Business is booming.

Pernyataan Menteri Inggris Ini Bikin Indonesia Geram

Wakil Menlu Indonesia Mahendra Siregar Balik Serang Zac Goldsmith

WAKIL Menteri Luar Negeri RI, Mahendra Siregar, mengungkapkan kegeramannya atas pernyataan Menteri Iklim dan Lingkungan Hidup Inggris, Zac Goldsmith.

Pernyataan yang dimaksud adalah soal zero deforestation dan COP26 Forest Agreement yang diunggah oleh Goldsmith pada akun Twitter resminya. Bagi Mahendra, cuitan sang Menteri tersebut menyesatkan.

Berikut kronologi dari kejadian tersebut sebagaimana dirunut oleh Kumparan.Com.

Selasa, 2 November 2021 – World Leaders’ Summit

Pada Selasa (2/11), berlangsung pertemuan para pemimpin negara dunia yang bertajuk World Leaders’ Summit ‘Action on Forest and Land Use’ di Glasgow, Skotlandia.

Acara tersebut, menurut keterangan dari Kementerian Luar Negeri RI, berbeda dengan KTT COP26. Kegiatan ini bersifat pertemuan tematis tambahan yang diadakan oleh Inggris, selaku tuan rumah dari konferensi iklim ini.

Dalam acara yang berlangsung sekitar 3,5 jam, tercipta sejumlah komitmen dalam pengelolaan hutan dan lahan. KTT ini turut dihadiri Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan seratusan kepala negara/pemerintahan lainnya.

Dikutip dari Policy Paper dalam situs resmi Pemerintahan Inggris, sejumlah komitmen itu antara lain mobilisasi pendanaan, perubahan dalam sistem pendanaan, dan perdagangan komoditas pertanian.

Glasgow Leaders’ Declaration on Forest and Land Use hingga saat ini sudah ditandatangani 131 negara. Tidak ada perjanjian atau agreement apa pun yang dihasilkan.

Dalam deklarasi tersebut, tercantum kalimat sebagai berikut: “We therefore commit to working collectively to halt and reverse forest loss and land degradation by 2030 while delivering sustainable development and promoting an inclusive rural transformation.”

(Oleh karenanya, kami berkomitmen untuk bekerja bersama-sama untuk menghentikan dan membalikkan kehilangan hutan dan degradasi lahan pada 2030, sembari menciptakan perkembangan berkelanjutan dan mendorong transformasi rural yang inklusif.)

Baca Juga:  Tiada Hari Tanpa Teriak-teriak, Kerja LBP Mulai Menampakkan Hasil

Selasa, 2 November 2021 – Unggahan Zac Goldsmith di Twitter
Pada hari yang sama, Goldsmith mengunggah sebuah gambar di Twitter. Gambar tersebut berisi daftar komitmen negara dunia soal kehutanan.

Berdasarkan pantauan kumparan, sejumlah poin komitmen dalam unggahan Goldsmith sama dengan yang tertera di Policy Paper.

Sedangkan di bagian isi, tercantum kalimat: “We have secured unprecedented commitments from over 100 countries, representing well over 85% of the world’s forests, to end deforestation by 2030.”

(Kami telah mengamankan komitmen yang belum pernah dilakukan sebelumnya, dari 100 negara yang merepresentasikan lebih dari 85% dari hutan di dunia, untuk mengakhiri deforestasi pada 2030.)

 

Kamis, 4 November 2021, Pukul 12.52
Wamenlu RI, Mahendra Siregar, mengutarakan kegeramannya soal unggahan Goldsmith pada Kamis (4/11).

“Pernyataan Menteri Iklim dan Lingkungan Internasional Inggris, Zac Goldsmith, tentang zero deforestation dan COP26 Forest Agreement menyesatkan,” tegasnya lewat keterangan tertulis.

Pertama, kata Mahendra, Goldsmith memfokuskan pada penjudulan “COP26 Forest Agreement” dalam unggahannya.

“Karena COP26 sedang berjalan, sehingga tentu saja belum ada Agreement apa pun yang dihasilkan pada Selasa, 2 November lalu. Sedangkan pertemuan yang dilakukan 2 November di Glasgow adalah World Leaders Meeting on Forest and Land Use yang menghasilkan deklarasi,” jelas dia.

Selanjutnya, Mahendra mempermasalahkan penggunaan istilah “to end deforestation by 2030” oleh Goldsmith. Musababnya, di dalam deklarasi itu pun tidak ada istilah tersebut. Yang ada adalah “to halt and reverse forest loss and degradation by 2030.”

Ia pun meminta masyarakat untuk terus mawas diri dan tidak terpengaruh pernyataan Goldsmith. Ia juga menekankan pencapaian Indonesia dalam pengelolaan hutan yang disampaikan Presiden Jokowi, baik pada pembukaan KTT COP26 maupun pada acara World Leaders’ Summit.

Baca Juga:  Harmoko Meninggal dalam Usia 82 Tahun, Netizen Kenang Gayanya

 

Kamis, 4 November 2021, Pukul 17.35
Kemlu RI pun menjelaskan mengapa istilah to end deforestation dan to halt forest loss berbeda.
To halt forest loss, secara literal bermakna menghentikan kehilangan hutan, lebih merujuk kepada penggunaan hutan secara berimbang–dalam arti itu net loss.

Jadi, dengan to halt forest loss, tetap boleh ada pemanfaatan hutan, namun secara keseluruhan luas tutupan hutan agar tidak berkurang.

Sedangkan, istilah end deforestation yang digunakan oleh Goldsmith itu lebih strict atau tegas, yakni hutan tidak boleh disentuh.

 

Kamis, 4 November 2021, Pukul 23.45
Zac Goldsmith mengunggah gambar terbaru di akun Twitter miliknya.

Pada cuitannya, ia mengatakan pengunggahan ini adalah sebuah pembaruan (update) untuk memasukkan sejumlah negara yang baru menandatangani deklarasi.

Secara umum, hanya sedikit perubahan yang terlihat dalam gambar pembaruan itu. Namun, di bagian judul, kini tidak lagi tertulis “COP26 Forest Agreement”, melainkan “World Leaders’ Summit on Forest and Land Use.”

Kemudian, jika pada cuitan sebelumnya tertulis “We have secured unprecedented commitments from over 100 countries, representing well over 85% of the world’s forests, to end deforestation by 2030.”

Kini, ia menghilangkan istilah to end deforestation by 2030.

Kalimat tersebut kini berbunyi: “In the Glasgow Leaders Declaration on Forests and Land Use we have secured unprecedented commitments from over 130 countries, representing well over 90% of the world’s forests, to work collectively to halt and reverse forest loss and land degradation by 2030.”

Perubahan yang dibuat di unggahan terbaru ini, sesuai dengan isi yang tertera dalam deklarasi.
Sementara, menurut pantauan kumparan, cuitan Goldsmith pada Selasa (2/11) kini sudah dihapus.

Baca Juga:  Satu Lagi Anak Akidi Tio Jalani Pemeriksaan
Komentar
Loading...