Ada Cinta di Tengah Krisis Ekonomi yang Tengah Melanda Sri Lanka
“Saya cinta Sri Lanka dan orang-orang Sri Lanka. Semua orang ingin membantu kami
Diatas langit ada langit, demikianlah pepatah baik selalu mengingatkan.
Pepatah itu tampaknya kini sedang berlaku di Sri Lanka.
Negara itu sedang dilanda krisis ekonomi.
Harga-harga serba mahal, BBM, obat-obatan dan makanan langka.
Pendapatan masyarakat anjlok, unjuk rasa merajalela.
Bahkan jam malam diberlakukan mulai Sabtu (2/4/2022) pukul 18.00 Wib hingga pukul 6.00 Wib.

Namun mereka tetap berbaik hati, menampung turis Ukraina bahkan Rusia yang sedang berperang.
Menurut angka resmi, ada sekitar 5,000 orang Ukraina dan 15,000 orang Rusia yang sedang mengunjungi negara pulau tersebut di bulan di mana konflik dimulai.
Disaat matahari mulai terbenam di bawah ombak samudera hindia, turis dari Ukraina Viktoria Makarenko dan putrinya membakar dupa setiap sore hari di sebuah kuil di penginapan pantai Sri Lanka berharap agar mereka bisa pulang ke rumah.
Invasi Rusia ke negara asal Wanita 35 tahun itu di bulan Februari menyebabkan ribuan turis dari kedua negara tersebut terjebak di pulau tropis itu.
Tetapi turis-turis Ukraina berdompet kosong itu pasrah atas nasib dari orang-orang tercinta mereka di rumah, katanya mereka terpukau oleh kebaikan orang-orang Sri Lanka – meskipun mereka sendiri sedang menderita dalam menghadapi krisis keuangan yang memburuk.
“Saya cinta Sri Lanka dan orang-orang Sri Lanka,” kata Viktoria Makarenko ke kantor berita AFP.
“Semua orang ingin membantu kami.”
Dia, Suaminya, dan Putrinya yang berumur 5 tahun telah berkeliling Sri Lanka selama beberapa minggu ketika pasukan Rusia menginvasi Ukraina.
Mereka kehabisan uang tunai dan putus asa akan kesulitan mereka sebelum penduduk setempat di kota penginapan Unawatuna membantu mereka, menawarkan akomodasi gratis, makanan, dan bahkan dupa untuk mereka nyalakan pada kunjungan harian ke kuil.
“Pemilik dari hotel ini memperbolehkan kami untuk tinggal di sini selama yang kami butuhkan. Kami memiliki makanan, air, dan kita tidak pusing memikirkan apa yang harus kita makan besok,” kara Makarenko.
“Kami aman disini dan mereka merawat kami.”
Sepanjang pasir putih di garis pantai selatan Colombo, banyak dari bisnis berorientasi turis mengiklankan bantuan untuk orang-orang Ukraina yang terjebak.
Ahesh Shanaka, manajer kafe Blackgold di Mirissa, mengatakan dia bertanya ke seorang pelanggan asal Ukraina yang meggendong bayi apakah dia akan pulang ke rumahnya apa tidak.
Dia berkata, “Saya tidak bisa pulang ke rumah, rumah saya hancur, ke mana saya bisa pergi?”
Sebuah poster diluar kafe bertuliskan potongan setengah-harga setelah menunjukan paspor Ukraina, dan wisma dekat situ telah memberikan ruangan kosong untuk beberapa backpacker dari negara itu.
Shanaka percaya bahwa kemurahan hati para warga Sri Lanka berasal dari ingatan segar tentang pengalaman konflik di pulau itu sendiri – perang saudara selama beberapa dekade yang berakhir pada 2009.
“Kita pernah mengalami situasi serupa sebelumnya … kita paham penderitaan mereka,” katanya.
Presiden Sri Lanka mengharapkan unity government saat krisis ekonomi memburuk.
Kesulitan Sri Lanka saat ini berdampak buruk bagi bisnis: antrian panjang untuk bahan bakar dan pemadaman listrik mengancam operator dan membawa kebangkitan pariwisata pasca-pandemi yang sedang berkembang ke akhir yang tiba-tiba.
“Kita sedang berada di situasi buruk, kau tahu. Krisis ini, ekonomi kita sedang jatuh, semuanya sedang buruk,” kata Shanaka.
“Tetapi kita adalah manusia, mereka juga manusia, itulah mengapa kita mencoba untuk membantu.”
Angka resmi menunjukkan ada sekitar 15,000 orang Rusia dan 5,000 orang Ukraina yang mengunjungi Sri Lanka di bulan di mana konflik dimulai – masing-masing menjadi sumber pariwisata terbesar pertama dan ketiga di pulau itu.
Sri Lanka telah memberikan bebas perpanjangan visa untuk yang berwarganegara Ukraina dan Rusia.
Banyak juga turis Rusia yang terjebak di negara ini, tidak bisa mengakses keuangan mereka karena sanksi yang diberikan oleh Amerika Serikat dan sekutunya pada jaringan pembayaran internasional.
Tapi tidak ada bantuan untuk mereka yang diiklankan, dan mereka enggan untuk berbicara.
“Kami harus pergi bertemu teman kami,” kata seorang pemuda Russia sebelum dia dan teman-temannya beralih memandangi pemandangan laut di Benteng Belanja bersejarah di Gaelle.
Sentimen publik sangat mendukung Ukraina dalam konflik tersebut.
Slogan-slogan yang mengutuk perang dipulas dengan warna kuning dan biru dari bendera negara itu di dinding-dinding di atas dan di bawah pantai.
“Ada belas kasih yang besar di pihak mereka, mengingat bahwa mereka juga berada dalam keadaan sulit,” Darina Stambuliak, warga Ukraina lainnya yang masa tinggalnya di Unawatuna diperpanjang tanpa disengaja oleh perang.
Wanita 33 tahun itu berkata sebelumnya dia terpaksa untuk meninggalkan Donetsk ketika separatis pro-Rusia mendeklarasikan daerah mereka memisahkan diri pada tahun 2014.
Dia sekarang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan cemas mengikuti berita dari rumahnya.
Tetapi diskon besar untuk akomodasinya telah mengurangi kekhawatirannya.
“Pemilik bisnis telah menyelimuti kami dengan cinta dan dukungan,” katanya.
“Kami sangat berterima kasih.”