Business is booming.

Dunia Mengheningkan Cipta untuk Tragedi Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan

"Santiago Bernabeu mengheningkan cipta selama satu menit sebelum kick-off..."

Dunia berduka atas kematian suporter Arema di Stadion Kanjuruhan, Malang, Indonesia.

Duka dunia diwujudkan dalam bentuk mengheningkan cipta sebelum pertandingan yang mereka lakukan.

Raksasa Spanyol, Real Madrid misalnya, melalui akun @realmadriden membagikan foto aksi mengheningkan cipta sebelum laga antara Real Madrid vs Osasuna.

“Santiago Bernabeu mengheningkan cipta selama satu menit sebelum kick-off untuk mengenang mereka yang tewas dalam tragedi di stadion Kanjuruhan, di pulau Jawa (Indonesia). #Real Madrid.”

Akun resmi @afcasiancup misalnya membagikan gambar pertandingan Futsal yang juga diawali dengan mengheningkan cipta.

“Hening sejenak sebelum Pertandingan #ACFutsal2022 Indonesia melawan Tionghoa Taipei. Mengheningkan cipta dalam rangka mengenang tragedi di Stadion Kanjuruhan.

Akun Liga Spanyol @LaLigaEN membagikan video mengheningkan cipta dalam sebuah laga dua tim.

Video selama 1 menit tersebut hingga berita ini diturunkan sudah ditonton 1,5 juta orang.

Kronologi Kerusuhan

Sementara itu Pendukung Arema FC yang biasa dikenal dengan sebutan Aremania dari wilayah Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Jawa Timur, memberikan kronologi terkait tragedi di Stadion Kanjuruhan yang menyebabkan 125 orang meninggal dunia.

Aremania Korwil Bantur The Black Lion Slamet Sanjoko di Kabupaten Malang, Minggu mengatakan, sesungguhnya selama jalannya pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya berjalan kondusif.

Baca Juga:  Admin Gerindra Royal Bayari Pesanan Netizen, Gerindra Trending

“Awalnya, ada dua orang yang mau berfoto setelah pertandingan bersama pemain Arema FC. Kami sudah menyampaikan ke petugas untuk tidak memberikan izin,” kata Sanjoko seperti dilansir Antara.

Sanjoko menjelaskan, namun, dikarenakan dua orang suporter Aremania tersebut terus memaksa untuk diperbolehkan masuk dalam area lapangan, akhirnya dua orang itu diizinkan masuk ke lapangan.

Menurutnya, setelah kedua orang tersebut diizinkan untuk memasuki area lapangan tersebut kedua anak itu ternyata menghampiri pemain Arema FC yang saat itu masih berada di dalam lapangan untuk meminta maaf kepada para suporter atas kekalahan dari Persebaya.

“Dua anak itu, yang akan berfoto ternyata mereka mendekat ke pemain Arema FC. Kemudian terjadi bentrokan, pemicunya ada di situ,” ujarnya.

Ia menambahkan, setelah terjadi aksi dari dua orang suporter tersebut, kemudian memicu pendukung lainnya untuk memasuki area lapangan. Namun, ia tetap meminta kepada rekan-rekannya yang dari wilayah Bantur untuk tidak ikut masuk ke dalam lapangan.

Setelah melihat situasi mulai tidak terkendali, ia bersama rekan-rekannya segera mengemasi bendera yang mereka bawa. Selain itu, ia bersama sejumlah Aremanita bergegas mencari jalan keluar karena khawatir situasi akan memburuk.

“Sekitar tiga menit kami keluar gerbang, itu ada tembakan gas air mata ke arah tribun, kami lolos dan tidak tahu bagaimana kondisi di dalam. Namun ada rekan yang terkena gas air mata,” ujarnya.

Ia menyayangkan adanya penembakan gas air mata ke arah tribun dan membuat para penonton panik dan berusaha untuk berhamburan keluar. Saat itu, lampu pencahayaan di dalam Stadion Kanjuruhan juga sudah dimatikan oleh petugas meski kondisi tribun masih penuh penonton.

“Kalau yang masuk ke lapangan mungkin masih bisa kami terima karena mereka memang melanggar batas area. Tetapi kenapa yang di tribun salah apa, tapi ditembak gas air mata,” ujarnya.

Baca Juga:  Profil Brigjen TNI Enoh Solehudin, Akmil 1994, Danrem 152/Baabullah

Sebagai informasi, petugas menggunakan gas air mata untuk membubarkan kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan usai laga antara Arema FC melawan Persebaya. Setelah peluit panjang ditiup, ribuan suporter masuk ke dalam lapangan dan mengejar pemain serta ofisial.

Berdasarkan data terakhir, menyebutkan bahwa korban meninggal dunia akibat tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur sebanyak 125 orang. Selain itu, dilaporkan sebanyak 323 orang mengalami luka pada peristiwa itu.

Sementara itu Manajer Arema FC Ali Rifki sangat terpukul atas peristiwa tragedi Kanjuruhan, pada Sabtu, 1 Oktober 2022.

Tragedi kelam sepak bola tanah air itu merengut 125 jiwa dan sekitar 323 Aremania terluka. Dia bahkan ikut langsung melakukan evakuasi pada Aremania.

Dia juga menggotong mayat Aremania yang meninggal dunia akibat tragedi Kanjuruhan. Pantauan di lapangan situasi saat itu memang mencekam.

Ratusan Aremania yang pingsan tidak segera tertolong karena minimnya tim medis diawal-awal kejadian.

Bahkan, jenazah banyak ditemukan tergeletak di sekitaran lobby Stadion Kanjuruhan, pintu masuk VIP, Musala, ruang medis hingga di area lapangan.

“Sesuatu hal yang tidak kita inginkan bersama. Saya kemarin ikut mengangkat jenazah, ini pukulan kita semua,” kata Ali, Minggu (2/10/2022).

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...