Business is booming.

Hastag Kompolnas Trending, Nitizen Cecar Benny Mamoto Tutupi Kasus Besar

Hastag Kompolnas trending di media sosial Twitter pada Senin (8/8/2022), menyusul netizen mencecar Benny Mamoto karena ketidaktegasannya menyampaikan kasus polisi tembak polisi yang menyeret Brigadir J ke liang kubur.

Sekretaris Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Irjen Pol (Purn) Benny Mamoto dinilai netizen hanya mengikuti skenario yang dibuat polisi atas kasus Brigadir J tanpa melakukan cek and ricek.

Tak heran netizen menyampaikan 4.532 ciutan (Tweets) perihal keberadaan Kompolnas. Berikut ciutan mereka;

Seperti akun Twitter @AnasisFeri menulis, “Dimata publik dari awal bpk ini memang terkesan mengikuti skenario yg dibuat utk menutupi kasus besar ini dlm posisi sebagai kompolnas,dan hal ini memungkinkan apa yg dilakukan bagian dari obstaraction of justice..layak u diperiksa dan diminta pertanggung jawaban!”

Lalu akun Twitter @just_ima913 menulis, “kompolnas koq malah menyuarakan apa yg disuguhkan polisi.. Gawe atuh euy.. Cek and ricek.. Ulah dihuapan ku polisi.. Kudu na lamun ceuk polisi kieu.. Teangan heula kebenaran nana.. Karak we infokeun ka masarakat mun geus clear, verified..”

@OposisiCerdas menulis, “Terkesan Salahkan Brigadir J dan Lindungi Irjen Ferdy Sambo, Warganet Minta Jokowi Pecat Benny Mamoto dari Kompolnas”

@fakhry_ridha menulis, “Sy mendengar langsung Benny Mamoto ini membenarkan penjelasan dan keterangan Kapolres Jaksel. Dasar ex polisi bermuka palsu, bagusnya pk Presiden Jokowi PECAT SAJA dia ini….”

@ZAINAL64638613 menulis, “Masih berharap gerbong sambo bisa selamat…lumayan lan dapat cipratan duit HA dr Rambo”

@conan_idn menulis, “Pecaaat ini orang pak
@jokowi @mohmahfudmd. Pernyataannya parah kacau.”

@nila_hertik menulis, “PERLU DI SILIKIDI HUBUNGAN BENNY DAN SAMBO. PERNAH HUTANG JASAKAH???”

@Ladysugar_ menulis, “Dari awal merebak kasus pak tua ini memang proo nyaa ke jendral, cenderung menyalahkan korban kalau ada debat juga bisa dilihat dia seperti meremehkan pengacara korban, dia komnas HAM samaa aja gada yang berpihak sama korban kecuali netizen,pengacara,presiden selebihnya gitula”

@haris_nov menulis, “Udah kebacalah keadilan di negri Wakanda, Korban disalahkan. Tersangka dilepaskan..
Dah gak aneh…”

@Andyzulfikar10 menulis, “Soalnya kalau Ferdy Sambo di jerat maka habislah semua pimpinan polri kena kasus…betul apa betul?”

@logika_okta menulis, “Seingat sya, IJP (Purn) Benny selalu menyebut sumber informasi yang dia sampaikan. Dan sbagai Ketua Harian Kompolnas memang tugasnya untuk sampaikan smua update harian versi Kompolnas. Tp buat yg ga suka, gda gunanya juga dijelaskan kan?”

@Joen_Sihotang menulis, “Tunggu apalagi percuma jenderal purnawirawan kalau tidak realistis…. Membodoh2i rakyat…
Seandainya tidak benar Kan bisa dipertegas. Dia nanya lo.. ini sudah disertai bukti gak?.. Ada semua kan? Lengkap ?
Tolong diperiksa juga beliau ini? Kenapa tidak menjelaskan scr ilmiah”

@sebutsajaabay menulis, “Bubarkan kompolnas dan komnas ham”

@Juliakhuraira menulis, “Nah…kalau ini saya setuju..karena di awal2 sudah mengeluarkan statements yg keliru.. mendingan mundur aja pak..akui kekeliruan anda, dari pada dipecat.”

@indrastig menulis, “Gua butuh orang yang bisa jadi penengah ga berat sebelah, polisi sekolahnya apaan aja emang materinya? Jendral kok gitu”

@khaer976 menulis, “Iya kompolnas sepertinya masuk ke dalam kelompok 25polisi yg di periksa”

@ALarenk menulis, “Knp satu orang semuanya aj pecat, knp jadi carut marut gini ya, pasti berakar nih, banyak jenderal jenderal yg terlibat, jdi ada yg dikorbanin,”

@avanbaadilla17 menulis, “orang ini dari awal menjadi pembohong besar”

@GiriPraptono menulis, “Kenapa terkesan membela..? Karena tidak ada makan siang yang GRATIS”

@yusrintosepu menulis, “harusnya sebagai kompolnas harus telisik informasi lbh dalam untuk mengetahui kejadian yg sebenarnya. bukan percaya bgitu saja informasi yg disampaikan oleh para oknum yg lindungi ferdy sambo.”

@ghanifoz menulis, “Sy setuju kompolnas dibubarkan krn tdk ada manfaatnya dn menghamburkan uang negara…”

@RomziTrilaksana menulis, “Mamoto itu mantan jenderal polri, pasti dia membela koleganya toh !!!”

