Business is booming.

Perang Thailand-Kamboja Tewaskan Sedikitnya 12 Orang

Perang Thailand-Kamboja berawal dari sengketa berbatasan yang telah berlangsung lebih dari 100 tahun.

Perang Thailand-Kamboja bukan isapan jempol. Hingga Kamis (14/7/2025) setidaknya 12 orang tewas.

Sebagian besar warga sipil Thailand.

Perang Thailand-Kamboja berawal dari sengketa berbatasan yang telah berlangsung lebih dari 100 tahun.

Sengketa itu memanas selama beberapa bulan terakhir.

Dalam perang tersebut roket telah ditembakkan dari Kamboja, dan Thailand telah mengerahkan jet tempur.

Meskipun para pejabat di Bangkok menyalahkan serangan tersebut pada agresi Kamboja, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet mengatakan Thailand melancarkan serangan yang telah dimediasi sebelumnya.

Negara-negara tetangga telah menyerukan de-eskalasi, dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan ia akan berbicara dengan kedua negara pada akhir hari ini.

Direktur Jenderal Taman Nasional Thailand telah memerintahkan pembukaan empat suaka margasatwa dan dua taman nasional agar tentara dapat menggunakannya sebagai pangkalan untuk merencanakan dan merespons Kamboja.

Atthaphon Charoenchansa mengatakan bahwa petugas taman nasional dan suaka margasatwa telah diinstruksikan untuk meninggalkan area tersebut demi alasan keamanan agar perwira militer dapat menggunakannya sebagai pangkalan untuk merencanakan respons.

Taman Nasional Phu Chong Na Yoi, Suaka Margasatwa Yod Dome, dan Taman Nasional Khao Phra Wihan termasuk di antara yang digunakan.

Di beberapa area, petugas taman akan tetap berada di area yang ditutup, karena pengalaman sehari-hari mereka berpatroli di taman dan suaka margasatwa dapat digunakan untuk membantu perwira militer, kata Atthaphon.

Baca Juga:  Blue Moon Ternyata Bulannya Tidak Biru, Netizen Kecewa

Krisis perbatasan Kamboja-Thailand dimulai pada Juni 2008 hingga Desember 2011 sebagai bagian dari sengketa yang telah berlangsung selama satu abad antara Kamboja dan Thailand.

Senketa melibatkan wilayah di sekitar Kuil Preah Vihear abad ke-11, di Pegunungan Dângrêk antara Distrik Choam Khsant, Provinsi Preah Vihear di Kamboja utara dan Distrik Kantharalak, Provinsi Sisaket di Thailand timur laut.

Menurut duta besar Kamboja untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, sengketa terbaru dimulai pada 15 Juli 2008 ketika sekitar 50 tentara Thailand bergerak ke sekitar Pagoda Keo Sikhakirisvara yang ia klaim terletak di wilayah Kamboja sekitar 300 meter (980 kaki) dari Kuil Preah Vihear.

Thailand mengklaim bahwa demarkasi belum selesai untuk bagian luar area yang berdekatan dengan kuil, yang diputuskan sebagai wilayah Kamboja oleh keputusan Mahkamah Internasional (ICJ) dengan suara sembilan banding tiga pada tahun 1962.

Pada bulan Agustus 2008, sengketa telah meluas ke kompleks kuil Ta Moan abad ke-13 yang terletak 153 kilometer (95 mil) di sebelah barat Preah Vihear (14°20′57″LU 103°15′59″BT), di mana Kamboja menuduh pasukan Thailand menduduki kompleks kuil yang diklaimnya berada di tanah Kamboja.

Kementerian Luar Negeri Thailand membantah adanya pasukan yang memasuki area tersebut hingga beberapa orang tewas dalam sebuah bentrokan pada bulan April 2011.

Sebuah kesepakatan dicapai pada bulan Desember 2011 untuk menarik pasukan dari wilayah yang disengketakan.

Kawasan candi Preah Vihear telah menjadi bahan perdebatan di Kamboja dan Thailand sejak akhir abad ke-19.

Kompleks candi ini dibangun pada abad ke-9 dan ke-10 Masehi di bawah naungan Kekaisaran Khmer.

Ketika kekaisaran mencapai puncak kejayaannya dan mulai mengalami kemerosotan,

Kerajaan Ayutthaya mulai berkembang menjadi negara Thailand modern. Siam dan Vietnam berekspansi ke wilayah Kamboja secara bergantian selama era Ayutthaya, Thonburi, dan Rattanakosin.

Baca Juga:  Dipecat Sebelum Disidang, Karier Brigadir ARG sebagai Anggota Polri Tamat, Kepemilikan Sabu-sabu Mencoreng Institusi

Perjanjian Prancis-Siam tahun 1867 memaksa Siam untuk melepaskan kedaulatannya atas Kamboja, kecuali Provinsi Battambang, Siem Reap, Banteay Meanchey, dan Oddar Meancheay,yang telah resmi menjadi bagian dari Kerajaan Siam.

Dalam kunjungan kenegaraan Raja Rama V ke Prancis pada tahun 1904, Siam setuju untuk menyerahkan keempat provinsi tersebut kepada Prancis dengan imbalan mendapatkan kembali kedaulatan Thailand atas Provinsi Trat dan Amphoe Dan Sai di Provinsi Loei, yang telah diduduki Prancis.

Orang Lain Juga Baca
Komentar
Loading...