Business is booming.

Angka Positif Covid-19 Capai Titik Terendah, Masih Ada Gelombang 3

Angka kematian karena covid-19 bertambah namun masih di bawah 200 orang

Jumlah positif corona mencapai titik terendah selama beberapa bulan ini.

Yakni hanya nambah 1.932 kasus atau mengalami penurunan 302 kasus dibanding kemarin sebanyak 2.234 kasus.

Angka kematian karena covid-19 bertambah namun masih di bawah 200 orang.

Yakni 145 orang meninggal dunia pada Minggu (19/9/2021) pada hari ini Senin (20/9/2021) menjadi 166 orang.

Ada pun angka pasien sembuh mengalami kenaikan dari 6.186 orang menjadi 6.799 orang.

Total pasien sembuh menjadi 3.996.125 orang, sedang kasus positif total 4.192.695 kasus.

Berdasarkan data yang diperoleh, Jawa Tengah menjadi provinsi penyumbang terbanyak kasus positif Covid-19 hari ini dengan 332 kasus.

Kemudian disusul Jawa Timur 142 kasus, Riau 140 kasus, Sumatera Utara 123 kasus, dan Jawa Barat 116 kasus.

Pandemi Belum Berakhir

Indonesia berhasil melewati serangan pandemi Covid-19 gelombang kedua mulai September 2021.

Namun, pandemi corona belum akan berakhir bahkan ada ancaman pandemi Covid-19 gelombang ketiga.

Jumlah kasus Covid-19 di Indonesia mulai berkurang. Namun ancaman pandemi Covid-19 gelombang ketiga bisa terjadi.

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 memperingatkan gelombang ketiga pandemi Covid-19 yang berpotensi terjadi di Indonesia.

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, sejumlah negara tengah menghadapi pandemi Covid-19 gelombang ketiga tersebut.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menjelaskan perkembangan kasus dalam jumpa pers di Kantor Presiden, Jakarta Pusat (Biro Pers Setpres/Kris)

Tiga gelombang pandemi Covid-19 dunia masing-masing terjadi pada Januari 2021 sebagai puncak pertama, April 2021 puncak kedua, dan Agustus-September 2021 sebagai puncak ketiga.

Baca Juga:  Dodi Reza Alex Noerdin Anak Koruptor yang Menjadi Koruptor?

Sementara, RI baru mengalami dua gelombang pandemi Covid-19.

“Kita harus waspada dan tetap disiplin protokol kesehatan agar kita tidak menyusul third wave atau lonjakan ketiga dalam beberapa bulan ke depan,” kata Wiku dalam konferensi pers yang ditayangkan YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (14/9/2021).

Berikut penjelasan dari epidemiolog terkait pandemi Covid-19 gelombang ketiga yang berpotensi terjadi di Indonesia:

Penjelasan epidemiolog soal pandemi Covid-19 gelombang ketiga

Menurut Epidemiolog Universitas Grifftith Australia Dicky Budiman, pandemi Covid-19 gelombang ketiga sangat mungkin terjadi, sebab mayoritas masyarakat Indonesia belum mempunyai imunitas untuk melawan virus atau tingkat vaksinasi yang masih cukup rendah.

“Dalam artian imunitas itu dari vaksin, vaksinasi dosis penuh, apapun vaksinnya. Ini kan 80 persenan (masyarakat) masih rawan karena belum mendapat vaksin,” kata Dicky, saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (18/9/2021).

Tak hanya virus corona varian Delta, tetapi juga varian Alpha maupun varian lain yang dapat membuat kondisi rentan dan mendorong potensi terjadinya pandemi Covid-19 gelombang ketiga.

Dicky menuturkan, adanya varian-varian baru Covid-19 juga sangat rawan memunculkan kembali gelombang ketiga.

“Ini yang harus dipahami dan tidak ada negara yang meskipun vaksinasinya sudah lebih dari 60 persen bisa menghindari gelombang ketiga, sulit,” ujar dia.

Dicky menjelaskan, potensi pandemi Covid-19 gelombang ketiga bersifat dinamis.

