Profil Prof Dr Haedar Nashir, Politik Identitas Tak Masalah, Tapi Jangan Disalahgunakan
Perbedaan pilihan politik, menurut Haedar, akan menjadi masalah apabila disertai sikap pemutlakan menang-kalah
Ini adalah profil Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir.
Namanya baru saja trending setelah membuat pernyataan bagus di Hari Sumpah Pemuda 2022.
Ia mengatakan bahwa politik harus menjadi pilar persatuan dan bukan faktor pemecah pemecah belah.
Haedar yang merupakan guru besar sosiologi ini mengajak semua pihak kembali merenungkan pesan luhur Sumpah pemuda yang bersejarah dan menguatkan persatuan.
Menurut Haedar, tidak ada yang salah dengan perbedaan pilihan politik.
Perbedaan pilihan politik, kata dia, merupakan tanda hidupnya demokrasi dan kebhinekaan dalam berbangsa dan bernegara.
Perbedaan pilihan politik, menurut Haedar, akan menjadi masalah apabila disertai sikap pemutlakan menang-kalah, yang menimbulkan sikap politik yang keras dan ekstrem.
Pada titik itulah, kata dia, politik menjadi virus pemecah dan bukan pemersatu bangsa.
Haedar manilai politik identitas sejatinya tidak masalah karena setiap orang atau kelompok terikat dengan identitas mengikuti hukum homo sapiens.
Akan tetapi, masalah akan terjadi jika politik identitas berdasarkan agama, suku, ras, dan ideologi disalahgunakan dengan cara dan paham yang radikal-ekstrem.
Jika ingin Persatuan Indonesia tetap terajut baik di tengah segala dinamika kebangsaan maka diperlukan sikap moderat dan moderasi dalam bernegara oleh seluruh warga dan golongan kebangsaan. pic.twitter.com/B4LgRSDpYD
— Haedar Nashir (@HaedarNs) October 28, 2022
Dirangkum dari Wikipedia, Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si. lahir 25 Februari 1958.
Ia adalah Ketua Umum Muhammadiyah periode 2015-2020.
Di internal Muhammadiyah, dan terutama di kalangan aktivis IMM, nama Haedar Nashir sudah sangat dikenal.
Ia pernah menjadi sekretaris ketika Ahmad Syafii Maarif menjabat ketua umum
Pria kelahiran Bandung, 28 Februari 1958 ini bergabung dengan Muhammadiyah sejak tahun 1983 dengan nomor anggota 545549.
Pada tahun itu, ia dipercaya sebagai Ketua I Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah
Lalu, pada tahun 1985-1990, kariernya meningkat. Haedar menduduki posisi Deputi Kader PP Pemuda Muhammadiyah hingga menjadi Ketua Badan Pendidikan Kader (BPK) dan Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah.
Selain aktif dalam organisasi Muhammadiyah, pria yang kerap disapa Haedar ini pun bekerja sebagai Dosen Program Doktor Politik Islam pada program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Alumnus S3 dari Universitas Gadjah Mada dengan status cum laude ini pun aktif menulis berbagai karya tulis ilmiah baik berupa buku maupun artikel yang dimuat di berbagai media massa.
Bahkan, ia pun menjabat sebagai Pemimpin Redaksi majalah Sinar Muhammadiyah.
Esai-esainya dapat dinikmati di rubrik “Bingkai” majalah Sinar Muhammadiyah.
Selain itu, Haedar juga menulis buku bertajuk “Muhammadiyah sebagai Gerakan Pembaharuan” yang dinilai sangat refrensial.
Selain itu, Suami dari Noordjannah Djohantini yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PP ‘Aisyiyah 2015-2020 ini juga telah menjadi penulis tetap di rubrik “Refleksi” pada Harian Republika.
Ia juga kerap menulis artikel di media lain dan mengisi kata pengantar untuk beberapa buku.
Mengenai pendidikan agama, sebetulnya sudah sejak kecil ia mendapatkanya. Haedar pernah bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Ciparay, Bandung.
Meski pendidikan selanjutnya ia lalui di sekolah umum seperti SMP Muhammadiyah III dan SMA Negeri 10, Bandung.
Namun, ia pernah juga menjadi santri di Pondok Pesantren Cintawana, Tasikmalaya Jawa Barat.
