Business is booming.

GP Ansor Dukung Penahanan Ferdinand dan Sarankan Beri Bimbingan Islam

Penetapan Tersangka Ferdinand menunjukkan penegakan hukum tak pandang bulu.

Mantan politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menjadi tersangka atas cuitan Allahmu ternyata lemah.

Selain itu ia ditahan karena ancaman hukuman dikenakan atas perbuatannya di atas 5 tahun penjara.

Ia dijerat pasal 14 ayat 1 dan 2 KUHP Undang-Undang No 1 tahun 1946, kemudian Pasal 45 ayat 2 juncto Pasal 28 ayat 2 ancaman 10 tahun seluruhnya

Selain tagar tangkap Ferdinand setelah ditahan muncul tagar bebaskan Ferdinand dtau #BebaskanFerdinand

Hal itu menandakan bahwa kasusnya memperoleh dua dukungan berbeda di media sosial.

Sementara itu Ketua GP Ansor, Luqman Hakim mengapresiasi dan mendukung penuh atas penahanan dan penetapan tersangka Ferdinand Hutahaean.

“Polri itu bisa memenuhi rasa keadilan sehingga mencegah meluasnya potensi kegaduhan di masyarakat,” kata Ketua GP Ansor Luqman Hakim.

“Langkah cepat dan tegas polisi ini saya harapkan dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat sehingga dapat dicegah potensi meluasnya kegaduhan publik yang dapat mengganggu ketentraman masyarakat,” tambahnya seperti di kutip dari web Humas Polri
Luqman meminta masyarakat mempercayakan penanganan kasus tersebut kepada pihak kepolisian dan menjunjung asas praduga tak bersalah.

Luqman juga mendukung Polri agar bertindak profesional dan transparan dalam menangani kasus tersebut.

“Selama proses hukum berjalan, secara khusus saya minta polisi memberi kesempatan kepada Ferdinand Hutahaean, yang merupakan seorang mualaf, untuk mendapat bimbingan agama Islam supaya yang bersangkutan dapat semakin mendalami dan melaksanakan ajaran dan syariat Islam,” ucapnya.

Sementara itu dukungan serupa juga dilontarkan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Sunanto atau Cak Nanto.

Baca Juga:  Pencurian 100 Ton Besi di Proyek Kereta Cepat Janggal, Potensi Korupsi?

Dirinya mengapresiasi sikap kepolisian dalam penanganan kasus cuitan ‘Allahmu lemah’ Ferdinand Hutahaean.

“Kami mengapresiasi. Hukum harus berlaku seadil-adilnya kepada siapa pun. Pertama, bahwa polisi kan tidak pernah memandang kelompok tertentu untuk melakukan penanganan (perkara), kalau sudah ada bukti, maka semuanya harus ditindak,” kata Cak Nanto.

Cak Nanto menuturkan penegakan hukum oleh kepolisian menjawab harapan masyarakat tentang keadilan.

“Maka proses keadilan yang diharapkan, yang menjadi harapan tiap orang, itu yang akan ditunjukkan oleh Polri dengan kondisi penanganan kasus yang berkaitan dengan Ferdinand ini,” sambung dia.

Cak Nanto kemudian menyebut banyak asumsi penegakan hukum berpihak. Namun dia melihat ketegasan polisi yang mengambil keputusan berdasarkan alat bukti telah menepis asumsi miring tersebut.

“Yang diasumsikan banyak orang bahwa penegakan hukum berpihak. Itu tidak terjadi di kasus yang saat ini. Asumsi itu sudah ditepis karena saat sudah ada alat bukti yang diyakini oleh penyidik. Maka semuanya ditindak sesuai prosedur hukumnya,” ujar Cak Nanto.

Cak Nanto juga menilai penetapan tersangka dan penahanan Ferdinand Hutahaean menunjukkan penegakan hukum tak pandang bulu.

“Dengan bukti bahwa semua orang bisa ditahan, ditindak, seharusnya dilihat sebagai bahwa pandangan-pandangan atau asumsi-asumsi kan tidak benar. Itu yang harus dibuktikan pihak kepolisian ke depan bahwa tindakan hukum tidak pandang bulu,” ujarnya.

“Saya merasa bahwa (proses hukum terhadap Ferdinand Hutahaean) ini sangat luar biasa, bahwa ada harapan penegak hukum bekerja sebagaimana mestinya dan tidak terintervensi oleh persepsi-persepsi, tapi berdasarkan fakta hukum yang ditemukannya dan itu dilakukan dengan tegas kepada siapa pun,” pungkas Cak Nanto.

Profil Ferdinand Hutahaean

Ferdinand Hutahaean atau biasa disapa Ferdinand lahir pada 18 September 1977 di Sumatera Utara.

Baca Juga:  Anya Trending, Terungkap Jefry Dibantu Papan Agar Sejajar di Video Noah

Ia menikah dan dikaruniai tiga orang anak.

Ferdinand sempat menjabat sebagai Kepala Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat periode 2015-2020.

Pada tahun 2019, ia mencalonkan diri sebagai anggota DPR dari Partai Demokrat dapil Jawa Barat V (Kab.Bogor), namun gagal.

Meski dikenal vokal di sosial media, tetapi ia mengaku selalu menjaga privasinya, terutama keluarganya.

Pria yang sebelumnya beragama Kristen Protestan, dan kini mengaku mualaf ini memiliki motivasi yang cukup besar di politik.

Ia ingin mengawal perjalanan pemerintahan dan bisa mengabdikan diri membela hak-hak rakyat di DPR.

Selain karena cuitan di twitter, namanya kini semakin terkenal setelah menjadi juru bicara pasangan capres-cawapres Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019.

Baca Juga: Dylan O’Brein Trending, Tampil Bagus dalam Film Pendek All To Well
Beberapa kali berdebat di layar kaca membetot perhatian penonton.

Suaranya yang keras dan lantang membuat nyali lawannya ciut.

Kini Ferdinand bukan lagi politisi Partai Demokrat.
Ia cenderung masuk barisan pembela Jokowi-Maruf atau pemerintah.

Lawan yang sering dihadapinya kini kum radikalisme.

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...