Profil Maria Corina Machado, Oposisi Venezuela dan Peraih Hadiah Nobel
Masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh versi majalah Time pada tahun 2025.
Maria Corina Machado, pemimpin opisisi Venezuela dan peraih Nobel Perdamaian 2025 kini dalam sorotan.
María Corina Machado Parisca lahir 7 Oktober 1967 (58 tahun).
Machado adalah seorang insinyur industri terlatih yang terpilih menjadi anggota majelis nasional Venezuela pada tahun 2010 dan menjadi kritikus yang vokal terhadap penyalahgunaan kekuasaan pemerintah.
Ia adalah sosok yang mampu menyatukan oposisi yang terpecah-pecah di negara tersebut. Machado dan pihak oposisi telah berupaya keras dalam beberapa bulan terakhir untuk memperjelas bahwa mereka siap memimpin negara serta mengakhiri kerja sama pemerintah dengan penyelundup narkoba pasar gelap.
Pada tahun 2023, Machado memenangkan pemilihan pendahuluan oposisi untuk menjadi kandidat persatuan dalam pemilihan presiden 2024.
Machado dilarang mengikuti pemilihan presiden 2024 karena ia didiskualifikasi dari jabatan publik selama 15 tahun karena pelanggaran administratif dan fiskal yang berasal dari masa jabatannya sebagai anggota legislatif.
Mahkamah Agung Venezuela menguatkan diskualifikasi tersebut.
Ia menunjuk Corina Yoris sebagai kandidat pengganti, yang kemudian digantikan oleh Edmundo González.
Tak lama setelah pemilihan presiden, Machado mengklaim bahwa ia telah bersembunyi, dengan alasan takut akan keselamatan dan kebebasannya di bawah pemerintahan Maduro.
Selain Hadiah Nobel Perdamaian, ia dinobatkan sebagai salah satu dari 100 Wanita BBC pada tahun 2018, dan masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh versi majalah Time pada tahun 2025.
Pada tahun 2024, Machado menerima Hadiah Hak Asasi Manusia Václav Havel dan Hadiah Sakharov (bersama dengan González) karena mewakili warga Venezuela yang memperjuangkan demokrasi.
Seperti diketahui, Venezuela telah diperintah oleh kediktatoran selama lebih dari satu dekade. Perbedaan pendapat dan kebebasan berbicara ditindas secara brutal, dan pengadilan serta lembaga legislatif tidak bertindak secara independen.
Ketika Maduro kalah dalam pemilihan ulang presiden pada tahun 2024, ia menyangkal hasilnya dan menolak untuk meninggalkan jabatannya.
Presiden Venezuela yang terpilih secara sah, Edmundo González Urrutia, telah hidup dalam pengasingan di Spanyol sejak saat itu.
María Corina Machado, sekutu González dan pemimpin oposisi Venezuela, dilarang mencalonkan diri melawan Maduro tahun itu, dan hidup dalam persembunyian di Venezuela hingga bulan lalu.
Saat itulah Machado melarikan diri dari negara asalnya untuk pergi ke Oslo untuk menerima Hadiah Nobel Perdamaian, yang ia dedikasikan kepada Trump sambil menyatakan dukungan untuk serangan Trump terhadap kapal-kapal yang diduga membawa narkoba Venezuela.
Namun, semua itu tidak cukup dia akan menjadi pengganti Meduro.
Pihak Trump mengatakan keputusan Machado menerima Nobel Perdamaian dipandang sebagai “kesalahan serius” oleh presiden AS.
Itu yang membuat dukungan politik Washington terhadapnya meredup.
Menurut salah satu pejabat, Trump menilai penghargaan tersebut seharusnya ditolak demi menjaga kesetiaan politik.
Pejabat itu bahkan menyebutkan bahwa jika Machado menolak Nobel Perdamaian demi Trump, “Dia akan menjadi presiden Venezuela hari ini.”
Machado sebelumnya mendedikasikan Nobel Perdamaian itu kepada Trump pada Oktober 2025.
Ia memuji dukungan tegas Trump terhadap gerakan oposisi Venezuela serta perannya dalam meningkatkan tekanan internasional terhadap pemerintahan Maduro.
Namun, ketika ditanya mengenai peluang Machado memimpin Venezuela, Trump menyampaikan penilaian bernada meremehkan.
“Akan sangat sulit baginya untuk menjadi pemimpin. Dia tidak memiliki dukungan di dalam negeri atau rasa hormat dari dalam negeri. Dia perempuan yang sangat baik, tetapi dia tidak memiliki rasa hormat,” kata Trump.