Lulus sekolah menengah, ia melanjutkan Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” di Yogyakarta dengan memeperoleh lulusan terbaik.
Begitu juga dengan program pasca sarjananya. Ia berhasil lulus program S2 dan S3 di Universitas Gadjah Mada dengan status cum laude.
Seiring intelektualitas dan keilmuannya yang makin mumpuni, karier Haedar di Muhammadiyah pun makin meroket.
Dari organisasi Pemuda Muhammadiyah, ia diberi amanah menjadi Sekretaris PP Muhammadiyah hingga salah satu ketua PP Muhammadiyah.
Puncaknya, pada Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar, Jumat pagi, 7 Agustus 2015, Haedar Nashir memperoleh suara terbanyak.
Ia berhasil mengumpulkan 1.987 suara, kemudian disusul Yunahar Ilyas sebanyak 1.928, Abdul Mu’ti sebanyak 1.802 suara, Dahlan Rais sebanyak 1.827 suara, dan Busyro Muqoddas sebanyak 1.881 suara.
Ia pun resmi menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah 2015-2020
Pendidikan
Pondok Pesantren Cintawana,[3] Tasikmalaya, Jawa Barat
Madrasah Ibtidaiyah Ciparay, Bandung.
SMP Muhammadiyah III, Bandung.
SMA Negeri 10 Bandung.
STPMD APMD Yogyakarta, lulusan terbaik, Yogyakarta.
Pascasarjana S2-Sosiologi UGM, lulus Cumlaude, UGM.
Pascasarjana S3 Sosiologi UGM, lulus Cumlaude, UGM.
Gelar Profesor, Bidang Ilmu Sosiologi, Unit Kerja Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Karier
Pimpinan Redaksi Majalah Suara Muhammadiyah
Ketua I Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (1983-1986)
Ketua Departemen Kader PP Pemuda Muhammadiyah (1985-1990)
Dosen Luar Biasa Fak Dakwah IAIN Su-Ka YK (1993-1998)
Ketua Badan Pendidikan Kader (BPK) dan Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah PP (1985-1990)
Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2000-2005)
Dosen Program Doktor Politik Islam pada Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (2009-sekarang)
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2005-2010)
Mengajar “Pemikiran Islam Kontemporer” pada Program Doktor Pascasarjana UIN-Suka Yogyakarta (2012)
Penulis tetap “Refleksi” pada Harian Umum Republika (surat kabar)
Pengalaman membimbing Disertasi pada Pascasarjana Sosiologi UGM dan Pascasarjana Psikologi UGM
Ketua Umum Muhammadiyah (2015-Sekarang).
Karya Buku
Budaya Politik dan Kekuasaan, 1997
Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern, 1997, 1999
Pragmatisme Politik Kaum Elit, 1999
Perilaku Politik Elit Muhammadiyah, 2000
Dinamika Politik Muhammadiyah, 2001
Revitalisasi Gerakan Muhammadiyah, 2001
Ideologi Gerakan Muhammadiyah, 2002
Islam dan Perilaku Umat di Tengah Perubahan, 2002
Muhammadiyah Gerakan Pembaharuan, 2010
Islam Syariat, 2007, 2013
Ibrah Kehidupan, 2013
Pendidikan Karakter dalam Perspektif Agama dan Kebudayaan, 2013
Memahami Ideologi Muhammadiyah, 2014
Gerakan Islam Pencerahan, 2015, 2017, 2019
Muhammadiyah a Reform Movement, 2015
The Understanding of the Ideology of Muhammadiyah, 2015
Muhammadiyah A Reform Movement, 2015
Tragedi Neo-Holocaust, 2017
The Tragedy of Holocaust, 2017
Indonesia Hitam-Putih, 2017
Black and White Indonesia, 2017
Kuliah Kemuhammadiyahan 1, 2018
Kuliah Kemuhammadiyahan 2, 2018
Konstruksi Pemikiran Politik Ki Bagus Hadikusumo Islam, Pancasila dan Negara, 2018
Indonesia dan Keindonesiaan: Perspektif Sosiologis, 2019
Muhammadiyah ‘In Ideolojisini Anlamak, 2019 (bahasa Turki)
Muhammadiyah Abad Kedua, 2011
Dinamisasi Gerakan Muhammadiyah: Agenda Strategis Abad Kedua, 2015.
Editor dan Kontributor sejumlah buku