Profil Salsa Erwina, Bantah Sebagai Ternak Mulyono atau Pendukung Jokowi
Netizen nenemukan Jejak Digital tahun 2012 memuji-muji Jokowi
Salsa Erwina trending. Ia dianggap sebagai pendung Presiden Jokowi yang selama ini dicap sebagai ternak Mulyono atau Termul.
Salsa Erwina pun memberikan bantahan karena selama 10 tahun terakhir ia membangun hidupnya sendiri di dua negara yakni Kuala Lumpur dan Denmark.
Belakangan ia menyorot politik Indonesia karena kondisi bangsa yang sedang tidak baik-baik saja.
Bahkan Salsa Erwina Hutagalung mengarahkan fokusnya pada gerakan aktivisme yang lebih terstruktur.
Ia menjadi salah satu inisiator utama dalam perumusan “17+8 Tuntutan Rakyat”, sebuah dokumen yang merangkum aspirasi publik di tengah gelombang demonstrasi pada Agustus 2025.
Namun netizen menunjukkan jejak digitalnya bahwa Salsa Erwina terbukti kerap mendukung Jokowi.
“Salsa Erwina sudah jadi Jokower sejak 2012, puji2 Jokowi sejak Jokowi Gubernur DKI. #WaspadaiKudetaGengSolo
Tahun 2025 menjelang kudeta Jokowi terhadap Prabowo, Salsa aktif mengkritik semua partai terutama mereka yang pernah dukung Anies dan tidak pernah mengkritik Jokowi,”kata @Srik4ndiMuslim2 seraya menunjukkan capture twit Salsa Erwina.
“Jawaban Salsa Erwina apakah dia Termul atau bukan, jadi selama 10 tahun ini dia membangun hidup (tidak mengurusi urusan masyarakat/politik). Dia lupa sama jejak digitalnya yang memuji-muji Jokowi, kasus Jokowi masuk dalam nominasi pemimpin negara terkorup 2024 versi OCCRP itu kan belum lama
Kasus Gibran pakai MK untuk merubah syarat Wapres kan belum lama, kenapa tidak komentar
Saat Jokowi jadi Presiden pertama kali saja bisa ngetweet Nggak nyambung penjelasannya,” @CakKhum
“Yah ampun, kemarin ibu-ibu turun ke jalan beneran panas-panasan demi perjuangan, tapi kok si Salsa Erwina muncul tiba-tiba kayak artis dadakan? Dia beneran ikut bela apa cuma ikut-ikutan biar eksis? Aku sih dukung ibu2 yang dari hati, bukan yang cuma cari muka. Kalian gimana?,” @dreamjland
Profil Salsa Erwina
Salsa Erwina Hutagalung (lahir 23 Maret 1992) adalah seorang pembuat konten dan aktivis.
Dilansir dari Wikipedia, Salsa merupakan diaspora Indonesia yang menetap di Aarhus, Denmark.
Ia dikenal melalui siniar pengembangan diri bertajuk “Jadi Dewasa 101”. Ia dikenal luas karena pada Agustus 2025 setelah melayangkan tantangan debat terbuka kepada Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni.
Salsa menempuh pendidikan sarjana di jurusan Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada (UGM), dari 2010 hingga 2014.
Selama masa studinya, ia terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi 2014 dan menyelesaikan studi dengan predikat lulusan terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,81.
Selama ia kuliah, ia tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa English Debating Society (EDS) dan aktif dalam berbagai kompetisi debat.
Pada 2012, ia menjadi bagian dari delegasi yang mencapai babak perempat final dalam sebuah kejuaraan debat antar-universitas bernama World Universities Debating Championship yang diselenggarakan di Berlin, Jerman.
Pada 2014, ia menjadi juara pertama pada kompetisi debat The United Asian Debating Championship (UADC) untuk kategori English as Foreign language (EFL) di Nanyang Technological University, Singapura.
Salsa bekerja di perusahaan produsen turbin angin asal Denmark yang bernama Vestas.
Ia menjadi bagian dari tim manajemen strategis pada perusahaan tersebut, dengan tanggung jawab untuk memastikan tercapainya tujuan dan hasil kunci.
