berikut cuitan netizen terkait Yaqut

@hipohan: Ternyata hadiah toh, jadi bukan karena Yaqut dianggap mampu ya.

@ferizandra: Terus-terang saya gak paham maksud dari klaim Yaqut ini… Jabatan itu adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan, bukan hadiah untuk dinikmati oleh ormas tertentu…Lagipula apakah cuman ormas tertentu yang dapat menerima amanah tsb…?

@Jhonkosmik: Bagaimana seorang menteri bicara seperti ini @YaqutCQoumas ? Anda sepertinya belum pernah ikut penataran P4 apalagi Lemhanas.

@HbHendro: Hadiah utk NU secara khusus.Maksudhya Muhammadiyah tdk punya menteri agama.Jadi kelompok Muhammadiyah tidak mengakui Yaqut sbg Menag.Ruwet.

Seperti diketahui, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengaku bahwa sempat ada perdebatan dalam sejarah asal usul berdirinya Kemenag.

Ia mengungkapkan ada sejumlah orang yang tidak setuju Kemenag hadir untuk melindungi semua umat beragama.

Melainkan menjadi Kementerian Agama Islam karena merupakan hadiah negara untuk umat Islam.

“Saya bantah bukan, Kemenag itu hadiah negara untuk NU bukan untuk umat Islam secara umum tapi spesifik untuk NU. Jadi wajar kalau NU itu memanfaatkan peluang yang ada di Kemenag,” jelas Gus Yaqut dalam webinar RMI PBNU dalam peringatan Hari Santri 2021, Rabu (20/10).

Baca Juga:  Perpisahan Valentino Rossi Terkenang Sepanjang Masa

Gus Yaqut lalu menjelaskan berdirinya Kemenag atas dasar adanya pencoretan tujuh kata dalam Piagam Jakarta, atau yang kini dikenal sebagai sila pertama Pancasila.

Dalam Piagam Jakarta sebelumnya tertulis: “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”

Ia menyebut pihak yang mengusulkan adalah orang PBNU, sehingga akhirnya lahir Kementerian Agama.

Pernyataan Yaqut langsung dikritik Anwar Abbas, dalam posisi sebagai pengamat Sosial dan Keagamaan.

“Pernyataan ini tentu sangat-sangat kita sayangkan karena tidak menghargai kelompok dan elemen umat dan masyarakat lainnya,” jelas Anwar Abbas dalam keterangannya, Sabtu (23/10).

Anwar menilai pernyataan Gus Yaqut itu sekaligus menunjukkan bukti bahwa posisi-posisi penting, baik di Kemenag hingga institusi pendidikan agama Islam, banyak dipegang oleh orang NU.
“Tetapi, ada jugalah bagusnya kehadiran dari pernyataan ini. Karena dengan adanya pernyataan tersebut menjadi terang benderanglah bagi kita semua warga bangsa, mengapa para pejabat di Kemenag dan bahkan juga para pegawainya dari atas sampai ke bawah, serta juga rektor-rektor UIN dan IAIN di seluruh Indonesia nyaris semuanya dipegang dan diisi oleh orang NU,” kata Abbas yang juga dikenal sebagai pengajar, Sekjen MUI dan petinggi Muhamadiyah itu.

Menurut Abbas, Yaqut selaku menteri dan pemimpin di Kemenag harus lebih mencerminkan sikap sebagai negarawan.

Namun, dalam perspektifnya, Gus Yaqut lebih mencerminkan sosok sebagai seorang politikus.

“Semestinya sebagai seorang menteri dan pemimpin umat mereka lebih mencerminkan dan mengedepankan sikap arif, serta bersikap dan bertindak sebagai negarawan.”

“Tetapi kita lihat sang menteri dan sang tokoh tersebut lebih mencerminkan sikap sebagai seorang politisi, dan lebih menonjolkan ananiyah hizbiyyahnya, di mana mereka lebih mengedepankan kepentingan partai serta kelompoknya dan mengabaikan, serta tidak memperhatikan kepentingan kelompok serta elemen umat dan masyarakat lainnya,” tutur dia.

Baca Juga:  Indonesia vs China di Final Thomas Cup 2020 Hari Ini Pukul 18.00 WIB
Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...