Business is booming.

Profil Gusti Gina, Bikin Trending Usai Bagikan Cerita Mencari Saranjana, Kota Gaib di Pelosok Kalimantan

Ia mengaku selama 2 minggu di Kalimantan mencari Saranjana yang konon memiliki peradaban maju penuh misteri.

Saranjana trending. Saranjana adalah sebuah kota gaib di wilayah Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Meski tak ada dalam peta, tapi masyarakat setempat mempercayai kota tersebut benar-benar ada di sebuah pulau.

Kota Saranjana diyakini terletak di bagian selatan pulau tepatnya di Desa Oka-Oka, Kecamatan Pulau Laut, Kotabaru, Kalsel.

Sejak dulu, masyarakat setempat percaya bahwa bagian wilayah yang berupa perbukitan dan tak berpenghuni tersebut menjadi lokasi dari kota gaib Saranjana.

Kota itu dihuni oleh bangsa jin muslim.

Bukan hanya telah banyak yang membahas, Saranjana Kota Ghaib telah difilmkan tahun 2023 produksi DHF Entertainment yang disutradarai Johansyah Jumberan bersama Ridho Ivander Rama.

Film yang dibintangi Adinda Azani, Luthfi Aulia, Irzan Faiq, dan Ajeng Fauziah sebagai pemeran utama sudah ditayangkan.

Meski demikian, Gusti Gina, youtuber asal kalsel nekad melakukan perjalanan dan menuliskannya dalam buku berjudul MENCARI SARANJANA

Kota Gaib di Pelosok Kalimantan.

Gara-gara Gusti Gina dan bukunya nama Saranjana pun trending.

Siapa Gusti Gina?

Gusti Gina Madinatul Munawarni, nama lengkapnya, adalah seorang influencer dan youtuber terkenal asal Kalimantan Selatan.

Ia kelahiran Pantai Hambawang, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel, 28 April 1995 ini.

Ia memiliki tiga akun Instagram, pertama berisi unggahan pribadinya, dua sisanya berisi konten-konten kreatifnya tentang kisah-kisah mistis di Kalsel, review kosmetik hingga makanan tradisional Kalsel juga tempat-tempat wisata di Kalsel.

Sedang akun youtubenya Gusti Gina berisi tentang kisah-kisah horor.

Di akun youtubenya ia memperkenalkan diri sebagai Gina yang membagikan cerita dan video horor untuk menemai waktu subsribernya.

“Hai, namaku Gina. Aku di sini berbagi cerita horor, misteri, dan mitologi buat nemenin waktu kamu. Hope you have a good time with me !”

Hingga kini akun youtube Gusti Gina memiliki 371 K subscribers dan telah membagikan 195 videos.

Nah pada akun twitternya @GustiGina ia pun membagikan buku MENCARI SARANJANA Kota Gaib di Pelosok Kalimantan.

Buku itu disertai trhread tentang kisah penggalian dalam bukunya. Berkut threadnya.