Sebelumnya, ia bekerja sebagai manajer pada divisi pengembangan bisnis e-commerce di perusahaan yang sama.Namun, Salsa lebih dikenal sebagai pembuat konten siniar di Instagram, maupun TikTok.
Selain itu, ia juga memproduksi dan membawakan siniar berjudul “Jadi Dewasa 101”, yang bertajuk pengembangan diri.
Pada Agustus 2025, Salsa melalui akun media sosialnya mengunggah video yang berisi tantangan debat terbuka kepada Sahroni.
Tantangan tersebut merupakan respons atas pernyataan Ahmad Sahroni yang menggunakan istilah “orang tolol sedunia” saat menanggapi tuntutan pembubaran DPR, yang menimbulkan beragam reaksi di kalangan masyarakat.
Ia mengusulkan agar debat tersebut membahas kinerja dan tunjangan DPR serta difasilitasi oleh juri profesional berskala internasional.
Ahmad Sahroni menolak tantangan tersebut melalui sebuah unggahan media sosial.
Ia kemudian memberikan klarifikasi bahwa pernyataannya tidak ditujukan kepada masyarakat, melainkan pada logika berpikir di balik tuntutan pembubaran institusi parlemen.
Dalam Perubahan Ketiga Konstitusi Indonesia (UUD 1945) yang disahkan dalam Rapat Paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) ke-7 pada tanggal 9 November 2001. Pada Pasal 7C berbunyi, ”Presiden tidak dapat membekukan dan/atau membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat”, sehingga DPR tidak bisa lagi dibubarkan oleh Presiden maupun Wakil Presiden, baik melalui Dekrit, Perppu, maupun instrumen hukum lainnya.
Isu ini semakin berkembang setelah Salsa mengaku bahwa ia menerima informasi dari wartawan tentang adanya pergerakan tim Ahmad Sahroni yang berusaha mengintimidasi keluarganya.
Dalam sebuah pernyataan video, ia meminta agar keluarganya tidak diintimidasi dan menyatakan akan mencari dukungan internasional jika hal tersebut terjadi.
17+8 Tuntutan Rakyat
Artikel utama: 17+8 Tuntutan Rakyat
Menyusul perhatian publik yang didapatkannya, Salsa Erwina Hutagalung mengarahkan fokusnya pada gerakan aktivisme yang lebih terstruktur.[18] Ia menjadi salah satu inisiator utama dalam perumusan “17+8 Tuntutan Rakyat”, sebuah dokumen yang merangkum aspirasi publik di tengah gelombang demonstrasi pada Agustus 2025.
Bekerja sama dengan sejumlah pemengaruh lainnya seperti Andovi da Lopez, Jovial da Lopez, Jerome Polin, Abigail Limuria, Cheryl Marcella, dan Fathia Izzati, ia mengonsolidasikan tuntutan dari berbagai organisasi masyarakat sipil, termasuk YLBHI dan PSHK.
Dokumen tersebut dibagi menjadi dua bagian:
17 Tuntutan Jangka Pendek, yang ditujukan kepada Presiden, DPR, pimpinan partai politik, Kepolisian, TNI, dan kementerian sektor ekonomi, dengan tenggat waktu penyelesaian dalam satu minggu (hingga 5 September 2025).
Beberapa poin utamanya adalah pembekuan kenaikan gaji DPR, pembentukan tim investigasi independen untuk kasus kekerasan aparat (termasuk kasus tewasnya Affan Kurniawan), pembebasan demonstran, dan penarikan TNI dari ranah sipil.
8 Tuntutan Jangka Panjang, dengan target waktu penyelesaian dalam satu tahun (hingga 31 Agustus 2026). Tuntutan ini mencakup agenda reformasi yang lebih mendasar, seperti reformasi DPR dan partai politik, pengesahan RUU Perampasan Aset, reformasi Kepolisian dan TNI, serta peninjauan ulang kebijakan ekonomi yang berdampak pada masyarakat luas.[21]
Salsa Erwina menikah dengan Ali Ebrahimi, seorang ahli kecerdasan buatan (AI). Berdasarkan keterangan Salsa di media sosial, suaminya memberikan dukungan terhadap aktivitas publik yang dilakukannya.