Hujan Tangis Warnai Anggota Paskibraka Usai Bertugas, Ini Penyebabnya
Dalam pengakuannya pembawa baki, Celine Olivia Apriani Theo mengaku menahan tangis sejak usai tugas kerena terharu dan bangga dengan tugasnya sebagai pembawa bendera dengan baki.
Hujan tangis mewarnai anggota Paskibraka Nasional terutama usai melaksanakan tugas upacara HUT Kemerdekaan RI ke-81 pada 17 Agustus 2026 di Istana Merdeka.
Mereka terdiri dari Tim A Indonesia Berdaulat (pasukan pengibar) dan Tim B Indonesia Adil Makmur (pasukan penurunan) bendera.
Bahkan sejak acara usai, pembawa baki, Celine Olivia Apriani Theo, sudah tampak menangis.
Dalam pengakuannya ia mengaku menahan tangis sejak usai tugas kerena terharu dan bangga dengan tugasnya sebagai pembawa bendera dengan baki.
Ada pun tangisan serentak usai mereka berkumpul di sebuah ruangan dan usai pembacaan doa terimakasih.
Akun Instagram @bpipri menulis Selamat atas keberhasilan Tim Indonesia Berdaulat dalam Pengibaran sang Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, 17 Agustus 2026.
Momen “hujan tangis” yang mewarnai anggota Paskibraka setelah atau saat bertugas merupakan fenomena emosional yang hampir selalu terjadi setiap upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus.
Tangisan ini bukanlah tanda kesedihan, melainkan luapan rasa haru, bangga, dan lega yang mendalam setelah mereka sukses memikul tanggung jawab besar mengibarkan sang merah putih.
Para anggota Paskibraka menanggung beban psikologis yang sangat besar untuk tampil sempurna tanpa kesalahan di depan pejabat negara dan masyarakat luas.
Begitu bendera berhasil berkibar atau diturunkan dengan lancar, seluruh ketegangan tersebut langsung runtuh menjadi tangisan lega.
Sebelum hari-H, mereka harus melewati masa karantina dan latihan fisik serta mental yang sangat disiplin di bawah terik matahari maupun hujan.
Tangisan tersebut menjadi simbol kepuasan atas segala keringat dan perjuangan yang terbayar lunas.
Perjuangan senasib sepenanggungan selama masa diklat menumbuhkan rasa persaudaraan yang erat antardisplin anggota, pelatih, dan pembina.
Momen saling berpelukan erat seusai purnatugas sering kali memicu pecahnya tangis haru di lapangan.
Keteguhan mereka menjaga formasi dalam kondisi sulit ini menambah kadar emosional saat tugas berhasil diselesaikan.