Business is booming.

Sayuti Melik Trending Padahal Hari Proklamasi Masih Jauh, Ini Ternyata Penyebabnya

@bearbrenenak: gue nanya sayuti melik siapa ke abang gue DIA KAGA TAU ANJRIT

Sayuti Melik trending. Pengetik nasakan proklamasi itu trending ternyata karena kuis yang dibagikan akun @IndiHomeCare.

Yuk, jawab pertanyaan berikut di hari Minggu!

Tulis jawabanmu sekarang dan Kamu bisa dapetin hadiah saldo LinkAja Rp100.000 untuk 2 Sobat beruntung!

Cantumkan tagar #KuisIndiHomeCare saat menjawab dan jangan lupa follow @IndiHomeCare ya, Sobat!

Nama Sayuti Melik juga menjadi perbincangan di sekitar para penggemar Kpop.

Akun @MOANAmenfess, misalnya membagikan Moa Beomgyu the explorer.

Nah, disalah satu perbincangan akun Soobin @bajuprisma menulis lagi teleponan, tiba-tiba denger suara ketikan.

Akun beomgyu @catetansantet lalu menimpali, ternyata disampingnya ada sayuti melik.

Sayuti Melik dalam perbincangan netizen penggemar Kpop. Identik sebagai tukang ketik (Twitter trending Sayuti Melik

Ketika menjadi trending, sejumlah netizen ternyata tak tahu siapa Sayuti Melik.

Berikut cuitan sejumlah netizen terkait Sayuti Melik.

@youngyuankuaile: Apalagi yg terjadi anjir sampe sayuti melik trending

@hyunjaekasep: hdhhh cpe bgt di smpingny ad sayuti melik wkwkwk ad ad ajh

@wannastudyy: kaget banget gue baru tau kalo Sayuti Melik itu laki laki ya🥲

@bearbrenenak: gue nanya sayuti melik siapa ke abang gue DIA KAGA TAU ANJRIT

@mazturbae: Sayuti melik left the chat

Profil Sayuti Melik

Dirangkum dari Wikipwdia, Mohamad Ibnu Sayuti atau yang lebih dikenal sebagai Sayuti Melik lahir 22 November 1908 dan meninggal dunia 27 Februari 1989.

Ia dicatat dalam sejarah Indonesia sebagai pengetik naskah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Dia adalah suami dari Soerastri Karma Trimurti, seorang wartawati dan aktivis perempuan pada zaman pergerakan dan zaman setelah kemerdekaan.

Sayuti anak dari Abdul Mu’in alias Partoprawito, seorang bekel jajar atau kepala desa di Sleman, Yogyakarta.

Baca Juga:  Apa itu Hepatitis Akut? Sudah Menyerang 170 Anak di Dunia, Termasuk 3 Anak di Indonesia

Sedangkan ibunya bernama Sumilah. Pendidikan dimulai dari Sekolah Ongko Loro (Setingkat SD) di desa Srowolan, sampai kelas IV dan diteruskan sampai mendapat Ijazah di Yogyakarta.

Nasionalisme sudah sejak kecil ditanamkan oleh ayahnya kepada Sayuti kecil.

Ketika itu ayahnya menentang kebijaksanaan pemerintah Belanda yang menggunakan sawahnya untuk ditanami tembakau.

Ketika belajar di sekolah guru di Solo, 1920, ia belajar nasionalisme dari guru sejarahnya yang berkebangsaan Belanda, H.A. Zurink.

Pada usia belasan tahun itu, ia sudah tertarik membaca majalah Islam Bergerak pimpinan K.H. Misbach di Kauman, Solo, ulama yang berhaluan kiri.

Ketika itu banyak orang, termasuk tokoh Islam, memandang Marxisme sebagai ideologi perjuangan untuk menentang penjajahan.

Dari Kiai Misbach ia belajar Marxisme. Perkenalannya yang pertama dengan Bung Karno terjadi di Bandung pada 1926.

Tulisan-tulisannya mengenai politik menyebabkan ia ditahan berkali-kali oleh Belanda.

Pada tahun 1926 ditangkap Belanda karena dituduh membantu PKI dan selanjutnya dibuang ke Boven Digul (1927-1933).

Tahun 1936 ditangkap Inggris, dipenjara di Singapura selama setahun.

Setelah diusir dari wilayah Inggris ditangkap kembali oleh Belanda dan dibawa ke Jakarta, dimasukkan sel di Gang Tengah (1937-1938).

Sepulangnya dari pembuangan, Sayuti berjumpa dengan SK Trimurti, dan terlibat dalam berbagai kegiatan pergerakan secara bersama.

Akhirnya pada 19 Juli 1938 mereka menikah.

Pada tahun itu juga Mereka mendirikan koran Pesat di Semarang yang terbit tiga kali seminggu dengan tiras 2 ribu eksemplar.

