Business is booming.

Kabar Duka, Prof Dr JE Sahetapy Meninggal Dunia dalam Usia 89 Tahun

Meskipun kebohongan itu lari secepat kilat, kebenaran itu akan mengalahkannya

Pakar hukum terkenal Prof Dr Jacobus Elfinus Sahetapy (JE Sahetapy) meniggal dunia dalam usia 89 tahun.

Guru Besar Emeritus Ilmu Hukum Universitas Airlangga (Unair) itu meninggal dunia pada Selasa (21/9/2021) pukul 06.57 WIB.

Ia mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Katolik Vincentius A Paulo (RKZ), Surabaya, Jawa Timur.

Kepergian JE Sahetapy dalam usia 89 tahun ini menjadi kehilangan besar bagi dunia ilmu hukum, khususnya pidana, di Indonesia.

Salah satu kutipan JE Sahatapy paling terkenal adalah ketika tampil di ILC TVone.

Ketika itu ia berbicara dalam tema Sidak Denny dan Rapat Tengah Malam akhir Juni 2019.

Sahetapy bicara penuh semangat diantara sejumlah tokoh, antara lain almarhum Arswendo Atmowiloto.

Pembicaraannya kemudian ditutup dengan kata yang layak jadi kutipan dan sertai tepuk tangan.

“… meskipun kebohongan itu lari secepat kilat, satu waktu kebenaran itu akan mengalahkannya…”

Kutipan terkenal piakar hukum Prof Dr JE Sahetapy saat bicara di ILC TVone

Selain dikenal sebagai pakar hokum, pria kelahiran 3 Juni 1932 sempat terjun ke dunia politik dan menjadi anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan pada periode 1999-2004.

Rasa kehilangan atas meninggalnya JE Sahetapy disampaikan Prof Hotman Siahaan. Dalam penilaiannya, JE Sahetapy adalah sosok yang mempunyai tempat istimewa dalam penegakan hukum di Indonesia.

“Beliau memiliki integritas dan punya keberanian untuk mengungkapkan kebenaran,” kata Hotman sebagaimana dikutip dari Tribunnews.

Bahkan, kata Hotman, komitmen JE Sahetapy dalam mengkritisi pelanggaran hukum diabdikan sepanjang hidupnya.

“Sampai purna tugas Beliau masih saja menunjukkan komitmennya terhadap penegakan hukum di Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga:  Biodata Emmy Hafild, Aktivis Lingkungan Wafat karena Kanker

Sebagai informasi, eksistensi JE Sahetapy tidak hanya ditunjukkan dalam bentuk sikap kritis terhadap sejumlah proses penegakan hukum di tanah air.

Profil JE Sahetapy

Prof. Dr. Jacob Elfinus Sahetapy, S.H., M.A. atau yang lebih dikenal dengan nama J.E. Sahetapy lahir 6 Juni 1932.

Kedua orang tuanya berpisah ketika Jacobus masih kecil karena ayahnya suka main judi.

Setelah 12 tahun berpisah, ibunya menikah kembali dengan W.A. Lokollo.

Sahetapy pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Petra (YPTK Petra) antara tahun 1986-2018 yang menaungi Universitas Kristen Petra di Surabaya.

Ia wafat pada bulan september 2021 di Surabaya.

Sahetapy menempuh pendidikan dasarnya di sekolah dasar ibunya sendiri, yaitu Particuliere Saparuasche School.

Dari ibunya, ia belajar banyak tentang nasionalisme dan perjuangan membela rakyat kecil.

Pada usia sekitar 10 tahun, sekolah-sekolah ditutup karena tentara Jepang menyerang Hindia Belanda.

Sahetapy baru bisa menyelesaikan sekolahnya pada 1947 setelah Indonesia merdeka.

Ia melanjutkan pelajarannya di sekolah menengah dengan kurikulum empat tahun.

Namun kembali pendidikannya diganggu oleh gejolak politik setempat yang ditimbulkan oleh diproklamasikannya Republik Maluku Selatan (RMS).

Karena itu, Sahetapy pun memutuskan untuk meninggalkan Maluku dan bergabung dengan kakaknya, A.J. Tuhusula-Sahetapy yang sudah lebih dahulu tinggal di Surabaya.

Di kota itulah ia menamatkan pendidikan SMAnya.

Sekembalinya dari Amerika Serikat, oleh pihak kiri ia dikenai tuduhan sebagai mata-mata Amerika.

Karena itu ia tidak diizinkan mengajar. Setelah PKI tersingkir, ia pun tidak langsung mengajar karena munculnya tuduhan-tuduhan lain.

Namun semua itu tidak membuatnya putus asa, bahkan ia semakin bertekad untuk membela rakyat kecil.

Pada tahun 1979 ia terpilih menjadi dekan Fakultas Hukum di alma maternya.

Baca Juga:  Anies Baswedan Penuhi Panggilan KPK, Netizen Nebak Jadi TSK?

Ia mengambil gelar doktor dan menulis disertasi dengan judul “Ancaman Pidana Mati Terhadap Pembunuhan Berencana”.

Sahetapy tidak hanya mengajar di Fakultas Hukum Universitas Airlangga, tetapi juga di berbagai tempat lainnya seperti di Program Pasca Sarjana Hukum Universitas Indonesia dan Universitas Diponegoro.

Ia juga menjabat sebagai Ketua Dewan Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Petra.

Sahetapy juga sempat mengikuti pendidikan hingga selesai pada 1993 di Institut Alkitab Tiranus, Bandung, Jawa Barat.

Pada tahun 1963, ia ikut mendirikan sebuah universitas swasta di Surabaya, yaitu Universitas Kristen Petra dan menjabat sebagai Rektor Universitas Kristen Petra Surabaya dari tahun 1966-1969.

Selain itu ia juga pernah menjadi seorang birokrat, yaitu sebagai anggota Badan Pemerintahan Harian Provinsi Jawa Timur, dan asisten Gubernur Jawa Timur, Mohammad Noer.

Bersamaan dengan gelombang reformasi di Indonesia, Sahetapy pun ikut terjun ke dalam politik dan menjadi anggota Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P).

Ia menjadi anggota DPR/MPR mewakili partainya.

Selain itu, Sahetapy juga menduduki sejumlah posisi penting, seperti Ketua Komisi Hukum Nasional R.I. (sejak 2000), Ketua Forum Pengkajian HAM dan Demokrasi Indonesia, Surabaya, 1999, Anggota BP MPR RI

Anggota Komisi II (Hukum dan Dalam Negeri) DPR RI, Anggota Panitia Ad Hoc I (Amendemen UUD 1945) MPR RI, Anggota Sub Komisi Bidang Hukum DPR RI dan Anggota Badan Legislatif DPR RI.

Sahetapy menikah dengan seorang gadis dari Jawa yang bernama Lestari Rahayu Lahenda yang juga seorang sarjana hukum dan dosen.

Mereka dikarunia tiga orang anak perempuan, yaitu Elfina Lebrine (lahir 1969), lulusan program S2 dari Fakultas Hukum Universitas Leiden, Belanda

Athilda Henriete (lahir 1971), lulusan S2 Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, Semarang.

Baca Juga:  Penulis Novel Eka Kurniawan Trending, Tapi Karena Kutipannya

Wilma Laura (lahir 1979), lulusan Fak. Sastra Universitas Kristen Petra, Surabaya, dan S2 dari Fak. Hukum Universitas Surabaya.

Mereka juga mempunyai seorang anak angkat, Kezia (lahir 1992), yang saat telah lulus dari S1 Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Petra dan S2 Jurusan Hubungan International Universitas Airlangga, Surabaya.

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...