Business is booming.

Ahok Trending, Dinilai Jadi Lawan Seimbang Bobby Nasution di Pilgub Sumut

Namun saat ditanya di acara rakernas V PDIP, Ahok seolah pesimis menjadi Gubernur Sumut.

Ahok trending. Mantan Gubernur DKI itu diisukan akan dicalonkan oleh PDIP sebagai calon Gubernur Sumut.

Isu itu membuat netizen langsung  menghadapkan Ahok pada menantu Presiden Joko Widodo, Bobby Nasution.

Padahal selain Bobby ada tiga cagub Sumut tabf sudah beredar namanya.

Yakni Edy Rahmayadi, Gubernur Sumut yg sekarang masih menjabat alias petahana.

Edy sudah mengambil formulir pendaftaran bakal calon Gubernur Sumut ke PDIP, PKS, PKB, dan Demokrat.

Sementara itu Bobby Nasution yang kini Wali Kota Medan sudah dipecat PDIP.

Namun ia kini bergabung dengan Gerindra dan Partai Amanat Nasional menyatakan ikut mendukung Bobby maju Pilkada Sumut.

Menantu Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu juga sudah mendapat surat tugas dari Partai Golkar.

Selain Edy dan Bobby ada juga nama Musa Rajekshah alias Ijeck

Ia adalah Ketua DPD I Partai Golkar Sumut dan saat ini menjabat wagub Sumut.

Sama seperti Bobby, Ijeck juga sudah mendapatkan surat tugas dari DPP Partai Golkar sebagai Calon Gubernur Sumut. 

Ijeck juga mendapatkan dukungan dari internal Golkar Sumut untuk bertarung di Pilgubsu 2024.

Ada juga nama Nikson Nababan, mantan Bupati Tapanuli Utara (Taput) dua periode. 

Kader PDIP itu sudah mengambil formulir pendaftaran sebagai Calon Gubernur Sumut ke partainya.

Nah nama Ahok muncul bekalangan.

Sebelumnya ia menyebut tunggu rakernas V PDIP soal pencalonannya.

Baca Juga:  Profil AKBP Hendrik Husen, Alumni Akpol 2003 Tersandung Kasus Ferdy Sambo?

Namun saat ditanya di acara rakernas V PDIP, Ahok seolah pesimis menjadi Gubernur Sumut.

“Enggaklah, saya juga enggak begitu paham Sumut juga,” kata Ahok setelah penutupan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) V PDI-P, Minggu (26/5/2024).

Saat ditanya lagi apakah akan tetap maju Pilkada Sumut jika ditugaskan oleh partai, politisi PDI-P itu menjawab, “Enggaklah, saya kira enggak tugas ke situ.”ketahui keasliannya.

Sementara itu di media massa sudah ada unggahan begini.

“Jika pilkada Sumut 2024  terjadi head to head antara Bobby Nasution vs Ahok. Siapa pilihan kamu?,” tulis @Minnie_imut

“Gaes jika tanpa bansos. Jujur, jika diantara Bobby dan Ahok kalian lebih pilih siapa?,” tulis akun @DS_yantie

Dan nama Ahok tetap banyak yang memilih.

Profil Ahok

Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M.lahir 29 Juni 1966.

Ia lebih dikenal dengan panggilan Hakka Ahok atau inisial BTP.

Ia adalah pengusaha dan politikus keturunan Tionghoa-Indonesia yang menjabat Komisaris Utama PT. Pertamina sejak 25 November 2019. 

Ia merupakan kakak kandung dari Basuri Tjahaja Purnama (Bupati Belitung Timur periode 2010–2015). 

Di dunia politik, ia tergabung dalam Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang terdaftar sebagai anggota sejak 8 Februari 2019.

Basuki memulai karier politiknya dengan bergabung dengan Partai Perhimpunan Indonesia Baru pada 2003, lalu mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan berhasil memenangkan kursi.

Pada Pilkada Belitung Timur 2005, ia diusung sebagai calon Bupati Belitung Timur didampingi oleh Khairul Effendi dan berhasil memenangkan pemilihan dengan perolehan suara 37,13%. 

Karier politiknya cukup gemilang hingga kemudian maju sebagai calon Gubernur Kepulauan Bangka Belitung dengan dukungan penuh dari mantan Presiden Indonesia Abdurrahman Wahid.

Namun, sayangnya ia kalah telak dari pasangan calon Eko Maulana Ali–Syamsuddin Basari.

