Business is booming.

Kompolnas Duga Ferdy Sambo Otak Pembunuhan, Janji Kawal Kasus Hingga Pengadilan

"Kasus ini sungguh menjadi ujian terberat bagi Kapolri, meskipun akhirnya Jenderal Listyo Sigit Prabowo lulus

Kapolri Jenderal Listyo Prabowo memperoleh pujian menyusul penetapan mantan Kadiv Propam Irjen Pol Ferdy Sambo sebagai tersangka kasus tewasnya Brigadir Joshua atau Brigadir J.

Sang ajudan tewas di rumah dinas Ferdy Sambo, Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Semula narasi yang berkembang Brigadir J tewas usai baku tembak dengan sesama ajudan Ferdy Sambo yakni Bharada E.

Ada pun motifnya adalah pelecehan seks yang dilakukan Brigadir J semasa hidup terhadap istri Ferdy Sambo yakni Putri Candrawathi.

Narasi itu sejak awal diragukan publik. Dan terbukti hasil investigasi tim khusus yang dibentuk Jendral Listyo mengungkapkan tak ada narasi itu.

Kapolri bahkan menegaskan bahwa narasi itu hanyalah skenario yang dibuat untuk menutupi fakta sebenarnya.

Fakta sebenarnya Irjen FS alias Ferdy Sambo yang memuntahkan sejumlah tembakan ke tembok menggunakan pistol brigadir J. Rentetan tembakan tersebut seolah terjadi tembak menembak.

Fakta lain, Bharada E yang menembak Brigadir J atas suruhan Irjen FS. Sedang Bharada E sendiri membuat pengakuan bahwa yang menembak Brigadir J adalah Sambo sendiri.

Atas fakta-fakta itu Tim Khusus Polri menetapkan Ferdy Sambo sebagai tersangka dengan ancaman maksimal hukuman mati.

Menurut anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Poengky Indarti, Polri telah bersikap profesional dan mandiri dengan menetapkan Irjen Pol. Ferdy Sambo sebagai tersangka kasus pembunuhan Brigadir J.

Baca Juga:  Selamat Datang November 2021, Ini 30 Kutipan yang Bisa Dibagikan

“Penetapan tersangka dalam kasus ini juga menunjukkan Kapolri tidak segan memproses hukum bawahannya yang berpangkat irjen Pol,” kata Poengky saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.

Poengky menduga, Ferdy Sambo sebagai otak dari kasus penembakan terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J.

“Kompolnas sangat memahami tantangan dan hambatan yang dihadapi tim khusus dalam mengungkap kasus meninggalnya Josua. Ternyata diduga otak dibalik kasus ini adalah seorang jenderal bintang dua yang pada saat kejadian menjabat sebagai Kadiv Propam, yang merupakan polisinya polisi,” katanya.

Terungkapnya kasus ini, kata Poengky, dengan penyidikan secara ilmiah atau scientific crime investigation. Yang pada awalnya pengungkapan kasus sempat terhambat karena diduga ada upaya menghalang-halangi keadilan oleh Ferdy Sambo dan orang-orang yang diperintah olehnya.

Namun, Tim khusus yang dibentuk oleh Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo bekerja secara marathon mengedepankan pembuktian secara ilmiah, sehingga meskipun ada upaya pengaburan, tetapi tetap dapat diungkap dugaan kejahatan para pelaku.

“Apalagi setelah adanya ‘bedhol desa’ berupa mutasi dan pemeriksaan terhadap orang-orang yang diduga terlibat menghalang-halangi keadilan, maka Tim khusus dapat menetapkan tersangka dalam kasus ini,” ujarnya.

Meski telah ditetapkan tersangka dan terungkap fakta bahwa Brigadir J dibunuh, kata Poengky, upaya penegakan hukum terus berjalan hingga proses pengadilan.

“Kompolnas tetap akan mengawal proses penyidikan kasus ini hingga kasus dapat dilimpahkan ke pengadilan,” kata Poengky.

Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, Selasa (9/8) mengumumkan Irjen Pol. Ferdy Sambo sebagai tersangka kasus pembunuhan Birgadir J, bersama ajudan dan asisten rumah tangganya, yakni Bharada E, Bripka RR dan Kuat atau KM (asisten rumah tangga/sopir).

Keempat tersangka dijerat Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP dengan ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup, atau selama-lamanya 20 tahun.

Kapolri Lulus Ujian

Baca Juga:  Deddy Corbuzier Kaget, Raditya Dika Sudah Siapkan Dana Nikahan Anak

Pujian serupa dilontarkan Ketua Setara Institute Hendardi menyebutkan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo telah lulus ujian terberat dengan menetapkan Irjen Pol Ferdy Sambo sebagai tersangka utama tewasnya Brigadir Yoshua Hutabarat atau Brigadir J.

“Kasus ini sungguh menjadi ujian terberat bagi Kapolri, meskipun akhirnya Jenderal Listyo Sigit Prabowo lulus dari ujian tersebut,” kata Hendardi dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, penetapan mantan Kadiv Propam Polri sebagai tersangka pembunuhan Brigadir J oleh Tim Khusus yang dibentuk Kapolri telah membuktikan bahwa diplomasi kejujuran, transparansi dan kinerja berbasis data telah mengantarkan pada kesimpulan dan fakta dengan bukti permulaan yang cukup bahwa telah terjadi pembunuhan atas Brigadir J yang melibatkan FS.

“Pada awalnya Polri sempat terkesan sangat berhati-hati, karena peristiwa tersebut menyangkut perwira tinggi Polri yang juga berprestasi dan adanya suatu upaya menghalangi proses penegakan hukum (obstruction of justice),” katanya.

Belum lagi semburan informasi menyangkut kasus ini yang sangat massif membuat proses penyidikan sempat terhambat.

Hendardi menuturkan, keterlibatan FS dalam peristiwa pembunuhan ini menjadi pembelajaran sangat penting bahwa oleh faktor-faktor tertentu, anggota Polri dan juga penegak hukum lainnya, dapat saja terlibat suatu perbuatan yang melanggar hukum.

“Dalam sebuah korps, ‘naughty cop’ dan ‘clean cop’ akan selalu ada. Tetapi, sebagai sebuah instrumen penegakan hukum, institusi Polri tetap harus menjalankan tugas legal dan konstitusionalnya menegakkan keadilan. Polri harus diawasi dan dikritik tetapi sebagai sebuah mekanisme tentu harus dipercaya,” paparnya seperti dikutip Antara.

Langkah maju Polri dalam penanganan kasus ini, tambah Hendardi, telah memutus berbagai spekulasi dan politisasi yang mengaitkan peristiwa ini dengan banyak hal di luar isu pembunuhan itu sendiri.

Baca Juga:  Penumpang Bus hingga Kereta Wajib Gunakan PeduliLindungi

“Meskipun, motif pembunuhan itu mungkin belum terungkap, tetapi penetapan tersangka atas FS telah memusatkan kepemimpinan penyidikan Polri mengalami kemajuan signifikan dan memutus politisasi oleh banyak pihak yang berpotensi menimbulkan ketidakstabilan politik dan keamanan,” kata Hendardi.

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...