Profil Riza Chalid, Sudah Ditandai Red Notice, Segera Ditangkap?
Sekretaris NCB Interpol Indonesia Divhubinter Polri Brigjen Pol Untung Widyatmoko memastikan keberadaan Muhammad Riza Chalid (MRC) tetap terpantau pascapenerbitan red notice
Sekretaris NCB Interpol Indonesia Divhubinter Polri Brigjen Pol Untung Widyatmoko memastikan keberadaan Muhammad Riza Chalid (MRC) tetap terpantau pascapenerbitan red notice Interpol pada Jumat (23/1/2026).
Red notice adalah permintaan kepada penegak hukum di seluruh dunia untuk menemukan dan menangkap sementara seseorang demi kepentingan penegakan hukum.
“Kami pastikan yang bersangkutan berada di salah satu negara anggota Interpol dan keberadaannya telah kami petakan serta pantau. Tim saat ini juga sudah berada di negara yang bersangkutan,” kata Untung seperti dikutip Antara, Minggu (1/2/2026).
Namun, lokasi spesifik yang bersangkutan belum dapat disampaikan ke publik demi kepentingan dan kelancaran proses penegakan hukum.
Untung mengatakan pascapenerbitan tersebut, Polri langsung melakukan koordinasi intensif dengan Markas Besar Interpol di Lyon, Prancis, serta mitra penegak hukum di dalam dan luar negeri.
Brigjen Pol Untung Widyatmoko menjabat Sekretaris NCB Interpol Indonesia Divhubinter Polri sejak 2 Juli 2024.
Ia menggantikan Brigjen Pol Amur Chandra yang memperoleh promosi sebagai Kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadiv Hunter).
Mayjen Pol Amur Chandra alumni Akpol 1990, Brigjen Pol Widyatmoko alumni Akpol 1991.
Sebelumnya dalam aksi demonstrasi pada Selasa (3/9/2025) netizen mulai sibuk menyebut sejumlah nama yang dianggap pantas ditangkap.
Salah satunya Riza Chalid yang dikenal mafia Migas.
Kejaksaan Agung telah mengungkap kasus korupsi Pertamina yang menyeret nama Riza Chalid. Namun Ramai di awal kemudian senyap.
“Dua menteri, Trenggono dan Abdul Karding, memuat postingam yg sama. Sebut Riza Chalid (RC) sebagai mafia. Ayuk kita kasi deadline, dalam 7 hari bisa gak RC ditangkap? Dibawa ke Indonesia? Biar gak cuma monolog di medsos nih menteri2. Lagian fokus protes awalnya ke anggota2 DPR kog,” tulis akun @unilubis, wartawan senior.
“Jangan biarkan kasus Riza Chalid tenggelam. Kerugian negaranya jauh lebih besar dari tunjangan DPR yg bikin heboh. Kejaksaan wajib buru sampai ketemu. Publik jangan diam, terus suarakan sampai ada keadilan! @negativisme
“Riza Chalid otak dibalik kerusuhan? Apa bener dia memiliki orang-orang di partai politik spt Syahroni, Bahlil dan Adies Kadir?,” @JamalBoegis
Profil Riza Chalid
Dilansir dari Wikipedia, Mohammad Riza Chalid lahir 1960 atau dikenal juga dengan Reza Chalid.
Ia adalah pengusaha asal Indonesia dengan berbagai bidang usaha dari ritel mode, kebun sawit, jus, hingga minyak bumi.
Riza dijuluki “Saudagar Minyak” (The Gasoline Godfather) karena dianggap mendominasi bisnis impor minyak via Petral dan kerap dianggap sebagai “penguasa abadi bisnis minyak” di Indonesia.
Nilai bisnisnya diperkirakan mencapai 30 miliar USD per tahun.
Dengan total kekayaan yang diperkirakan mencapai 415 juta dolar, Chalid merupakan orang terkaya ke-88 dalam daftar 150 orang terkaya versi Globe Asia.
Riza Chalid merupakan anak dari pasangan Chalid bin Abdat dan Siti Hindun binti Ali Alkatiri.
Riza Chalid menikah dengan Roestriana Adrianti yang kerap disapa dengan Uchu Riza pada tahun 1985.
Pertemuan mereka berlangsung singkat, pada acara ulang tahun Uchu, lalu langsung menikah tiga bulan kemudian.
Dari pernikahan ini Riza dan Uchu memiliki dua anak, Muhammad Kerry Adrianto (lahir tahun 1985) dan Kenesa Ilona Rina (lahir tahun 1989).
Pada dekade 2000-an, sebagian waktu mereka dihabiskan di Singapura.
Anak-anak Riza dan Uchu pindah untuk bersekolah di United World College of South East Asia (UWC SEA), Singapura pada tahun 1998 karena situasi Indonesia yang “kacau” dan seluruh gurunya pindah ke Singapura.
Nama Reza mulai mencuat sehubungan dengan kasus yang melibatkan Setya Novanto, ketua DPR RI dalam kontroversi perpanjangan izin operasi PT Freeport Indonesia, sebuah perusahaan tambang emas yang besar di Provinsi Papua yang sudah berdiri sejak 1966.
Reza terkait dengan bisnis perminyakan di Indonesia yang melibatkan Petral, perusahaan milik Pertamina yang berbasis di Singapura yang bertanggung jawab dalam memasok minyak mentah dan BBM dengan harga yang tidak kompetitif.
Reza Chalid diketahui memiliki sejumlah perusahaan seperti Supreme Energy, Paramount Petroleum, Straits Oil dan Cosmic Petroleum. Semua perusahaan Reza yang berbasis di Singapura didaftarkan di Kepulauan Virgin, sebuah wilayah yang dikenal di seluruh dunia sebagai surga pajak orang-orang kaya.
Nama Riza Chalid juga ditengarai ikut bermain dalam pemilihan umum 2014 di Indonesia, sebagai salah seorang pendukung dan penyandang dana Prabowo Subianto dengan membiayai tabloid fitnah Obor Rakyat dan membeli Rumah Polonia yang menjadi markas tim sukses Prabowo-Hatta.
Ia juga disebut-sebut ikut membiayai kampanye pencalonan presiden Anies Baswedan dengan menyumbangkan private jet miliknya yang digunakan Anies untuk berkampanye.
Pada Desember 2015 Riza Chalid melalui pengacaranya melaporkan pencemaran nama baik untuk pembuat akun twitter palsu @Riza_Chalid yang menyebarkan informasi tidak benar.
Pada tahun 2025 direksi Pertamina Patra Niaga menjadi tersangka korupsi yang ditetapkan Kejagung.
Perusahaan ini bergerak di bidang perdagangan olahan minyak bumi yang diketahui bekerja sama dengan saudagar minyak.
Diketahui Riza Chalid masih memiliki kaitan dengan Patra Niaga melalui perusahaan putranya yang turut terjerat.
Polri menegaskan proses pemulangan buronan internasional membutuhkan waktu karena harus mematuhi sistem hukum negara tempat subjek berada. Meski demikian, koordinasi dan pendekatan terus dilakukan secara maksimal.