Business is booming.

Peringatan Hari Batik Nasional 2 Oktober, Temanya Merawit Rasa

Simak pameran dengan tema Merawit Rasa akan segera hadir di Museum Tekstil Jalan KS Tubun

Setiap tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik nasional (HBN). Ada pun tema peringatan HBN 2025 adalah Merawit Rasa.

Istilah “merawit” mengacu pada proses membatik yang dilakukan menggunakan canting tembokan.

Canting tembokan berisi malam (lilin) panas untuk menghasilkan garis kecil yang rapat dan tidak terputus di atas kain seringkali dengan pembatas berwarna lebih tua atau gelap.

Dan pameran dengan tema Merawit Rasa akan segera hadir di Museum Tekstil.

Pameran ini akan dibuka secara resmi pada 2 Oktober 2025 bersamaan dengan HBN 2025.

Dan mulai bisa dikunjungi oleh umum pada 3 Oktober 2025. Acara berlangsung hingga 26 Oktober.

Dalam pameram tersebut akan bisa disaksikan keindahan Batik Merawit Cirebon, sebuah warisan budaya yang memadukan kompleksitas, ketekunan, dan filosofi mendalam.

Setiap helainya adalah cerminan ketelitian tingkat tinggi, dilukis dengan canting halus oleh tangan-tangan terampil di 8 desa pengrajin Cirebon.

Acara digelar di Museum Tekstil, Jakarta yang beralamat di Jl. K.S. Tubun No 2-4, Kota Bambu Sel., Kec. Palmerah, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11420.

Sejarah Hari Batik Nasional

Dilansir dari Wikipedia,Hari Batik Nasional adalah hari perayaan nasional Indonesia untuk memperingati ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO.

Pada tanggal ini, beragam lapisan masyarakat dari pejabat pemerintah dan pegawai BUMN hingga pelajar disarankan untuk mengenakan batik.

Batik pertama kali diperkenalkan kepada dunia internasional oleh Presiden Soeharto saat mengikuti konferensi PBB.

Batik Indonesia didaftarkan untuk mendapat status intangible cultural heritage (ICH) melalui kantor UNESCO di Jakarta oleh kantor Menko Kesejahteraan Rakyat mewakili pemerintah dan komunitas batik Indonesia, pada 4 September 2008.

Pengajuan itu pun membuahkan hasil bagi pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.

Pada 9 Januari 2009, pengajuan batik untuk Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi UNESCO diterima secara resmi.

Batik dikukuhkan pada sidang keempat Komite Antar-Pemerintah tentang Warisan Budaya Nonbendawi yang diselenggarakan UNESCO di Abu Dhabi pada 2 Oktober 2009.

Pada sidang tersebut batik resmi terdaftar sebagai Warisan Kemanusiaan Karya Agung Budaya Lisan dan Nonbendawi di UNESCO.

Sebelumnya selain batik, UNESCO juga sudah mengakui keris dan wayang sebagai Warisan Kemanusiaan Karya Agung Budaya Lisan dan Nonbendawi .

Pemerintah Indonesia menerbitkan Kepres No 33 Tahun 2009 yang menetapan hari Batik Nasional juga dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap upaya perlindungan dan pengembangan batikIndonesia.

Malaysia pernah mengklaim batik adalah milik mereka.

Polemik pun muncul akibat klaim Negeri Jiran terhadap batik ini.

Kemiripan kultur budaya antara Indonesia dan Malaysia menjadi salah satu bibit penyebab perseteruan terkait perebutan hak milik. Garis histori yang sama serta kemiripan bahasa menjadi penyebab lainnya.

Baca Juga:  Profil Dokter Helmiyadi Kuswardhana, Ahli Tulang yang Meninggal Dunia Usia 41 Tahun
Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...