  • MENCARI SARANJANA. Kota Gaib di Pelosok Kalimantan. Ini adalah kisah perjalananku selama 2 minggu di Kalimantan mencari Saranjana yang konon memiliki peradaban maju penuh misteri. Melawan rasa takut dgn mencari jawaban atas pertanyaanku sendiri.
  • Banyak pertanyaanku tentang kota gaib Saranjana ? Mitos belaka kah atau benar adanya ? Setelah 2 minggu ke sana melakukan perjalanan mencari saranjana, salah satu misteri yang menarik di negeri ini.
  • Aku dapat jawabannya, banyak cerita yang ku dapat dari tiap lokasi penting dan dari 15 saksi hidup yang pernah masuk melihat kotanya dan pulang dengan selamat ke dunia nyata. Bahkan ada yang pulang dengan selamat, tapi dia sempat menjadi “gila” dan dipasung waktu itu.
  • Sekilas info, siapa tau kamu masih asing dengan kata “Saranjana”, bukan sarjana S1 ya. Saranjana itu adalah urban legend dari Kalimantan Selatan. tepatnya di kabupaten kotabaru.
  • Tempat ini secara real ada dan nyata tapi yang kita bisa lihat adalah bukit dan hutan ditepi pantai. Namanya Gunung Saranjana. Ini fotonya waktu aku di sana.
  • Nah, walau begini kelihatannya. Ada cerita yang beredar dimasyarakat bahwa si gunung saranjana nih bukanlah gunung belaka. Tapi melainkan kota maju yang gemerlap. Cerita ini sudah ada sejak lama, secara turun temurun.
  • Bahkan satu pulau di kabupaten ini sebagian besar pernah mendengar cerita ini. Dari mana cerita itu muncul ? tentu dari mulut ke mulut. Satu peristiwa ke peristiwa lainnya yang terjadi. Tak hanya yang dialami oleh warga lokal, tapi juga pendatang.
  • Saksinya ? 1 2 orang ? Tidak, banyak! Banyak sekali. Kalau aku wawancara semuanya, terlalu banyak nanti ceritanya. Hehe
  • Aku pergi ke alun-alun mewawancarai warga secara acak sekitar 20 orang. Pertanyaanku pertama, tahu atau pernah dengar tentang saranjana ? Semua kompak bilang pernah. Bahkan beberapa orang bercerita cukup detail terkait pengalaman mereka.
  • Termasuk tukang parkir di sana. Beliau bilang memang benar itu saranjana. Setiap ada acara kota, ya “mereka” juga akan turut serta. Acara konser, festival, dan sebagainya.
  • Saat sampai di hotel, aku mau menyalin video dari kamera ke laptop. Tapi sialnya, laptopku eror, tidak bisa menyala hanya berbunyi bip.. bip.. bip.. Jujur panik saat itu, gimana kalau gak bisa nyala ini.
  • Sebelumnya ga pernah begini. Aku harus merekam perjalananku biar memudahkan aku menulis. Butuh waktu 1 jam lebih aku searching dan utak atik, laptopnya tidak bisa menyala.
  • Aku malam itu berkabar ke videographer ku untuk membawa laptop besok saat bertemu. Timku namanya Ridho, orang lokal di kotabaru. Dan benar, laptopku itu selama di pulau laut alias kotabaru, tidak bisa menyala.
  • Laptopku baru bisa menyala dan normal saat balik ke Jakarta. Sejak desember pulang ke Jakarta hingga hari ini, laptopku yang eror ini nggak pernah bermasalah lagi. Aneh juga sebenarnya. Tapi aku anggap itu kendala teknis.
  • Perjalananku dimulai. Aku sudah punya tim juga di desa Oka-oka, namanya Burhan. Sepertinya dia lebih tua dariku. Jadi ku panggil Kak Burhan. Aku mengenalnya dari sosial media.
  • Aku pikir dia ya pemuda biasa, setelah dua hari di sana barulah aku tahu kalau dia imam mesjid di sana. Ku dengar dari warga yang salah satu narasumberku.
  • 5 jam perjalanan. Jalanan yang rusak dan kami sampai di wilayah desa oka-oka itu gerimis. Burhan tak dapat di kontak. Driverku, bang Upik mengikuti google maps saja menuju desa Oka-oka.
  • “saya orang asli pulau ini, Mbak Gin. Belum pernah juga ke desa oka-oka ini.” dia terkekeh.
  • “Ya, ini kita bertualang bareng. Refreshing bang. Healing kata anak muda zaman sekarang.” Dia tertawa.
  • Jalanan yang kami lewati itu sunyi, seperti membelah hutan rimba yang jalannya tanah berbatu. Kami sampai di desa oka-oka. Burhan tak dapat dihubungi. Aku was-was, Burhan ini dimana ya
  • Ternyata untuk masuk ke desa Oka-Oka itu harus melewati jembatan kayu yang lebarnya hanya cukup motor saja. Tidak bisa mobil. Kami terpaksa berhenti.
  • Sinyalku juga hilang-hilangan di daerah ini. Tak lama kemudian Burhan menelpon. Dia berkabar sedang ada acara kondangan di pulau kecil seberang. Kebetulan Pua Bela, juru kunci pertama yang ingin kami temui juga menghadiri undangan.
  • Dia memintaku mundur dari desa oka-oka. Ke desa sebelah, yaitu desa tanjung lalak. Jarak tempuh sekitar setengah jam karena jalanan yang rusak. Tidak memungkinkan mobil melaju dengan cepat.
  • Sangat sulit masuk diakalku jujur. Tapi begitulah adanya cerita yang ku dapat.
  • Ku tanya juga kalau jadi jembatan informasi, tugasnya ngapain. Ternyata beliau itu sering diminta tolong sama warga yang keluarganya hilang ke saranjana. Ternyata cukup banyak kasus seperti itu,
