Business is booming.

Veronica Koman Ungkap Penyebab Pembunuhan 8 Warga Sipil di Papua, Curiga Dimata-matai Via Tower BTS

Kecurigaan ini disebabkan oleh pembangunan ala Jakarta yang ugal-ugalan

Veronika Koman trending, selain terlibat twit war dengan Alda, seperti biasa ia mengabarkan kondisi Papua.

Termasuk soal penembakan warga sipil oleh KKB Papua.

Hanya saja seperti biasa, ia cenderung membela warga Papua yang katanya tak pernah diberitakan media nasional.

Dalam threadnya melalui akun @VeronicaKoman ia menulis begini.

Ada 7 anak kecil Papua disiksa aparat hingga satu meninggal.

Ada 8 karyawan dibunuh OPM.

Keduanya terjadi di kabupaten yang sama dalam rentang waktu seminggu. Tebak yang mana yang masuk berita?

@VeronicaKoman: Beberapa jam sebelum 8 karyawan dibunuh, ada juga 1 TNI diserang, esoknya ada baku tembak. Ketiga lokasi berbeda ini masih satu kabupaten dengan lokasi penyiksaan anak Papua. Tahun lalu, rentetan serangan OPM di Intan Jaya bergelora setelah kasus penghilangan paksa Sem Kobogau.

@VeronicaKoman: Kenapa pekerja telkom disasar? Dalam pernyataannya, OPM minta Blok Wabu dihentikan. Artinya, pembangunan tower dianggap sebagai kemajuan proyek Blok Wabu. Secara umum, sebagian Papua termasuk OPM curiga dengan pemasangan telkom sebagai sarana memata-matai mereka.

@VeronicaKoman: Kecurigaan ini disebabkan oleh pembangunan ala Jakarta yang ugal-ugalan — diperparah jurang ketidakpercayaan Papua kepada Jakarta yang semakin lebar. Papua kini di titik “tidak mungkin Jakarta kasih yang baik untuk Papua, pasti ada tujuan buruk di baliknya”.

@VeronicaKoman: Demikian rangkaian twit agar publik paham akar permasalahannya karena yang terjadi bukan kasus kriminal biasa, semoga bisa dicegah di kemudian hari dan diselesaikan. Untuk yang keseribu kalinya: hentikan perang – Jakarta dan Papua harus duduk bersama untuk selesaikan ini.

Baca Juga:  Giroud Trending, Akhiri Paceklik Gol dan Aksi Salto Indahnya, Sayang AC Milan vs Salernitana 1-1

@VeronicaKoman: Saya selalu mengecam penyerangan terhadap sipil siapapun pelakunya. Konflik Papua semakin urgen untuk diselesaikan karena semakin banyak sipil yang jatuh korban. Media nasional hanya gencar memberitakan ketika non-Papua jadi korban, padahal situasinya jauh lebih parah dari itu.

Klaim Tentara Pembebasan Papua

Sementara itu Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat – Organisasi Papua Merdeka (TPNPB – OPM) mengaku bertanggung jawab atas penembakan yang terjadi di Kampung Kago, Distrik Ilaga, Puncak, Papua,

Penembakan itu menyebabkan 8 karyawan PT Palapa Timur Telematika (PTT) tewas.

“TPNPB di bawah pimpinan Gen Goliath Tabuni dan Mayjen Lekagak Telenggen bertanggung jawab atas penembakan itu,” ujar Juru Bicara Komisi Nasional TPNPB – OPM, Sebby Sambom.

Menurut Sebby, tidak ada alasan yang membenarkan keberadaan warga sipil di wilayah tersebut. Karena, kata dia, TPNPB sudah mengumumkan dan meminta warga sipil segera meninggalkan wilayah perang.

Dengan melihat kondisi ini, Sebby dari Pengendali Manajemen Markas Pusat Komnas TPNPB – OPM mengeluarkan peringatan keras bahwa semua orang imigran segera meninggalkan wilayah perang.

Sebby juga menjelaskan alasan TPNPB bertanggung jawab penuh atas penembakan ini.

Karena perintah perang telah diumumkan oleh Komandan Operasi Umum TPNPB Mayor Jenderal Lekagak Telenggen pada 2017 Di Jambi, Puncak Jaya, Papua.

Seperti diketahui, akun @aldapstsr atau Pokemon Sedih berhasil membuat Veronica Koman marah.

Akun milik seorang wanita muda tersebut terlibat twitwar dengan akun @VeronicaKoman.

Akun Veronica Koman telah terverifikasi. Ia adalah seorang aktivis yang membela rakyat Papua.

Setelah mengabarkan kondisi Papua, hampir seharian Veronica membalas cuitan @aldapstsr seolah tak ada kegiatan lain yang lebih urgen.

Padahal waktu yang sama kelompok KKB Papua membunuh delapan orang warga sipil.

Dan Veronica menampilkan fakta lain bahwa sebelum kasus itu, tentara Indonesia menganiaya 7 anak Papua.

Baca Juga:  Jakarta vs Everybody Trending: Hidup Jangan Bagus-bagus Amat, Bisa Gila

Veronica mengaku tak membenarkan pembunuhan 8 warga sipil.

Namun posisinya selama ini tetap saja menyalahkan pemerintah Indonesia.

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...