Karena penghasilannya masih kecil, pasangan suami-istri itu terpaksa melakukan berbagai pekerjaan, dari redaksi hingga urusan percetakan, dari distribusi dan penjualan hingga langganan.

Trimurti dan Sayuti Melik bergiliran masuk keluar penjara akibat tulisan mereka mengkritik tajam pemerintah Hindia Belanda.

Baca Juga:  Danpuspom TNI Jelaskan Kronologi Kasus Dugaan Korupsi Basarnas dengan Dua Tersangka Pejabat Basarnas

Sayuti sebagai bekas tahanan politik yang dibuang ke Boven Digul selalu dimata-matai dinas intel Belanda (PID).

Pada zaman pendudukan Jepang, Maret 1942 koran Pesat diberedel Japan, Trimurti ditangkap Kempetai, Jepang juga mencurigai Sayuti sebagai orang komunis.

Pada 9 Maret 1943, diresmikan berdirinya Putera (Pusat Tenaga Rakyat) dipimpin “Empat Sekawan” Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan Kiai Mas Mansoer.

Saat itu Soekarno meminta pemerintah Jepang membebaskan Trimurti, lalu membawanya ke Jakarta untuk bekerja di Putera, dan kemudian di Djawa Hookoo Kai, Himpunan Kebaktian Rakyat Seluruh Jawa.

Dan lalu Trimurti dan Sayuti Melik dapat hidup relatif tenteram. Sayuti terus berada di sisi Bung Karno.

Konsep naskah proklamasi disusun oleh Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Subardjo di rumah Laksamana Muda Maeda.

Wakil pemuda, Sukarni dan Sayuti Melik.

Masing-masing sebagai pembantu Bung Hatta dan Bung Karno, ikut menyaksikan peristiwa tersebut.

Setelah selesai, dini hari 17 Agustus 1945, konsep naskah proklamasi itu dibacakan di hadapan para hadirin.

Namun, para pemuda menolaknya. Naskah Proklamasi itu dianggap seperti dibuat oleh Jepang.

Dalam suasana tegang itu, Sayuti memberi gagasan, yakni agar Teks Proklamasi ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta saja, atas nama bangsa Indonesia.

Usulnya diterima dan Bung Karno pun segera memerintahkan

Sayuti untuk mengetiknya. Ia mengubah kalimat “Wakil-wakil bangsa Indonesia” menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”.

Setelah Indonesia Merdeka ia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Pada tahun 1946 atas perintah Mr. Amir Syarifudin, ia ditangkap oleh Pemerintah RI karena dianggap sebagai orang dekat Persatuan Perjuangan serta dianggap bersekongkol dan turut terlibat dalam “Peristiwa 3 Juli 1946.

Baca Juga:  Kebakaran Meluas, Kawasan Wisata Gunung Bromo Ditutup Total, Karena Ulah Fotografer?

Setelah diperiksa oleh Mahkamah Tentara, ia dinyatakan tidak bersalah. Ketika terjadi Agresi Militer Belanda II, ia ditangkap Belanda dan dipenjarakan di Ambarawa.

Ia dibebaskan setelah selesai KMB. Tahun 1950 ia diangkat menjadi anggota MPRS dan DPR-GR sebagai Wakil dari Angkatan ’45 dan menjadi Wakil Cendekiawan.

Sebenarnya Sayuti dikenal sebagai pendukung Soekarno.

Hal ini terbukti dengan dirinya yang menjadi anggota PNI.

Namun, ketika Bung Karno berkuasa, Sayuti justru tak “terpakai”.

Dalam suasana gencar-gencarnya memasyarakatkan Nasakom, dialah orang yang berani menentang gagasan Nasakom (nasionalisme, agama, komunisme).

Ia mengusulkan mengganti Nasakom menjadi Nasasos, dengan mengganti unsur “kom” menjadi “sos” (sosialisme).

Ia juga menentang pengangkatan Bung Karno sebagai presiden seumur hidup oleh MPRS.

Tulisannya, Belajar Memahami Sukarnoisme dimuat di sekitar 50 koran dan majalah dan kemudian dilarang.

Artikel bersambung itu menjelaskan perbedaan Marhaenisme ajaran Bung Karno dan Marxisme-Leninisme doktrin PKI. Ketika itu Sayuti melihat PKI hendak membonceng kharisma Bung Karno.

Setelah Orde Baru nama Sayuti berkibar lagi di kancah politik.

Ia menjadi anggota DPR/MPR, mewakili Golkar hasil Pemilu 1971 dan Pemilu 1977.

Sayuti Melik meninggal pada tanggal 27 Februari 1989 setelah setahun sakit, dan dimakamkan di TMP Kalibata.

Sayuti Melik menerima Bintang Mahaputra Tingkat V (1961) dari Presiden Soekarno dan Bintang Mahaputera Adipradana (II) dari Presiden Soeharto (1973).

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...