Business is booming.

Menteri Sofyan Djalil Lindungi Atau Bikin Takut Mafia Tanah

“Revolusi Mental itu mencopot Sofyan Jalil akibat melindungi mafia tanah”

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN RI Sofyan Djalil boleh jadi merupakan salah satu Menteri dikabinet Jokowi-Maruf paling berpengalaman.

Ia telah menjadi menteri sejak era SBY-Jusuf Kalla sebagai Menteri Komunikasi dan Informasi publik dan Menteri Negara BUMN.

Saat presiden Jokowi jadi Presiden Sofyan Djalil kembali dipanggil menjadi menteri.

Masing-masing Menteri Koordinator Bidang Perekonomian(2014-2015), Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas (2015-2016) dan kini Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN RI

Nah dalam posisi terakhirnya, desakan agar Jokowi mencopot Sofyan Djali mencuat.

Desakan itu justru muncul dari kalangan PDIP dimana Presiden Jokowi berasal.

Kali ini disampaikan mantan Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden Bambang Beathor Suryadi.

Dalam keterangan persnya, Bambang Beathor menyebut bahwa Sofyan Djalil terindikasi bagian dari mafia tanah.

Bahkan, Bambang memberi judul pers rilisnya “Revolusi Mental itu mencopot Sofyan Jalil akibat melindungi mafia tanah”.

“Sudah 7 tahun Sofyan Jalil jadi Menteri di Kabinet Jokowi dan selalu membangkang atas pidato Presiden tentang mafia tanah di kementerian BPN itu,” kata Bambang, Sabtu (23/10/2021).

Bambang mengatakan, Sofyan Djalil tidak melakukan terobosan apapun untuk mengatasi mafia tanah.

Bambang lebih lanjut mengungkapkan bahwa sejumlah hal yang menurutnya indikasi Sofyan Djalil bagian dari mafia tanah.

Dia menyebut, Sofyan tidak melaksanakan Putusan PK No 121 Mahkamah Agung tentang keterbukaan Informasi Lahan Tanah.

Kemudian Sofyan juga disebut tidak melaksanakan program GeoSpasial untuk Peta Satu Data, atas basis titik Koordinat yang seharusnya tercantum pada surat surat tanah.

Baca Juga:  Juventus Petik Kemenangan Pertama, Allegri Tak Lagi Marah

Menurut Bambang, Sofyan tidak memaksimalkan struktur kementerian ATR BPN. “Sehingga banyak timbul kasus konflik ukur lahan, kehilangan warkah, floting salah lahan,” paparnya.

Bambang mengatakan, Presiden Joko Widodo dalam pidatonya pernah menyebut ada kasus pertanahan yang hingga 40 tahun belum selesai.

Padahal, menurut Bambang, seharusnya konflik lahan bisa diselesaikan dalam waktu tiga tahun.

Sofyan juga dikatakan tidak berani adu data dengan warga yang lahannya sedang dipersengketakan.

“Gelar perkara kasus konflik itu menyebabkan aparat BPN anti rakyat kecil,” ungkapnya seperti dikutip Kompas TV.

Adapun diketahui, Bambang Beathor Suryadi pernah menjabat sebagai anggota DPR dari fraksi PDIP.

Dia juga dikenal sebagai aktivis jaringan Pro Demokrasi (Prodem).

Dia saat ini merupakan anggota Dewan Penasihat Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) yang merupakan organisasi sayap PDIP.

Sebelumnya desakan agar Sofyan Djalil mundur sebagai Menteri ATR/Kepala BPN disampaikan politikus PDIP yang merupakan Wakil Ketua Komisi II DPR Junimart Girsang.

Dia menjelaskan, alasan dirinya meminta Sofyan mundur adalah karena tak kunjung selesainya persoalan perebutan tanah antara pengusaha dan warga di Indonesia.

Menurutnya, pemberian Hak Guna Usaha (HGU) serta Hak Guna Bangunan (HGB) kepada konglomerat oleh Kementerian ATR BPN kerap kali mengesampingkan hak hukum atas tanah masyarakat.

“Sebagai sosok pemimpin dan akademisi yang mumpuni sebaiknya mengundurkan diri dari kabinet Presiden Jokowi,” paparnya Kamis (21/10/2021).

Fakta Berbeda: Mafia Tanah Sofyan Djalil

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian ATR /BPN Taufiqulhadi menyampaikan bahwa ada gerakan pro mafia tanah yang mencoba mengganggu Sofyan Djalil.

Dia menyebut para mafia tanah kalang kabut karena Sofyan Djalil telah membentuk Satgas Anti Mafia Tanah.

