Business is booming.

Klitih Trending Lagi, Kelompok Pemuda Sabetkan Celurit ke Pemuda Lain di Titik Nol Km Yogyakarta

Sementara itu pada video lainnya terdengar aksi gadung kelompok pemuda tengah tawuran, lalu terdengar suara woi kena bacok itu

Klitih yang pernah trending April tahun 2022 lalu kini trending lagi.

Hal itu karena ada kejadian mirip Klitih di titik nol km Yogyakarta pada Selasa (7/2/2023) petang.

Persisnya terjadi di depan museum Serangan Oemoem 1 Maret, Yogyakarta.

Video tentang dua kelompok pemuda, salah satu dari mereka membawa celurit beredar luas di media sosial.

Para pemuda yang disabet celurit kemudian lari meninggalkan sepeda motornya.

Sementara para pemuda pembawa celurit kabur berboncengan tiga orang.

Tak lama kemudian dua pemuda berboncengan lewat seraya melempar motor yang tergeletak di pinggir jalan.

Diduga mereka merupakan pemuda pembawa celurit.

Salah satu akun twitter yang paling banyak memperoleh respon atas video klitih tersebut adalah akun @RezkyRamadhanz

Ia kemudian membuat caption video: Iki Jogja, Kolombia po Guatemala??

Cuitan dan videonya telah memperoleh 4,024 Retweets 2,464 Quote Tweets dan 13.1K  Likes

“Rung mati ra gayeng ra layak siar,” tulis @bangslots menanggapinya.

“Nunggu di backsound jogja istimewa,” kata @NgatmoMbilung

“GTA san andreas,” ucap @cumaduahuruf menyebut game kekerasan PS yang terkenal.

Sementara itu pada video lainnya terdengar aksi gadung kelompok pemuda tengah tawuran.

Karena terhalang pagar tak terlihat jelas apa yang sedang terjadi.

Baca Juga:  Timnas Indonesia Akan Tampil Serius dalam Laga Kedua Melawan Libya, Ini Alasannya

Hanya saja terdengar suara, “Woi kena bacok itu…”

Kasi Humas Polresta Kota Yogyakarta AKP Timbul Sasana Raharja mengatakan bahwa pihaknya langsung turun tangan melihat kasus klitih tersebut.

Polisi segera memeriksa setidaknya 5 saksi dan mengecek rekaman CCTV.

Lima saksi tersebut di antaranya korban serta pemilik video yang memviralkan peristiwa tersebut.

Kendati demikian, Timbul mengatakan sampai saat ini belum ada laporan resmi dari korban. Namun pihaknya sudah mencari saksi-saksi tersebut berdasarkan rekaman CCTV.

Timbul mengakui adanya tindakan penyerangan menggunakan senjata tajam berjenis celurit seperti terekam dalam video yang beredar. Pelaku beraksi secara acak karena antara korban dan pelaku tidak saling mengenal.

Aksi kejahatan jalanan tersebut berlangsung hari Selasa 7 Februari 2023 sekira pukul 04.00 lebih. Pelaku kurang lebih berjumlah 6 orang berboncengan sepeda motor.

Berdasarkan pemeriksaan saksi, korban dan pelaku bertemu di jalan kemudian korban dipepet hingga terprovokasi.

Aksi Sebelumnya

Sebelumnya sempat muncul wacana penanganan Klitih dengan menghapus istilah tersebut karena dianggap negatif.

Padahal istilah klitih dianggap positif, dan istilah tersebut seolah menjadi kekhasanan yang tak menguntungkan kota.

Persisnya Kota Yogyakarta dan sekitarnya.

Menurut kesimpulan pihak kepolisian, hampir semua kasus klitih berawal dari tawuran kelompok remaja.

Ada pun wacana penghapusan istilah klitih dibagikan akun @txtdrpemerintah.

Akun tersebut membagika capture berjudul “Polda dan Pemda DIY Sepakat Hapus Istilah Klitih untuk Berantas Klitih.”

Nah wacana menghapus klitih pun menjadi perdebatan di kalangan netizen.

Langkah ini dinilai tak substantif.

Usulan penghapusan istilah klitih itu muncul dalam jumpa pers Polda DIY, Selasa (5/4), soal kematian D, pelajar SMA di Kota Yogyakarta yang tewas karena sabetan gir di Gedongkuning, Minggu (3/4).

Baca Juga:  Daftar Lengkap 20 Kolonel yang Promosi Jenderal Bintang Satu

Direktur Direktorat Reserse Kriminan Umum Polda DIY Kombes Pol, Ade Ary Syam Indradi, menyatakan kejadian itu merupakan tawuran dan tak terjadi secara acak.

“Ada proses ejek-ejekan dua kelompok. Dari analisis kami, korban kejahatan jalanan selama tiga bulan ini tidak acak, bukan sembarangan,” kata dia seperti dilansir Mojok.co.

Berdasarkan kronologinya, rombongan pelaku dan korban sempat berpapasan dan saling adu bising suara sepeda motor. Saat kelompok korban berhenti di warung, kelompok pelaku mengucapkan makian.

Kelompok korban pun mengejar, namun anggota kelompok pelaku rupanya balik arah dan melakukan serangan dengan sabetan gir, hingga menewaskan D yang asal Kebumen, Jawa Tengah.

Ade menyebut peristiwa itu sebagai tawuran dan meminta kata klitih tidak digunakan lagi. Sebab klitih sebenarnya bermakna positif dan sesuai kearifan lokal.

“Klitih itu kan artinya jalan-jalan sore, mencari angin, ngobrol-ngobrol. Itu budaya baik. Kalau kejahatan jalanan dengan kata (klitih) ini konotasinya negatif. Dengan istilah itu, kita sendiri yang membuat suasana tidak baik,” ujarnya.

Setelah jumpa pers tersebut, pertemuan juga digelar di kantor Polda DIY, Sleman, Selasa sore, dan dihadiri pihak Pemda DIY dan sejumlah lurah.

Dalam pertemuan ini, seperti disampaikan pihak Humas Pemda DIY, berbagai pihak juga menyepakati penghapusan istilah klitih.

Pertemuan itu sepakat bahwa segala bentuk penyerangan di jalanan tak lagi menggunakan istilah‘klithih’ sebagai terminologi, melainkan kejahatan jalanan.

“‘Klithih’ merupakan bahasa Jawa yang memiliki konotasi yakni mengarah pada kegiatan jalan-jalan sore, mencari suasana dan mengobrol. Sementara penyerangan di jalan raya selalu berkonotasi negatif karena menimbulkan kerugian bagi korban bahkan hingga meninggal dunia,” demikian hasil pertemuan tersebut yang disampaikan pihak Humas Pemda DIY.

Baca Juga:  Prabroro Trending, dari Dialog Anak Kecil hingga Kemenangan Quick Count dengan Angka Tak Terduga

Selain menghapus istilah klitih, Pemda DIY juga meminta warga mematuhi kembali jam belajar masyarakat dan mengaktifkan kelompok Jaga Warga yang beranggota 25 orang di tiap padukuhan.

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...