Business is booming.

Australia Beri Sanksi Rusia, Eh China Dukung Rusia, Mengapa Australia Terancam?

Masih tidak pasti bagaimana harga bijih besi akan terpengaruh karena konflk Ukraina-Rusia

Dukungan China pada invasi Ukraina yang dilakukan Russia ternyata menjadi ancaman besar Australia.

Australia telah mengecam Rusia bahkan ikut memberikan sanksi.

Kini ancaman yang besar bagia ekspor terbesar Australia dan masa depan ekonominya?

Eksport terbesar Australia, biji besi, bisa terancam jika China meningkatkan dukungannya pada invasi Rusia ke Ukraina.

Australia Barat tahu lalu menyuplai 38 persen dari seluruh bijih besi dunia, komoditas yang digunakan untuk membuat baja, menempatkannya jauh di atas Brasil sebesar 16 persen.

Perang Rusia di Ukraina, sekarang dalam minggu kedelapan, mengancam perdagangan itu, dengan China yang sejauh ini merupakan pembeli terbesar bijih besi Australia.

Pada bulan Februari sebelum Presiden Rusia Vladimir Putin mengirim pasukan untuk menyerang tetangganya yang berdaulat, ia menyatakan persekutuan ‘tanpa batas’ dengan kawannya dari China Xi Jinping

Bankwest Curtin Economics Center telah mengeluarkan peringatan tentang ketergantungan besar pada China untuk menjual bijih besi – pasar ekspor yang secara konservatif bernilai lebih dari 100 Miliar dolar AS per tahun – selama masa gejolak geopolitik.

‘Keterlibatan dan dukungan China dalam konflik, jika ada, kemungkinan besar akan menentukan harga bijih besi dalam beberapa minggu kedepan,’ katanya seperti dilansir Daily Mail.

‘Karena ekspor bijih besi tetap menjadi tulang punggung ekonomi WA dan China adalah partner dagang terbesarnya, selalu ada kemungkinan adanya pergeseran dinamika hubungan yang dapat menyebabkan dampak ekonomi yang besar.’

Partner dagang terbesar Australia adalah China yang merupakan sekutu dekat Rusia, yang telah diberikan sanksi oleh Australia.

Pada bulan Februari, Australia mencatat surplus perdagangan bulanan ke-50, berkat permintaan kuat China untuk bijih besi lagi.

Ekspor tahunan Australia ke China bernilai 176,9 miliar dolar, turun sedikit dari rekor 179,4 miliar dolar, analisis CommSec dari data Biro Statistik Australia menunjukkan.

Baca Juga:  Spekulasi Penyebab Pengunduran Diri Bambang Susantono dan Dhony Rahajoe dari IKN

Pada bulan Februari, 39.4 juta ton bijih besi dikirim dari Port Hedland di WA, menandai peningkatan tahunan sebesar 5.2 persen, data Otoritas Pelabuhan Pilbara menunjukkan.

Harga bijih besi telah pulih sejak akhir tahun lalu, setelah jatuh di bawah US$100 per ton untuk pertama kalinya sejak pertengahan 2020, dengan harga spot sekarang di US$147 per ton.

Tetapi Bankwest Curtin Economics Center mengatakan harga komoditas utama bisa jatuh lagi, dengan China membeli setengah dari ekspor Australia Barat.

‘Masih tidak pasti bagaimana harga bijih besi akan terpengaruh karena konflk Ukraina-Rusia dan meskipun sejak awal konflik harga telah naik ke level tertinggi dalam enam bulan terakhir, tidak jelas apakah tren ini akan berlanjut,’ katanya.

‘Meskipun begitu, China tetap menjadi partner ekspor terpenting negara bagian itu, menjadi tujuan lebih dari setengah (51 persen) dari total ekspor WA selama tiga bulan terakhir.’

China adalah pemasok bijih besi terbesar ketiga di dunia, dengan produksi 11 persen, diikuti oleh India 10 persen dan Rusia 4 persen, menurut analisis pemerintah Australia Barat.

Tahun lalu, sebuah artikel di Economic Daily yang didukung negara menguraikan rencana China untuk meningkatkan produksi bijih besi dan membeli lebih banyak tambang di luar negeri dalam upaya untuk tidak terlalu bergantung pada pengiriman bijih besi Australia dan Brasil.

China membeli 60 persen suplai bijih besi dunia.

Perusahaan alumunium besar Chinalco yang dimiliki oleh pemerintah China yang sebagiannya dimiliki tambang bijih besi Simandou di Guinea di Afrika Barat.

Komentar
Loading...