Baca Juga:  Profil Mayjen TNI Drajad Brima Yoga, Akmil 1992, Asintel Kasad

Partai Golongan Karya (Golkar) menjadi wadah politik baru bagi Basuki untuk mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk daerah pemilihan Kepulauan Bangka Belitung pada Pemilu Legislatif 2009. 

Alhasil, ia memperoleh 119,232 suara, sehingga dapat menduduki kursi legislatif dan duduk sebagai anggota Komisi II.

Pada Pilgub DKI Jakarta 2012, ia digandeng oleh Joko Widodo (Wali Kota Surakarta) untuk menjadi calon Wakil Gubernur DKI Jakarta dengan diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

Ketika pencalonannya, ia berpindah partai ke Partai Gerindra. 

Tak disangka-sangka, perjuangannya tersebut membuahkan hasil dengan presentase 53,82% suara dan dilantik secara resmi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 15 Oktober 2012.[

Pada 1 Juni 2014, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengambil cuti panjang untuk menjadi calon presiden dalam Pemilu Presiden 2014, maka Basuki resmi diangkat menjadi Pelaksana Tugas Gubernur. 

Setelah terpilih dalam Pemilu Presiden 2014, Joko Widodo resmi mengundurkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 16 Oktober 2014. Secara otomatis, ia menjadi Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta.

Nama Basuki mulai dikenal luas oleh masyarakat setelah dirinya menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta yang dilantik pada 19 November 2014 di Istana Negara berdasarkan hasil rapat paripurna istimewa di Gedung DPRD DKI Jakarta.

Acara dilaksanakan pada 14 November 2014 setelah sebelumnya diangkat sebagai Pelaksana Tugas Gubernur sejak 16 Oktober 2014 hingga 19 November 2014 menggantikan Joko Widodo yang menjadi Presiden Indonesia.

Dengan demikian, ia menjadi warga negara Indonesia dari etnis Tionghoa dan pemeluk agama Kristen Protestan pertama yang menjadi Gubernur DKI Jakarta. 

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta pernah dijabat oleh pemeluk agama Katolik, yaitu Henk Ngantung (Gubernur DKI Jakarta periode 1964–1965).

Baca Juga:  Profil Marsda TNI Bambang Gunarto, Alumni AAU 1993, Kini Pangkoopsud 1

Pada 10 September 2014, Basuki memutuskan keluar dari Partai Gerindra disebabkan karena perbedaan pendapat pada RUU Pilkada.

 Partai Gerindra mendukung RUU Pilkada, sedangkan Basuki dan beberapa kepala daerah lain memilih untuk menolak RUU Pilkada karena terkesan “membunuh” sistem demokrasi di Indonesia. 

Hal ini membuat dirinya hilang dukungan dari Partai Gerindra. 

Selanjutnya, ia secara otomatis menjadi politikus Independen. 

Bahkan untuk kembali maju dalam Pilgub DKI Jakarta 2017 sempat berencana mencalonkan diri sebagai calon independen, akan tetapi pada akhirnya ia memutuskan maju dengan koalisi partai politik. 

Ia mencalonkan diri sebagai calon Gubernur DKI Jakarta dengan didampingi oleh Djarot Saiful Hidayat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). 

Tak hanya PDI-P, pasangan calon tersebut diusung pula oleh Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), dan Partai Nasional Demokrat (NasDem), serta didukung oleh Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). 

Pada putaran kedua, ia bertambah dukungan setelah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bergabung dalam koalisi.

Usai melewati pertarungan yang ketat, sayangnya Basuki–Djarot dikalahkan oleh pasangan calon Anies Baswedan–Sandiaga Uno dengan selisih persentase 15.92% suara.

Pasca mengalami kekalahan dalam Pilgub DKI Jakarta 2017, ia justru mengalami nasib yang kurang beruntung. 

Seiring dengan pernyataannya terkait kasus penodaan agama yang menuai kontroversial hingga dilakukan 

Aksi Bela Islam yang dinakhodai oleh Front Pembela Islam pimpinan Muhammad Rizieq Shihab. 

Pada 9 Mei 2017, ia divonis dua tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Pada tanggal 24 Januari 2019, ia telah dibebaskan dari penjara.

Pada tanggal 22 November 2019, Basuki resmi ditunjuk sebagai Komisaris Utama Pertamina.

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...