Profil Dandhy Dwi Laksono, Didaulat Memimpin Blok Politik Alternatif
Elemen masyarakat sipil Indonesia di Belanda—diaspora, pelajar, pekerja, dan profesional—menyatakan sikap politik tertanggal Rabu, 17 Juni 2026.
Elemen masyarakat sipil Indonesia di Belanda—diaspora, pelajar, pekerja, dan profesional—menyatakan sikap politik tertanggal Rabu, 17 Juni 2026.
Mereka melakukan deklarasi Konsolidasi Pembentukan Blok Politik Alternatif.
Juga mendaulat Saudara Dandhy Dwi Laksono untuk memimpin konsolidasi tersebut bersama Gerakan Reset Indonesia, Indonesia Baru, dan berbagai elemen masyarakat sipil yang sejalan dengan misi ini.
Mengapa Kita Membutuhkan Blok Politik Alternatif dan Mengapa KamiMendaulat Dandhy Dwi Laksono?
1 Krisis Representasi dan Sistem Politik yang Rusak
Sistem politik Indonesia sedang mengalami krisis representasi yang serius. Partai-partai politik telahbertransformasi menjadi kendaraan elite dan pemodal yang berorientasi pada perburuan rente, sertasemakin kehilangan hubungan dengan konstituen yang seharusnya mereka wakili.
Bukti Sistemik.
Skor terbaru Varieties of Democracy (V-Dem) menunjukkan kualitas demokrasi Indonesia merosot keangka 0,30—terendah sepanjang era Reformasi. Kondisi ini bukan sekadar kegagalan figur ataupemerintahan tertentu, melainkan indikasi kerusakan sistemik yang semakin dalam.
Sikap Kami
Jika sistem politik tidak lagi mampu memperbaiki dirinya sendiri, maka tidak ada alasan untuk berharapsistem tersebut melahirkan pemimpin berwatak negarawan yang memastikan kekuasaan tetap berada ditangan rakyat.
Golput bukan semata bentuk apatisme, melainkan penolakan yang logis terhadap sistemyang gagal melakukan koreksi internal. Namun, golput saja tidak cukup. Perubahan kosmetik tidak lagimemadai; yang dibutuhkan adalah transformasi struktural yang mendasar.
2 Mandat Perubahan di Tangan Masyarakat Sipil
Riset terbaru Vedi Hadiz dan Richard Robison dalam Oligarchy and the End of Reformasi menunjukkan bahwa oligarki pasca-Reformasi justru semakin terkonsolidasi di dalam institusi demokrasi.
Dalam situasi demikian, mengkritik dari luar atau menitipkan aspirasi kepada partai-partai lama tidak lagimemadai.
Perubahan harus dipimpin oleh masyarakat sipil yang terorganisasi melalui sebuah Blok Politik Alternatif.
Wadah ini dibentuk untuk mengonsolidasikan kekuatan rakyat, merebut kembali ruang politik secarademokratis, serta mempersiapkan lahirnya partai politik alternatif dalam jangka panjang.
3 Kepemimpinan Sipil yang Demokratis
Konsolidasi gerakan rakyat sering kali kandas karena alergi terhadap struktur dan kepemimpinan.
Tanpa nahkoda, gagasan alternatif hanya akan berhenti sebagai wacana. Kita membutuhkan fungsikepemimpinan untuk mengawal kerja organisasi, bukan untuk menciptakan kultus individu.
Karena itu, kami mendaulat Dandhy Dwi Laksono sebagai Pemimpin Konsolidasi.
Penegasan Penting
- Kami tidak mendaulat Dandhy sebagai calon presiden.
- Kami tidak menjadikan Dandhy sebagai mesias politik ataupun pemilik gerakan.
- Kami mendaulatnya semata-mata untuk memimpin fase awal konsolidasi gerakan rakyat.
- Kami mendukung Dandhy bukan karena percaya satu orang dapat menyelamatkan Indonesia,melainkan karena diperlukan titik awal untuk membangun kerja kolektif yang terorganisasi.
Mengapa Dandhy Dwi Laksono?
Teruji dalam Berbagai Perjuangan Sosial (Socially Battle-Proven)
Memilih Dandhy merupakan upaya menghadirkan cara baru dalam menentukan pemimpin: bukanberdasarkan silsilah dinasti politik atau besarnya kekuatan finansial, melainkan berdasarkan rekam jejakperjuangan sosial yang nyata.
Rekam Jejak
Selama bertahun-tahun, Dandhy konsisten terlibat dalam berbagai isu publik.
