Business is booming.

Mundurlah Ketua MK Trending, Netizen Sebut Gibran Tak Punya Dosa Apa2

Jimly juga menyebut putusan MKMK akan berdampak pada pendaftaran bakal pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Tagar Mundurlah Ketua MK trending di media sosial X (Twitter) pada Selasa (7/11/2023), menyusul netizen mendesak Anwar Usman mundur dari jabatannya karena dinilai telah melakukan kesalahan seperti dikatakan Ketua Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK) Jimly Ashiddiqie.

“Ketua MK Terbukti BERSALAH
Jimly Asshiddiqie tegas mengatakan kantongi bukti Anwar Usman TERBUKTI BERSALAH
Mundurlah Ketua MK, jangan menggunakan dalih “Demi Allah” lagi menutupi berbagai kebobrokan ini,” tulis pemilik akun Twitter @Miduk17, menanggapi tagar Mundurlah Ketua MK yang trending tersebut.

Sontak netizen pun gaduh menanggapi tagar Mundurlah Ketua MK yang trending hingga tercatat 18.700 ciutan yang disampaikan netizen.

Lalu pemilik akun Twitter @w3_esbe menulis, “Tuntut sanksi berat bagi Anwar Usman!” Mundurlah Ketua MK.”

Namun pemilik akun Twitter menulis, “Jadiii..
Awalnya tuh puan PDIP mau jadikan @gibran_tweet sebagai cawapres
@ganjarpranowo dan tggu putusan MK, tapi ternyata gibran menolak jdi cawapres ganjar makanya di ambillah @mohmahfudmd sebagai cawapres.
Kesel dan marah karena di tolak akhirnya mati2an jatuhkan
@jokowi”

@Jo_nesAbdul666 menulis, “kalo Gibran ke banteng juga gk akan nyeruduk bgini,,apa yang salah dengan putusan MK, Gibran tidak punya dosa apa2 bagi Indonesia padahal”

@chucky502 menulis, “gibran nya aja yang milih prabowo, kalo misal yang dipilih ganjar juga gakan se drama ini hahaa”

@Dizwen17 menulis, “yahh batal rekrut anak muda malah rekrut massa buat batalin putusan MK. kayaknya kalo gibran di kubu sebelah ga bakal kaya gini deh urusannya wkwkw”

@bunda_tari69 menulis, “ini faktnya nih, bahwa PDIP pernah ingin menjadikan Gibran sebagai Cawapres, sekarang pas sudah tidak se-tim malah seolah-olah korban, hadeh”

MKMK bacakan putusan dugaan pelanggaran kode etik hari ini

Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK) akan membacakan putusan dugaan pelanggaran kode etik dan perilaku hakim konstitusi terkait Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 90/PUU-XXI/2023 soal batas usia calon presiden dan calon wakil presiden pada Selasa (7/11/2023) petang.

Baca Juga:  Lirik dan Terjemahan Lagu Old Love Oleh Yuji Feat Putri Dahlia

“Betul, pukul 16.00 WIB,” kata Kepala Biro Hukum Administrasi dan Kepaniteraan MK Fajar Laksono kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.

MKMK telah menyelesaikan pemeriksaan terhadap 21 laporan yang masuk. Pemeriksaan kepada pelapor dimulai dengan rapat dengan agenda klarifikasi pada hari Kamis (26/10) dan berakhir dengan sidang terbuka pada hari Jumat (3/11).

Di sisi lain, pemeriksaan terhadap terlapor juga telah dirampungkan. Secara beruntun sejak Selasa (31/10) hingga Jumat (3/11) MKMK melakukan sidang tertutup kepada sembilan hakim konstitusi yang dilaporkan.

MKMK memeriksa hakim konstitusi sebanyak satu kali, kecuali Ketua MK Anwar Usman sebanyak dua kali. Ketua MKMK Jimly Asshiddiqie menjelaskan bahwa pemeriksaan terhadap Ketua MK harus dilakukan lebih dari satu kali karena Anwar Usman mendapatkan laporan terbanyak.

Usai sidang terakhir, Jimly mengatakan bahwa seluruh bukti terkait dengan kasus dugaan pelanggaran kode etik oleh MK telah lengkap, termasuk keterangan saksi dan ahli.

Jimly mengaku pihaknya tidak sulit untuk membuktikan dugaan pelanggaran tersebut.

“Sebenarnya kalau ahli, para pelapor ahli semua,” kata Jimly saat ditemui di Gedung II MK, Jakarta, Jumat (3/11).

Jimly juga menyebut putusan MKMK akan berdampak pada pendaftaran bakal pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Ia mengajak seluruh pihak untuk memahami secara saksama putusan yang nantinya akan dibacakan.

“Nanti tolong dilihat di putusan yang akan kami baca, termasuk jawaban atas tuntutan supaya putusan itu (putusan MKMK) ada pengaruhnya terhadap putusan MK sehingga berpengaruh pada pendaftaran bakal pasangan calon presiden/wakil presiden,” kata Jimly.

Menurut Jimly, MKMK setidaknya menemukan 11 persoalan yang dilaporkan.

Pertama, soal hakim yang tidak mengundurkan diri dari perkara yang ada hubungan keluarga di dalamnya.

Kedua, lanjut dia, hakim konstitusi juga dilaporkan karena berbicara di ruang publik terkait dengan substansi materi perkara yang sedang diperiksa.

Baca Juga:  Profil Mayjen TNI Agus Suhardi, dari Pangdam II/Sriwijaya ke Asisten Operasi Panglima TNI

Ketiga, hakim mengungkapkan dissenting opinion atau perbedaan pendapat terkait dengan substansi materi perkara yang sedang diperiksa dengan membubuhkan keluh kesah internal.

Keempat, hakim konstitusi dianggap melanggar kode etik karena membicarakan permasalahan internal kepada pihak luar sehingga dapat menimbulkan ketidakpercayaan pada MK.

Kelima, dilaporkan karena dinilai melanggar prosedur registrasi yang diduga atas perintah Ketua MK Anwar Usman.

Keenam, laporan soal pembentukan MKMK yang dianggap lambat, padahal sudah diperintahkan oleh undang-undang.

Ketujuh, laporan soal mekanisme pengambilan keputusan yang dinilai kacau.

Kedelapan, dianggap dijadikan alat politik praktis.

Kesembilan, dilaporkan karena permasalahan internal dinilai bocor dan diketahui oleh pihak luar.

Sepuluh, hakim konstitusi diduga melakukan kebohongan terkait dengan ketidakhadirannya dalam Rapat Permusyawaratan Hakim (RPH) Perkara Nomor 29-51-55/PUU-XXI/2023.

Sebelas, persoalan pembiaran memutus perkara yang diduga berkaitan dengan kepentingan anggota keluarga hakim.

Lebih lanjut Jimly berharap putusan MKMK bisa memberikan solusi terbaik terhadap demokrasi di Indonesia.

Ia juga memastikan putusan MKMK adalah langkah terbaik untuk menemukan solusi yang adil dan berkeadilan.

(Sumber: Antaranews.com)

 

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...