  • bahkan Pua Bela memperlihatkan aku seleberan orang hilang dari perempuan tua. Di sana foto orang hilang dan kontak keluarga. Kata Pua Bela, si nenek itu adanya di Saranjana sekarang.
  • Wah naon eta di sini ? Skeptis penting ya agar bisa berpikir kritis. Pua Bela menawarkan ku masuk ke kota gaib saranjana ? Ke gunung saranjana. Menurutnya disitulah koordinat perbatasan antara dunia manusia dan saranjana alias gerbangnya.
  • Dia menelepon orang saranjana dan memperlihatkan nomornya. Bingung banget gimana ceritanya itu bis WA-an dan telponan ! Bener orang saranjana ? Aku bisa mendengar suaranya langsung.
  • Aku juga sempat menanyakan kepada Pua Bela kok manusia bisa berkomunikasi seluler sih sama orang saranjana. Kalau itu benar orang saranjana. Jawabannya ? ada dibuku. wkwk *hardselling
  • Merasa tertantang, aku mengiyakan ! Bisa gak ya aku melihat kotanya ? Aku hanya manusia biasa, bukan indigo juga. Ada gak kemungkinan melihat kotanya.
  • Pua Bela mengajakku sore itu gunung saranjana saat itu juga. Kami berangkat lagi dari rumahnya menuju gunung saranjana sekitar 40 menitan karna harus melewati hutan, pemukiman, hutan, dan pantai.
  • Di sini timku merekam untuk stock shot. Pua Bela juga beberapa kali teponan dengan orang saranjana. Mereka telponan lamaaaaa banget. Entah apa yang didiskusikan. Mungkin karena kedatanganku kali ya.
  • Aku akhirnya disuruh ngobrol langsung dengan orang saranjana via telepon. Bingung gak sih lo ! Tapi ya kuangkat. Terdengar suara perempuan berbahasa Indonesia. Bahasanya baku, lemah lembut, dan tidak ada terdengar logat kedaerahannya sebagai orang kalimantan. Menurutku.
  • “Gina, kamu mau melihat kota saranjana ?” tanya dia diseberang telpon. “Iya. Boleh ?” tanyaku balik.
  • Dia memintaku mengembalikan hape kepada Pua Bela. Dia pun meminta Pua Bela berfoto denganku dan mengirimkan fotonya ke “saranjana” untuk laporan bahwa ada manusia yang mau masuk. Oh waw, kataku dalam hati.
  • “Ayo kita ke sana. Di sana gerbangnya.” Kata Pua Bela. Kami melanjutkan perjalanan di piggir pantai. Aku semakin ga sabar melihat secara langsung.
  • Kami berdiri di sebuah tebing batu yang tidak jauh dari pantai. Menurut Pua inilah gerbang saranjana. Aku telah bediri di pohon dengan perasaan campur aduk. Bisakah aku melihat kotanya ? Bisakah aku pulang ke sini kalau benar.
  • Nyaris sudah aku percaya aku akan berpindah alam. Aku bahkan sudah berpesan ke adikku kalau ada apa-apa, kabarin keluarga, dan cari aku gimanapun caranya. Ya jaga jaga aja, ini kan hal yang antara ada dan tiada.
  • Detail perjalananku ini sangat panjang sebenarnya. Ini hanya sedikit gambaran isi bukuku. masih ada wawancara dengan 2 juru kunci saranjana, yang jauh lebih sepuh dari Pua Bela. Nenek Saniah dan Kai Ganna.
  • Mereka itu menjadi juru kunci karena memiliki pengalaman dan dipercaya oleh orang saranjana. Mereka juga memiliki benda dari alam saranjana yang semacam menjadi “kunci masuknya.”
  • Tak hanya dari warga lokal, aku juga mencari tinjauan literatur soal saranjana. Aku ke perpus daerah berselancar di rak-rak buku dan merepotkan staff perpus dengan pertanyaan-pertanyaanku.
  • Makasih ya Bapak Ibu. Aku menemukan buku yang bercerita asal usul saranjana terbitan perpus daerah. Aku rangkum dan tulis di buku. Kamu kalau mau tahu ceritanya coba nanti pergi ke sana dan datangi tempat-tempat yang sama ku datangi.
  • Oh ya aku juga mewawancarai seorang sejarawan, namanya Pak Mansyur. Dia dosen dari Universitas Lambung Mangkurat. Dia telah meneliti saranjana dari segi sejarah. Dia pula yang menemuka peta saranjana dari Solomon Muller yang populer itu di berita-berita.
  • Tapi sebenarnya ada 3 peta loh ! Gak cuman 1, dan ada di satu kamus hindia belanda sama tesis Goh Yon Fong. Ada kisah misterius juga dalam kajian ilmiahnya tuh. Duh maaf ya ga bisa ngasih cerita semua di thread. Karna aku juga kan jualan buku. muehehehe.
  • ah masih banyak lagi ! Aku tak bisa menceritakan semuanya. Kalau kamu mau ikut bertualang denganku. Kamu beli saja bukunya ya. Aku sudah jauh-jauh ke sana dan menuliskannya. Bukunya terbit untuk jadi teman bertualangmu.
  • Mencari Saranjana ditulis seperti jurnal atau catatan perjalananku. Hari demi hari, kamu ikut bersamaku. Dapat membayangkan atau bahkan merasakan dinamika emosiku saat itu. Dan tentunya disertai dengan foto-foto yg ku dapat dilokasi dan yg diberikan oleh saksi hidup !!
  • Saat ini pre order ya sebelum nanti tersedia di toko buku. Nah kamu yang ikut pre order, 500 orang pertama dapat ttd dari aku. ehehehe. Ini buku spesial sekali dariku.
Baca Juga:  Mobil yang Terseret KRL Ternyata di Perlintasan Manual Rawageni, Sudah Sering Kejadian?
Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...