Ia membangun jejaringliterasi dan advokasi warga dari Aceh hingga Papua, baik melalui kerja lapangan maupun ruang digital.
Ia menunjukkan keberanian menghadapi tekanan kekuasaan, menjaga independensi dari partai politik,serta mampu menjembatani kelompok-kelompok masyarakat yang selama ini terfragmentasi—mulai darikomunitas keagamaan, masyarakat adat, budayawan, buruh, hingga mahasiswa.
Visi Kerakyatan
Perjalanannya ke berbagai wilayah Indonesia memberinya pemahaman langsung mengenai bagaimanakekayaan hayati, nilai-nilai spiritual, dan keragaman budaya bangsa terancam oleh model pembangunanyang semakin tersentralisasi dan ekstraktif.
Dalam situasi tersebut, kedaulatan politik rakyat terusdigadaikan kepada kepentingan pemodal dan oligarki.
Tiga Poin Maklumat Deklarasi
- Menyatakan Darurat Politik
Menegaskan kebutuhan mendesak akan hadirnya Blok Politik Alternatif sebagai instrumen koreksimendasar terhadap sistem politik Indonesia saat ini.
- Konsolidasi Blok Politik Rakyat
Mendaulat Dandhy Dwi Laksono sebagai simbol daulat rakyat untuk mendorong dan mengorganisasiGerakan Reset Indonesia dan Indonesia Baru, bersama berbagai elemen masyarakat sipil lainnya:gerakan koperasi, gerakan adat, gerakan agraria, komunitas keagamaan, petani, buruh, nelayan, pelajar,dan mahasiswa, guna menyelenggarakan Kongres Rakyat yang demokratis dan damai.
Kongres tersebut bertujuan menyusun pakta perjuangan, manifesto politik, struktur organisasi, serta arahperjuangan Blok Politik Alternatif.
- Seruan Aksi Nasional
Mengajak seluruh elemen masyarakat sipil: petani, nelayan, buruh, mahasiswa, jurnalis, diaspora,komunitas keagamaan, serta pelaku seni dan budaya untuk menggulirkan deklarasi serupa danmelakukan konsolidasi gerakan di wilayah masing-masing.
Bagaimana Cara Terlibat?
- Membuat pernyataan sikap atau deklarasi bersama komunitas Anda.
- Mengunggah video dukungan, baik secara individu maupun kelompok, di media sosial.
- Menyelenggarakan diskusi publik dan konsolidasi basis massa.
- Menyuarakan gerakan melalui tagar:
#BlokPolitikAlternatif #ResetIndonesia #DandhyAdalahKita #DaulatDandhy
Profil Dandhy Dwi Laksono
Dilansir dari Wikipedia, Dandhy Dwi Laksono lahir 29 Juni 1976 (49 tahun) adalah seorang jurnalis Indonesia yang terkenal dengan jurnalisme investigasinya.
Yakni yang mencakup karya tulis dan film dokumenter.
Istrinya, Irna Gustiawati, adalah pemimpin redaksi Liputan6.com.
Dandhy dikenal untuk film dokumenter 2019-nya, Sexy Killers, yang dirilis sebelum pemilihan umum Indonesia 2019,
Film ini mendokumentasikan kolusi antara elit politik dan industri pertambangan batu bara yang bertanggung jawab untuk kerusakan lingkungan.
Awal karier jurnalistik
Karier Jurnalismenya diawali pada tahun 1990.[3] Pria kelahiran Lumajang ini alumnus Sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran, Bandung.
Pendidikan nonformal ia peroleh dari Ohio University Internship Program on Broadcast Journalist Covering Conflict, Amerika Serikat (2007) dan British Council Broadcasting Program, London (2008).
Ia juga ikut berbagai workshop dan seminar tentang jurnalistik/media di Filipina, Thailand, Tiongkok, Malaysia, dan Korea Selatan.
Dandhy, sapaan akrabnya, memulai karier jurnalistik pada 1998 di tabloid Kapital dan majalah Warta Ekonomi.
Ia lalu beralih ke media radio, Pas FM, Smart FM, Ramako, atau menjadi stringer di radio ABC Australia.
Lalu pindah lagi ke televisi menjadi produser berita di Liputan 6 SCTV dan Kepala Seksi Peliputan di RCTI.
Ia juga pernah memimpin majalah dan situs acehkita.com—sebuah media alternatif di masa pemberlakuan darurat militer di Aceh (2003–2005).
Dandhy lahir 29 Juni 1976 di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.