@dickylee74 menulis, “Ketika banyak oknum2 Polisi yg bermasalah dimana implementasi tugas pokok Kompolnas, khususnya oknum2 Polisi yg terlibat di skandal narkoba. Giliran kasus Brigadir Y lantang menyikapi.”

@RahardjoDanar menulis, “Sangat logis mamoto membela korp polisi…sebagai almamaternya….kejujurannya sangat diragukan dan tidak profesional…”

@coganregol menulis, “Kompolnas tugas ya mengawasi kepolisian dari luar eeehhh ini malah mendukung kasus yg kusut, aduh pening kepala”

@AbdiLla90306141 menulis, “Pacat aja, nggak pantas kompolnas berpihak dan melindungi pelaku kejahatan”

@sanjjana22 menulis, “Di pecat ganti yg lain yg lebih baik. Kalo ngomong tidak netral padahal pengalaman sudah banyak.”

@NurulAkhyar7 menulis, “Harusnya Bapak ini melihat masalah Secara jernih dan profisional, Jangan karna Bapak Pur Polisi lantas terkesan mengaburkan fakta yang ada.”

Kompolnas pastikan Polri ungkap kasus Brigadir J sesuai prosedur

Sekretaris Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Benny Mamoto memastikan Polri sudah sesuai prosedur dan transparan dalam mengungkap kasus baku tembak antaranggota yang menewaskan Brigadir J di rumah Kadiv Propam nonaktif Irjen Pol. Ferdy Sambo.

Baca Juga:  Mayjen TNI Kunto Arief Wibowo: Pemimpin Jangan Jatuhkan Moril Anak Buah

“Saya menyaksikan sendiri bagaimana keterbukaan itu dilakukan Polri,” kata Benny dikutip Antaranews.com saat ditemui usai Gelar Perkara Laporan Dugaan Pembunuhan Berencana Brigadir J di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu malam.

Menurut Benny, gelar perkara awal yang dihadiri Kompolnas dan pihak keluarga melalui kuasa hukumnya adalah bentuk transparansi dan objektivitas Polri dalam mengungkap kasus tersebut.

“Saya melihat dengan langkah seperti tadi, itulah bentuk transparansi yang dilakukan Polri. Mengundang eksternal, mengundang lawyer (pengacara), dan lawyer diberi kesempatan untuk menyampaikan semua keluh kesah, temuan, dan masalah, serta kemudian ini dijadikan bahan untuk pendalaman, dan menjadi bahan evaluasi,” ujar Benny.

Hasil gelar perkara awal, kata Benny, semua pihak yang hadir menyepakati untuk dilakukan ekshumasi atau autopsi ulang demi keadilan sesuai keinginan pihak keluarga yang disampaikan tim kuasa hukum.

Menurut Benny, pertimbangan pihak keluarga meminta Polri melakukan autopsi ulang untuk kepastian hukum dan menjawab kecurigaan-kecurigaan keluarga atas luka-luka di tubuh Brigadir J.

“Kalau kami lihat sejak keluarga menerima peti mati dan tidak boleh dibuka, keluarga curiga, kemudian ketika mau menambah formalin dibuka (peti) ditemukan luka tambah curiga, maka mereka berharap ada kepastian,” ungkap purnawirawan Polri itu.

Gelar perkara awal itu, lanjut Benny, tidak disampaikan hasil autopsi awal yang sudah dilakukan kedokteran forensik kepada keluarga sehingga pihak keluarga mengajukan autopsi ulang dengan melibatkan pihak independen.

Pihak independen yang bakal dilibatkan, seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Kompolnas, serta sejumlah rumah sakit, seperti Rumah Sakit Polri, RSCM, dan asosiasi dokter forensik. Belum diketahui pasti jadwal pelaksanaan ekshumasi.

Kompolnas dilibatkan dalam tim khusus yang dibentuk Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo dalam mengungkap kasus baku tembak antaranggota di rumah Kadiv Propam nonaktif Irjen Pol. Ferdy Sambo di Duren Tiga, Jakarta Selatan, pada Jumat (8/7).

Baca Juga:  Jelang Final Thomas Cup, Netizen Bayangkan Bendera PBSI Berkibar

Ia mengatakan Kompolnas telah turun untuk mengawasi semua aspek, kinerja, dan SOP yang dijalani penyidik Polri dalam mengungkap kasus baku tembak antaranggota yang menewaskan Brigadir J.

Kompolnas sudah mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) di rumah Irjen Pol. Ferdy Sambo di Duren Tiga, Jakarta Selatan, kemudian mengunjungi keluarga Brigadir J di Jambi. Termasuk hasil autopsi penyebab kematian akibat tembakan di kepala dan di dada.

“Datang ke TKP untuk kami melihat suasananya seperti apa, posisinya di mana, di TKP kan masih ada alat peraga, posisi ini di mana, itu ada semua, arah tembakan pakai benang,” terangnya.

Benny mengungkapkan di TKP temukan lubang-lubang bekas tembakan di dinding rumah di beberapa lokasi seperti di dekat tangga arah ke atas.

“Ada tembakan karena masih ada bekas-bekasnya dikasih tanda, di kasih nomor, dan ditarik benang dari arah mana tembakan. kalau olah TKP kan seperti itu,” ungkap Benny.

Dalam kesempatan itu, Kompolnas menyinggung pelukan antara Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran dengan Irjen Pol. Ferdy Sambo beberapa waktu lalu menjadi masalah karena diekspose.

“Ya itu kan pertemanan, urusan berdua pertemanan. bukan (sesuatu yang salah) tapi karena diekspose jadi masalah,” ujarnya.

 

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...