“Dulu saya memprediksi Oktober, tapi ini berubah lagi, mundur lagi, jadi Desember. Desemberpun gelombangnya menurun juga, merendah, nggak sebesar seperti prediksi sebelumnya,” tutur dia.

Ia memaparkan, ini disebabkan adanya intervensi yang dilakukan seperti PPKM yang diperpanjang lebih diperkuat.

“Prediksi-prediksi ini tidak statis, dinamis banget. Artinya semakin kita konsisten, semakin disiplin dalam memberikan intervensi, termasuk capaian vaksinasi, ini akan membuat potensi (gelombang ketiga) itu semakin jauh atau mengecil tapi tetap ada, jauh mengecil,” tambah dia.

Baca Juga:  Rekor, Angka Positif Covid-19 Hanya Nambah 460 Kasus

Sementara saat ini, Dicky mengatakan, dalam prediksi terakhir sesuai dengan perkembangan situasi terkini, pandemi Covid-19 gelombang ketiga mundur ke Desember.

Covid-19 gelombang ketiga Tak sebesar gelombang kedua

Dicky menilai, jika terjadi pandemi Covid-19 gelombang ketiga, diharapkan tidak akan sebesar gelombang sebelumnya.

“Kecuali kalau ada varian yang jauh lebih hebat atau setidaknya seperti varian Delta, itu bisa sama (gelombang infeksinya),” tutur dia.

Terkait antisipasi pandemi Covid-19 gelombang ketiga, lanjut Dicky, dapat dilakukan dengan memperketat pintu-pintu masuk di Indonesia.

Selain itu juga dilakukan karantina yang memadai, setidaknya selama 7 hari bagi pendatang yang telah divaksinasi secara penuh dan PCR negatif.

Sedangkan dilakukan karantina selama 14 hari bagi pendatang yang belum divaksinasi dengan PCR negatif.

Sementara antisipasi di dalam negeri dapat dilakukan dengan 3T (testing, tracing, tracking, menerapkan protokol kesehatan (5M), percepatan vaksinasi, dan pembatasan kegiatan masyarakat.

“PPKM berlevel tetap dilakukan. Harapannya PPKM yang diterapkan level 1 dan level 2. Artinya semua berupaya agar level pandemi kita terkendali atau membaik. (Tentunya) dengan peran semua pihak,” papar Dicky.

Dicky menyampaikan, meskipun positivity rate rendah, tapi testing, tracing, dan tracking yang dilakukan rendah. Hal ini menjadi satu hal yang perlu diwaspadai.

“Karena berarti kemampuan kita mendeteksi kasus-kasus di masyarakat menjadi tinggi. Sudah dicapai (nilai standar) dari WHO, itu tidak dijamin,” kata dia.

Kecukupan testing, jelas Dicky, mengikuti ekskalasi pandemi.

“Misalnya ada terkonfirmasi 1.000 kasus positif, harus ada tracing minimal 1.000 x 15 (orang), itu minimal. Karea WHO juga menyarankan (tracing ke) 30 orang. Nah ini harus dilakukan,” ujarnya.

Dicky menegaskan, seharusnya juga dilakukan penelusuran lebih lanjut dalam bentuk tracking, seperti kontak kasus level 2 atau level 3.

Baca Juga:  Hore, Jawa-Bali Bebas PPKM Level 4, Bioskop Boleh Buka Lagi

“Saat ini belum (dilakukan), dan menempatkan posisi Indonesia sangat rawan terjadi (gelombang ketiga),” jelas dia.

Pengawasan orang yang telah divaksin

Dicky menambahkan, untuk mencegah varian baru harus ditingkatkan pengawasan terhadap genom-genom virus. Hal ini sangat penting untuk mendeteksi keberadaan varian baru dan potensi, tren, atau progres penyebaran dari jenis virus baru.

Adapun kasus-kasus orang yang telah divaksinasi tapi terpapar virus juga harus menjadi perhatian, dengan dilakukan pemeriksaan genom. Dicky menegaskan, adanya peningkatan status yang lebih baik tidak dapat dijadikan dasar untuk melakukan apapun.

“Pandemi masih belum selesai, ini yang harus disadari masyarakat,” papar dia.

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...