Perang Iran Lawan Israel Dibantu AS, Harga Minyak Mentah Langsung Naik
Menurut para ahli, jika perang antara kedua negara meningkat, harga per barel minyak mentah Brent dapat naik lebih jauh, mencapai $80 per barel.
Ketegangan antara Israel lawan Iran memang berpotensi terjadinya perang dunia ketiga.
Namun yang pasti saling serang kedua negara telah menyebabkan harga minyak global mulai naik.
Pada hari Jumat, seperti dilansir news24online.com harga minyak mentah mulai mengalami kenaikan 2%.
Harga minyak mentah Brent naik dari $72,48 per barel, naik $2,45 per barel.
Menurut para ahli, jika perang antara kedua negara meningkat, harga per barel minyak mentah Brent dapat naik lebih jauh, mencapai $80 per barel.
Minyak mentah Brent adalah salah satu patokan (benchmark) harga utama untuk pembelian minyak mentah di seluruh dunia.
Yakni yang mencakup lebih dari dua pertiga perdagangan minyak global.
Diproduksi dari Laut Utara, jenis minyak ini dikategorikan sebagai sweet light crude (ringan dan rendah sulfur), yang ideal untuk disuling menjadi bensin dan solar.
Nah, kemungkinan Iran memblokir Selat Hormuz sebagai tindakan balasan juga tidak dapat dikesampingkan bakal picu kenaikan harga minyak.
Pasokan minyak dari Asia Barat, Iran dan negara-negara lain adalah pemasok utama minyak mentah global.
Sekitar 60–70% minyak India berasal dari negara-negara ini.
Namun, India saat ini telah berhenti mengimpor minyak dari Iran, dan pemasok utamanya termasuk Arab Saudi, yang memasok 13–17%, Irak 24%, dan Uni Emirat Arab.
Tentang Selat Hormuz
Selat Hormuz adalah jalur air melengkung yang terletak di antara Iran di utara dan Oman serta Uni Emirat Arab di selatan.
Lebarnya sekitar 50 km (31 mil) di pintu masuk dan keluarnya dan menyempit menjadi sekitar 33 km (20 mil) di titik tersempitnya.
Selat ini merupakan satu-satunya penghubung maritim antara Teluk Persia dan Laut Arab. Jalur air yang sempit ini merupakan titik rawan maritim yang menghubungkan Teluk Persia di barat dengan Teluk Oman dan Laut Arab di tenggara.
Ini adalah jalur vital yang dilalui oleh sekitar 20–30% dari total minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Osama Rizvi, analis di Primary Vision yang berbasis di AS memprediksi bahwa AS akan menghindari penargetan infrastruktur minyak, namun, dampaknya bisa berupa peningkatan harga Brent sebesar 10%.
“Gangguan di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga yang tajam, berpotensi mendorong harga minyak mentah menuju $150 per barel”