Business is booming.

Luhut Klarifikasi Soal Pengadaan PCR, Hastag Pecat Luhut Tetap Beredar

“Kita tunggu gerak KPK dan Polri (usut Kasus Pejabat Bisnis tes PCR)"

Luhut B Pandjatitan, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) akhirnya klarifikasi keterlibatannya dalam pengadaan PCR.

Luhut mengakui bahwa dirinya memiliki saham di PT Genomik Solidaritas Indonesia (PT GSI).

Meski demikian ia tak mencari untung, bahkan hingga saat ini tidak ada pembagian keuntungan baik dalam bentuk dividen maupun lainnya kepada pemegang saham PT GSI.

Luhut mengklaim keuntungan PT GSI justru banyak digunakan untuk memberikan tes swab gratis ke masyarakat yang kurang mampu dan tenaga medis, salah satunya di RSDC Wisma Atlet.

Meski demikian hastag #PecatLuhut yang sempat rending terus bergulir.

Kali ini netizen menunggu polisi dan KPK mengusut dugaan kasus korupsi dalam pengadaan PCR.

“Kita tunggu gerak KPK dan Polri.” Demikian akun @WiwinIrawan89 #PecatLuhut

@syahfa: Waduh #PecatLuhut ini yg lagi rame di negeri mimpi

@SuhartoTony: Kaum Mafia dibantu pejabat, memeras keringat Rakyat dibalik Pandemi..
#NegeriRuwet

Sebelumnya, Partai Rakyat Adil Makmur (Prima) berencana akan melaporkan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan keterlibatan dalam bisnis tes PCR, Kamis (4/11), siang ini.

Wakil Ketua Umum Prima Alif Kamal mengatakan pelaporan ini sejalan dengan program prioritas partainya yang mendorong adanya pemerintahan yang bersih dan anti-oligarki.

Pihaknya juga menolak secara tegas penyalahgunaan kekuasaan oleh para pejabat negara demi menguntungkan kepentingan pribadi maupun bisnis yang mereka punya.

Terlebih, tindakan penyalahgunaan wewenang tersebut dilakukan para pejabat publik saat masyarakat sedang menghadapi situasi yang sulit di tengah pandemi Covid-19.

Sementara itu Luhut Binsar Pandjaitan membantah dirinya mengambil keuntungan pribadi dari bisnis tes polymerase chain reaction (PCR) yang dijalankan PT Genomik Solidaritas Indonesia (PT GSI).

Baca Juga:  Covid-19 Per 18 Oktober 2021, Kematian Nambah, Kasus Positif Turun

Luhut bahkan mengaku menjadi orang yang mendorong penggunaan tes antigen sebagai syarat dokumen perjalanan untuk menggantikan PCR.

“Pun ketika kasus menurun awal September lalu, saya juga yang meminta agar penggunaan antigen dapat diterapkan di berbagai moda transportasi yang sebelumnya menggunakan PCR sebagai syarat utama,” kata Luhut melalui unggahan akun Instagram resminya, @luhut.pandjaitan, Rabu (3/11/2021).

Luhut mengatakan, diberlakukannya PCR sebagai syarat perjalanan beberapa waktu lalu karena pemerintah melihat adanya peningkatan risiko penularan virus corona akibat melonjaknya mobilitas masyarakat di Jawa-Bali.

Hal itu disertai dengan penurunan disiplin warga terhadap protokol kesehatan.

Namun demikian, Luhut mengeklaim, dirinya selalu mendorong diturunkannya harga tes PCR.

“Saya juga selalu mendorong agar harga tes PCR bisa diturunkan sehingga terus dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya lagi seperti dikutip Kompas.com.

Luhut mengatakan, sejak awal tujuan PT GSI bukan mencari profit bagi pemegang saham.

Namun, sebagai kewirausahaan sosial, PT GSI tidak bisa sepenuhnya memberikan tes PCR secara gratis.

Partisipasi Luhut dalam PT GSI melalui perusahaan yang terafiliasi dengan dirinya, PT Toba Bumi Energi, diklaim sebagai wujud bantuan yang diinisiasi oleh rekan-rekannya dari Grup Indika, Adaro, Northstar dan lainnya.

Mereka sepakat membantu penyediaan fasilitas tes Covid-19 dengan kapasitas besar. Bantuan melalui perusahaan tersebut, kata Luhut, merupakan upaya keterbukaan yang dilakukan sejak awal.

“Kenapa saya tidak menggunakan nama yayasan? Karena memang bantuan yang tersedia berada dari perusahaan. Dan memang tidak ada yang saya sembunyikan di situ,” ucapnya.

Luhut menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada pembagian keuntungan baik dalam bentuk dividen maupun lainnya kepada pemegang saham PT GSI.

Menurut dia, keuntungan PT GSI justru banya

Baca Juga:  Puan Maharani Trending, Sejumlah Netizen Menduga Kerjaan Buzzer
Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...