“Para mafia menjadi kalang kabut. Mereka mengerahkan segela kekuatan untuk menyerang balik Sofyan Djalil. Bahkan ada yang meminta mundur,” kata Staf Khusus dan Jubir Kementerian ATR/ BPN Teuku Taufiqulhadi dalam pesan elektronik yang diterima KompasTV, Kamis (21/10/2021).

Baca Juga:  Satu Lagi Notaris Kasus Mafia Tanah Nirina Zubir Tertangkap

Taufiqulhadi menyebut Sofyan Djalil membuat kemajuan sangat besar selama kepemimpinannya di Kementerian ATR/BPN.

Menurutnya kemajuan paling utama dan penting adalah upaya Sofyan Djalil mengejar para mafia tanah.

Di dalam kepemimpinannya, Sofyan membentuk Satgas Antimafia Tanah.

“Ia membentuk Satgas Antimafia Tanah untuk pertama kali dalam sejarah kementerian ini. Dan ia bersumpah negara tidak boleh kalah dengan para mafia tanah,” paparnya.

Taufiqulhadi menyebut, dengan langkah Sofyan Djalil tersebut, kini publik menjadi tahu sepak terjang para mafia tanah.

Hal ini membuat kalang kabut para mafia.

“Tangan-tangan pro mafia pun kini bergerak dengan kekuatan penuh dan mempersoalkan hal-hal yang tidak relevan dengan wewenang ATR/BPN atau menggugat sesuatu yang telah baik di ATR/BPN,” pungkasnya.

Pengalaman Kerja Sofyan Djalil

Menteri Negara BUMN Republik Indonesia(2007-2009)
Menteri Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia (2004-2007)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian(2014-2015)
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas (2015-2016)
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN RI
Kepala Bidang Telaah Strategis Kantor Wakil Presiden Republik Indonesia(2010-2014)
Managing Partner, Sofyan Djalil & Partners
Komisaris Utama, PT Multi Adiprakarsa Manunggal (Kartuku)
Komisaris Independen, PT Kimia Farma, Tbk (Mei 2003-sekarang)
Pengurus, Lembaga Komisaris dan Direktur Indonesia, LKDI (2003-sekarang)
Anggota, Badan Arbitrasi Pasar Modal Indonesia, BAPMI (2003-sekarang)
Anggota Tim Ahli, Komite Nasional Good Corporate Governance (2001-sekarang)
Anggota Tim Pakar, Departemen Kehakiman dan HAM RI (2001-sekarang)
Konsultan Good Corporate Governance untuk PT Perusahaan Gas Negara Tbk, PT Elnusa, PT Jamsostek, PT Waskita Karya, PT Surveyor Indonesia, PT Pupuk Kujang, PT Wijaya Karya, PT Pembangkitan Jawa Bali, PT Pelabuhan Indonesia III, Perum Pegadaian, PT Indonesia Power, PT Pupuk Sriwijaya, PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (2001-2004)
Konsultan Corporate Communication, untuk PT Caltex Pacific Indonesia, PT PLN Kantor Pusat (200-2004)
Direktur Eksekutif, Lembaga Komisaris dan Direksi Indonesia (2001-2003)
Komisaris Utama, PT Pupuk Iskandar Muda (1999-Juli 2004)
Komisaris, PT Perusahaan Listrik Negara (1999-Mei 2002)
Komisaris, PT Pelabuhan Indonesia III (1998-Mei 2001)
Anggota, Komite Nasional Kebijakan Good Corporate Governance (1999-2000)
Staf Ahli Menteri Negara Pendayagunaan BUMN bidang Komunikasi dan Pengembangan SDM/Asisten Kepala Badan Pembina BUMN Bidang Komunikasi dan Pengembangan SDM (Juni 1998-Februari 2000)
Kepala Divisi Riset dan Pengembangan, PT Bursa Efek Jakarta (Maret 1998-Juni 19988)
Konsultan, pada Asosiasi Modal Ventura Indonesia (AMVI); Brunei Investment Agency (BIA); Tabungan Wajib Perumahan TNI-AD (TWP-AD), dan lain-lain (1997)
Konsultan/Narasumber persiapan go public pada berbagai perusahaan PT Garuda Indonesia, PT Telkom, Pasaraya, Pupuk Kaltim, Bank Tata, SZS Consulting, Bank Jaya, dan lain-lain (1997)
Peneliti/Konsultan, Centre for Policy and Implementation Studies (CPIS)-Departemen Keuangan, menangani berbagai proyek antara lain Kupedes/Simpedes untuk BRI, Program Restrukturisasi BUMN, Perdagangan Internasional dan Kerjasama Regional, dan lain-lain (1997)
Tim mediasi perundingan pemerintah RI dan GAM di Helsinki, Finlandia, (2004-2005)

Baca Juga:  Indonesia vs Malaysia di Sudirman Cup Malam Ini, Netizen Bakal Gaduh?
Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...