Business is booming.

Pernyataan Sri Mulyani Soal Pemulihan Ekonomi Jadi Trending

Ekonomi Kuartal II 2021 Melesat 7,07 Persen Secara Tahunan

MENTERI Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan ekonomi Indonesia sudah membaik (rebound) dibandingkan tahun lalu yang mengalami kontraksi parah. Dia pun membandingkan Malaysia hingga Singapura yang belum bernasib sama.

Pandemi Covid-19 menampar hampir semua negara di dunia karena ekonomi ikut terpuruk. Indonesia termasuk di dalamnya. Ekonomi RI pada kuartal II 2020 minus 5,32 persen atau menjadi yang terdalam sejak Pemerintahan BJ Habibie.

Kini, perlahan-lahan perekonomian Indonesia mulai bangkit. Ekonomi kuartal II 2021 melesat 7,07 persen secara tahunan (year on year). Namun, tidak semua negara yang sempat terkontraksi ekonominya, mengalami perbaikan (rebound) seperti Indonesia.

“Apakah dengan adanya kontraksi ekonomi menjamin rebound? Ternyata tidak. Lihat Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand. GDP (produk domestik bruto) mereka di kuartal II 2021 belum bisa melewati kondisi sebelum Covid-19,” katanya dalam Pembukaan dan Seminar Nasional Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) 2021 secara daring, Selasa (31/8) seperti dikutip Kumparan.Com.

Sementara Indonesia, menurut Sri Mulyani, sudah berhasil keluar dari jurang resesi pada kuartal II 2021 lalu yang positif 7,07 persen.

Sebelum krisis Covid-19 yaitu pada kuartal II 2019, PDB Indonesia di posisi Rp 2.735 triliun.
Pada kuartal II 2020, kontraksi sehingga PDB Indonesia hanya Rp 2.500 triliun, kini per kuartal II 2021 naik ke posisi Rp 2.773 triliun.

Pernyataan Menkeu Sri Mulyani seperti ini menjadi trending issues di beberapa media. Apalagi Menkeu berbicara dalam konteks pembenahan ekonomi di saat PPKM mulai mengendor.

Di laman Kumparan.Com, Sri Mulyani menempati posisi teratas di daftar trending. Ia mengalahkan berita Taliban mengangkat peti mati untuk mengiringi kepergian tentara Amerika Serikat.

Baca Juga:  Stadion Puskas Arena Penuh Sesak, Padahal Masih Pandemi Covid-19, Diizinkan Sang PM Hungaria?

Ekonomi Adaptif

Sri Mulyani menambahkan bahwa keberhasilan Indonesia saat ini membalikkan keadaan karena APBN bekerja sangat fleksibel.

Alokasi pemulihan kesehatan dan ekonomi nasional yang semua dirancang di kisaran Rp 400 triliun, kini dilebarkan menjadi Rp 774 triliun.

“Ekonomi semester I ini kita sudah melewati fase resesi. Dan ke depannya ditentukan oleh kemampuan kita kendalikan COVID-19. Varian baru bisa berpotensi disrupsi, karena itu seluruh kebijakan harus adaptif dan fleksibel tapi harus ada arahan yang jelas untuk melindungi masyarakat,” ujarnya

Sebelumnya, dalam kesempatan yang sama, Presiden Jokowi juga mewaspadai pertumbuhan ekonomi kuartal III dan kuartal IV 2021 yang akan terdampak akibat kebijakan PPKM yang terus berlanjut. PPKM diberlakukan karena munculnya varian delta yang membuat kasus terus naik pada Juli lalu.

“Pertumbuhan ekonomi kuartal II 2021 capai 7,07 persen, namun harus tetap waspada ekonomi di kuartal III dan kuartal IV 2021 akan alami dampak kebijakan PPKM yang kita lakukan,” kata Jokowi.

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...