Business is booming.

Profil Edy Wibowo, Hakim Yustisial MA Ditahan KPK Terseret Suap Rp3,7 Miliar

Edy Wibowo diduga menerima suap secara bertahap mencapai Rp3,7 miliar.

Edy Wibowo dilantik sebagai Hakim Yustisial atau Panitera Pengganti Mahkamah Agung sejak 5 November 2015.

Namun pada Senin (19/12/2022), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadikan Edy Wibowo sebagai tersangka karena diduga menerima suap untuk pengurusan perkara di Mahkamah Agung.

Dugaan suap tersebut berupa pengurusan kasasi Yayasan Rumah Sakit (RS) Sandi Karsa Makassar (SKM). Edy Wibowo diduga menerima suap secara bertahap mencapai Rp3,7 miliar.

“Diduga ada pemberian sejumlah uang secara bertahap hingga mencapai sekitar Rp3,7 miliar kepada EW yang menjabat hakim yustisial sekaligus panitera pengganti MA,” kata Ketua KPK Firli Bahuri dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin (19/12/2022).

Atas dugaan tersebut, KPK menahan Edy Wibowo selama 20 hari untuk keperluan penyidikan mulai 19 Desember 2022 hingga 7 Januari 2023 di Rumah Tahanan (Rutan) KPK Gedung Merah Putih.

Profil Edy Wibowo

Edy Wibowo merupakan alumni S1 Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan (UPH). Dia lulus tahun 2000.

Dikutip dari laman uph.edu, sebelum ini Edy Wibowo menjabat sebagai Asisten Koordinator Kamar Pembinaan MA.

Edy Wibowo juga pernah menjadi Hakim Pengadilan Negeri di Tasikmalaya. Tahun 2015, dia tercatat sebagai Asisten Hakim Agung di MA.

Selain itu, Edy Wibowo juga pernah berkontribusi di beberapa bidang hukum lainnya, misalnya, menjadi tim pemantau dan evaluasi mediasi di Pengadilan Agama Bogor kelas 1A, memberikan pelatihan sertifikasi mediator, dan menjadi pembicara berbagai seminar hukum.

Baca Juga:  Ini Daftar Lengkap Anggota Pasikibraka HUT ke-78 RI, Berasal dari 38 Provinsi

Soal harta kekayaan, Edy Wibowo mencatatkan hartanya sebesar Rp2,4 miliar. Ini merujuk pada laporan harta kekayaan (LHKPN) yang dilaporkan Edy Wibowo ke KPK pada 10 Januari 2022.

Menurut situs e-LHKPN, harta kekayaan Edy Wibowo terdiri dari dua bidang tanah dan bangunan senilai Rp 1 miliar. Lalu, satu unit mobil Chevrolet tahun 2018 senilai Rp 190 juta.

Edy Wibowo juga memiliki harta bergerak lainnya senilai Rp 51.200.000. Kemudian, kas dan setara kas sebesar Rp 1.395.560.189. Sementara, utangnya tercatat Rp 200 juta.

Dengan perincian tersebut, total harta kekayaan Edy Wibowo berjumlah Rp 2.446.760.189.

Jumlah ini sedikit menurun dibandingkan tahun 2020 yang mana Edy Wibowo mencatatkan harta Rp 2,5 miliar. Namun, mengalami kenaikan dibanding tahun 2019 di mana harta kekayaannya tercatat Rp 2,2 miliar.

Awal Kasus dari Suap Hakim Agung Sudrajad Dimyati

Seperti dikutip Kompas.com, KPK menyebutkan penetapan tersangka terhadap Edy Wibowo berawal dari rangkaian penyidikan perkara suap Hakim Agung Sudrajad Dimyati.

Perkara ini berawal ketika PT Mulya Husada Jaya menggugat penundan kewajiban pembayaran utang (PKPU) kepada Yayasan RS Sandi Karsa Makassar. Gugatan dilayangkan di Pengadilan Negeri Makassar.

Majelis hakim pada pengadilan tingkat I tersebut menyatakan Yayasan RS Sandi Karsa Makassar pailit. Merasa keberatan atas putusan ini, pihak RS Sandi Karsa Makassar mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.

Pihak RS meminta agar putusan Pengadilan Negeri Makassar yang menyatakan yayasan tersebut bangkrut ditolak.

Menurut Firli Bahuri, pada Agustus 2022, Ketua Yayasan RS Sandi Karsa Makassar bernama Wahyudi Hardi mendekati dua pegawai negeri sipil (PNS) di MA bernama Muhajir Habibie dan Albasri.

Wahyudi meminta kedua pegawai MA itu memantau dan mengawal proses kasasi yang diajukan Yayasan RS Sandi Karsa Makassar. KPK menduga Wahyudi bersepakat dengan Albasri dan Muhajir untuk kepentingan pengawalan ini.

Baca Juga:  Ahok Trending, Netizen Sorot Gaji Bos-bos Bikin Pertamina Bangkrut?

“Sebagai tanda jadi kesepakatan, diduga ada pemberian sejumlah uang secara bertahap hingga mencapai sekitar Rp 3,7 miliar kepada Edy Wibowo,” ujar Firli.

Adapun suap terhadap Edy diduga diberikan melalui Muhajir dan Albasri. Penyerahan uang dilakukan di MA ketika proses kasasi masih berlangsung.

“Setelah uang diberikan maka putusan kasasi yang diinginkan Wahyudi Hardi dikabulkan dan isi putusan menyatakan RS Sandi Karsa Makassar tidak dinyatakan pailit,” kata Firli.

Di sisi lain, Edy Wibowo melalui pengacaranya, Ahmad Yani, membantah dirinya menerima uang terkait suap pengurusan perkara di MA.

“Tidak terima sama sekali. Memang kayaknya dia disebut nama oleh orang lain, tapi apa buktinya?” kata Yani saat ditemui awak media di gedung Merah Putih KPK, Senin (19/12/2022).

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...